LBM Menulis: Apa Kata Juri LBM Menulis ^^

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih banyak bagi semua teman-teman yang telah berpartisipasi dalam kegiatan LBM Menulis. Sekarang kami ingin menyampaikan pesan yang diberikan oleh juri LBM Menulis untuk teman-teman BM. Juri dalam kegiatan ini adalah mahasiswa UPI yang merupakan anggota dari UKM Leppim UPI. Kami yakin penilaian yang diberikan oleh mereka sangat objektif mengingat mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang menulis. Berikut pesan dan kesan dari mereka🙂

1.      Ade Suyitno (Pendidikan Ekonomi 2009)

Pendiri Indonesian Creative Youth (ICY)
dan Sekolah Alam Kreatif (Creative Nature School) Bandung

adesuyitno@gmail.com

Pesan dari Kang Ade Suyitno:

–          Menulis adalah ilmu wajib karena nanti akan digunakan dalam skripsi

–          Menulis adalah cara termudah untuk berprestasi

–          Mulai menulis dengan tulisan sendiri jangan copas

–          Jika ide menulis mentok maka perbanyaklah membaca.

2.      Muhamad Patoni (Pendidikan bahasa dan sastra UPI 2010)

Penggiat sanggar budidaya linguistik.

Member of linguistic society of indonesia.

muhamadpatoni19@gmail.com

Pesan dari Kang Patoni:

Membaca cerpen-cerpen dari para peserta, timbul letikan pemikiran bahwa minat untuk menulis terutama dalam fiksi memang besar di kalangan mahasiswa. Potensi yang dimiliki memang cukup banyak, apalagi bila terus diasah dan mencoba dipublikasikan ke media akan lebih baik lagi.

Saya ucapkan selamat untuk pemenang. Penilaian ini tidak semata-mata hanya dari subjektif penilai, tetapi dilihat pula dari bagaimana format penilaian yang diberikan panitia. Disamping itu, juga ada beberapa yang mesti diperhatikan dalam menentukan cerita yang bagus. Secara umum, cerpen-cerpen yang saya baca bisa dikatakan cukup baik untuk sebuah cerita. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis cerpen. Dari cerpen-cerpen yang sudah saya baca, hal yang perlu diperhatikan di antaranya yakni sebagai berikut:

  • EYD

Permasalahan yang sering timbul adalah terdapat beberapa kata yang salah tik. Selain itu ada pula yang salah menggunakan kata dalam sebuah kalimat, seperti “mengecam pendidikan”, seharusnya kata yang digunakan adalah “mengenyam”, berasal dari kata “kenyam” yang berarti “merasai”. Kemudian, banyak penulis yang tidak tepat menggunakan awalan di-, apakah sebagai preposisi atau sebagai imbuhan. Pemakaian tanda petik untuk menunjukan dialog dan penulisan dialog juga masih ada beberapa yang keliru.

  • Penulisan Judul dan Nama Pengarang

Aturan penulisan judul dan pengarang bisanya, judul kemudian nama pengarang. Ada beberapa yang judul saja.

  • Pengembangan Tema

Pengembangan cerita yang sesuai dengan tema sudah cukup baik, tetapi ada beberapa yang keluar dari tema. Misalnya ada yang melenceng ke arah tema cinta, ada juga yang malah menjadi sebuah esai nasihat.

  • Tahapan Plot

Tahapan plot biasanya; pembuka cerita berisi 5-10%, bagian tengah 80-90 %, dan bagian akhir 5-10%. Rata-rata pengembangan plot tidak banyak mengikuti kaidah struktur plot. Ada yang plotnya datar-datar saja.  Untuk pemgembangan plot yang baik, harus memperhatikan kalkulasi pembaca, artinya pembuka cerita dan bagian tengah cerita harus sesuai dengan penutupnya. Jangan sampai pembaca merasakan efek yang “biasa-biasa” saja atau cenderung bingung dan menilai ceritanya mengada-ada dan terlalu “kacangan”. Karena seorang pembaca ketika membaca awal cerita dalam benaknya akan timbul praduga akhir cerita akan bagaimana. Selain memerhatikan pembuka cerita, perlu diperhatikan pula cara menutup cerita, apakah akan secara tertutup, terbuka, lembut, dan keras. Hal tersebut bergantung pada efek apa yang penulis harapkan dari pembaca.

  • Isi cerita harus fiktif meski bersumber dari kisah nyata

Saya tahu bahwa tema cerita berkisar Bidik Misi, penulis akan membuat cerpen yang idenya berasal dari bidik misi. Umumnya, cerpen-cerpen bercerita mengenai pengalaman pribadinya mendapatkan beasiswa bidik misi. Hal yang perlu diperhatikan adalah kefiktifan cerita. Meski bersumber dari pengalaman nyata, sisi fiktif harus dikedepankan. Jangan sampai pembaca yang membaca cerpen, merasa seperti membaca sebuah “curhatan” pengalaman. Cerita yang fiktif tanpa meninggalkan kesan kenyataan bisa dibuat dengan cara pengembangan imajinasi dan deskripsi yang menarik, menggunakan kalimat yang puitis di beberapa bagian, dan logis, ceritanya tidak dibuat sebagia peristiwa kebetulan.

Dari beberapa catatan tersebut, bukan berarti saya berusaha untuk menggurui, sama sekali tidak. Hal ini semata-mata hanya lampiran penilaian, bahwa untuk menilai suatu cerita pun memang ada kaidah-kaidahnya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, semoga ini bermanfaat, tidak menjadikan para penulis menjadikan merasa rendah diri, tapi saya harapkan semangat untuk menulis dan terus mengasah kemampuan menulis semakin tinggi. Selamat untuk pemenang dan terus berlatih untuk menghasilkan cerita yang lebih bagus.

Terima kasih.

Waaah setelah membaca pesan diatas semakin termotivasi kan untuk menyukai kegiatan tulis menulis? ^^
Seperti slogan 3M Aa Gym: Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari hal yang kecil dan Mulailah Sekarang Juga!

Mari kita budayakan menulis dan buat dunia bangga dengan tulisan kita.

Selamat Menulis!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s