LBM Menulis: Untaian Seindah Mutiara by Ana Sopian (Cerpen)

images (1)

Untaian Seindah Mutiara

(Cerita fiksi ynag diilhami dari peristiwa nyata)

Oleh: Ana Sopian, Mahasiswa FPMIPA

Langit begitu biru, memberikan kesan cerah dan harapan, serta awan yang berjalan-jalan perlahan penuh siratan ketenangan. Namun tidak disini. Tidak dengan lelaki yang ada di sudut sana, dengan kemeja putih bergaris yang sudah dua kali Idul fitri ia mengenakannya, yang memang terlihat matching dengan rambut yang hampir semua memutih. Entahlah apa sudah dari tadi ia terus berdiri dengan gaya khasnya, yakni dengan menyimpan kedua tangan di punggung dengan posisi tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri? Entahlah. Karena sebenarnya ia b isa duduk pada pelataran tembok  yang tidak tinggi dekat parkiran yang memang sepertinya diperuntukkan bagi orang yang ingin duduk-duduk di depan gedung.

Ya, mungkin hatinya sedang tidak tenang. Tidak tenang menunggu. Menunggu seseorang yang masuk ke ruangan yang tidak bisa ia antar lagi karena kakinya sudah tak mampu untuk turun naik-tangga, tubuhnya sudah tak sanggup untuk kesana-kemari setelah ia hilir-mudik PKM-BAAK. Memang, selain faktor usia, dirinya pun sekarang sudah mulai sakit-sakitan. Kalau bukan demi buah hatinya tercinta, harapan  keluaga, tidak akan ia paksakan untuk menempuh tiga jam perjalanan untuk menghadiri interview direktorat dan proses lain terkait advokasi mahasiswa. Ya peupeuriheun dia tidak bisa bantu anaknya lebih lagi, apa boleh buat. Selain itu, ia pun measakan bagaimana rasanya kalau semangat menuntut ilmu dibendung oleh orangtua hanya karena tidak ada dana.

Ia sempat mengutarakn rasa sesak dan kecewa pada dirinya sendiri, ia merasa gagal sebagai ayah, tidak bisa membantu apa-apa pada anaknya.  Namun ia salah besar, karena di mata kami,   justru ia adalah ayah yang begitu luar biasa teladan yang tiada duanya. Bagiamana  perjuangannya pada keluarga di tengah sakitnya, juga pengorbanannya, serta sikapnya selalu mendahulukan orang lain, tidak hanya pada kelurga, tapi orang lain yang tak dikenalnya sekalipun.  Bahkan, bagaimana sikapnya saat dizalimi orang lain, tak pernah membuatnya kapok untuk berbuat baik pada yang lain, senantiasa melekat pada diri kami untuk kami teladani.

“Plak.” Seseorag menepuk pundakku.

“Ayo, kenapa berjalan pelan-pelan? Sebentar lagi dimulai nih.”, ucapnya. Namun, aku hanya tersenyum, karena tak tahu harus jawab apa.

“Di depan parkiran itu tak ada siapa pun, Teh.”  Sambil melirik ke arah parkiran.

Aku pun melihat kembali parkiran BAAK sana, namun tatapanku jauh menerawang.

“Ibu dan adi-adik sehat khan teh?”

“Alhamdulillah, sehat.”

“Teteh yang sabar ya.. Teteh pasti bisa..”, ucapnya lembut sambil tersenyum.

Seketika itu pula, berrrrr.. Seolah ada angin semilir yang mengelilingi tubuh ini. Menyusup ke ruang antarsel. Betapa sejuknya.  Itulah senyumnnya yang selalu aku rindukan. Dimana pun aku bertemu dengan mereka atau salah satunya, seolah ada tambahan ATP yang mengalir di setiap sel tubuhku, yang membuat setiap sel-sel ototku semangat untuk berkontraksi. Ya, itulah keluargaku di kampus ini.

Keluargaku ini begitu peduli akan teman-teman dan program bidikmisi ini. Keluargaku ini begitu semangat untuk membentuk suatu wadah komunikasi untuk membentuk mahasiswa bidikmisi yang potensial dan solid, dan  berharap ke depannya menjadi semakin fungsional, serta berarti bagi kampus dan masyarakat.

Ya, harapan itu mulai diwujudkan pada pertengahan Desember itu. Diawali oleh niat mulia untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain sebagai bentuk syukur, sebagian besar mahasiswa bidikmisi berkumpul dan menyepakati untuk membentuk sebuah forum. Karena kami sadari,  kami memiliki kebutuhan yang sama akan beasiswa ini sehingga perlu adanya wadah untuk saling berkomunikasi, berbagi informasi, dan memiliki kekuatan pasti untuk berani bermimpi. Hingga lahirlah Forum Silaturahmi Bidikmisi UPI, dengan ketua dari Jurusan Psikologi. Kemudian,  dibentuk enam orang pengurus inti di bawah ketua umum. Selanjutnya dibentuk ketua departemen saat silaturahmi akbar, hingga mumadiksi yang melahirkan nama “Lingkar Bidik Misi (LBM) UPI”. Hingga tiba pergiliran ketua yang ke-2d, yakni mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Ekonomi.

Organisasi yang dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa baru, oleh anak-anak yang baru lulus SMA, tentu tidak akan langsung sempurna, tidak akan langsung stabil, namun seiring berjalannya waktu harus mengalami beberapa pembenahan, banyak yang harus diperbaiki. Jadi, jika ada kecacatan sudah sepatutnya disampaikan. Bukan dipendam atau disebarluaskan ke luar. Pengurus pun sebenarnya tidak pernah tertutup atau merasa eksklusif, karena pengurus  membutuhkan semuanya, butuh dukungan, dan partisipasi aktif mahasiswa bidikmisi.

“Assalamu`aalikum…”

“Wa`alaikumussalam..”

“Eh Teh.. sehat khan Teh?”

“Alhamdulillah.. terima kasih ya doanya..”

“Yang sabar ya Teh. Ayah Teteh sudah tenang, dan sudah senang di dekat-Nya”

“Aamiin… terima kasih ya Pa Ketu..”

“Iya terima kasih juga sudah berkumpul kembali, Teh. (Kemudian wajahnya berbalik pada teman-teman yang lain). Terima kasih juga teman-teman telah in time, tapi kita tunggu Kadep Humas  ya, sampai waktu telah kita sepakati.”Ucap Ketua LBM.

Ya memang begitulah seharusnya, rapat bukan lagi harus saling menunggu, tidak lagi ada anggapan bahwa rapat akan terlambat, namun bagaimana setiap anggota memposisikan diri, bahwa dirinyalah yang paling telat, bukan menyangka-nyangka bahwa teman-teman akan terlambat.

“Itu dia”. Ucap salah seorang menunjuk orang yang lari-lari dekat PKM yang menuju ke depan Isola.”

Ya, itu dia kadep Humas yang tengah berlari-lari mengejar waktu rapat yang lima menit lagi akan dimulai. Ia adalah kadep yag bertanggungjawab atas penyebaran informasi ke mahasiswa BM. Ia juga yang penanggungjawab akan facebook dan web LBM. Ya, facebook yang ramai terutama saat awal bulan, oleh pertanyaan seputar  pencairan.

Tidak salah juga, setidaknya mereka masih menyapa pengurus. Selain itu, memang uang bidikmisi ini adalah sumber satu-satunya sebagian besar dari mereka, karena tidak sedikit mahasiswa LBM yang sudah terputus dari keuangan orangtua, malahan ada yang harus memberi pada orangtuanya. Walau memang tidak dipungkiri, ada pula teman BM yang keadaannya tidak masuk kategori penerima BM. Dalihnya karena tidak mau merepotkan orangtua, ia ingin berbakti pada orangtua. Memang niatan yang mulia, tapi jika orangtua masih bisa, kenapa tidak? Bukankah itu lebih baik daripada mengambil hak orang yang membutuhkan?  Menurut kaidah ushul fiqh, menghindarkan madharat lebih baik daripada mengambil manfaat. Karena program bidikmisi mengandung misi dari pemerintah, sebagai salah satu upaya pemutus rantai kemiskinan. Karena pemerintah sadar betul, pendidikan akan bisa mengubah pola pikir yang akan berdampak pada perubahan kebiasaan, yang akan merubah karakter, hingga brdampak pada perubahan hidup lebih baik lagi.

Seperti halnya diriku juga. Tidak mungkin aku seperti sekarang jika aku tidak menginjakan kaki di sini. Sungguh suatu kebahagiaan yang luar bisa pula, bisa menjadi jalan bagi yang lain, jalan bagi keluarga besar untuk memiliki cita-cita yang tinggi, jalan bagi adik-adik di kampung untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, untuk hidup lebih baik, juga jalan bagi masyarakat untuk memiliki paradigma bahwa uang bukanlah segalanya, namun cita-cita dan usaha keinginan untuk berjuanglah yang utama.

Ya, cita-cita yang bulat dan yakin, serta kesabaran dalam perjuangan. Seperti dahulu, kalau tidak ingat cita-cita, hari ini aku sudah bekerja di perusahaan optik, juga kalau bukan karena kesabaran, aku sudah menyerah menjalani rangkaian panjang advokasi, yang mengharuskan aku dan beberapa teman lain sit in di kelas dalam beberapa pekan dengan keadaan No NIM. Ya, begitu sulitnya.

Semua perjalanan panjang itulah yang harus bisa menguatkan aku. Bagaimana perih dan sulitnya. Maka, saat di kampus, sungguh tak ada waktu untuk menyia-nyiakan waktu. Setiap waktu adah ilmu, karena aku kesini adalah untuk menutut ilmu. Namun, tentu yang perlu diingat adalah ilmu itu milik siapa? Ilmu adalah milik Allah, jika ingin mendapatkan imu berarti harus mendekat pada Allah, sang pemilik.

Adapun pengertian ilmu disini bukan hanya pelajaran di bangku kuliah. Karena, organisasi pun termasuk menuntut ilmu. Jika niat berorganisai bukan karena ingin mencari pengaruh atau kedudukan, namun semata-mata ingin bermanfaat, dan ingin mempermudah orang lain, maka aku yakin Allah akan membuatku mudah dalam meyerap ilmu, dan efektif dalam belajar.

“Tapi, ini konsepnya masih prematur, kang.” Terdengar ucapan ketua yang sedikit meninggi, walau wajahnya terlihat tenang.

“Prematur, bagaimana? Ini sudah jelas. Saya juga telah memulai ini. Banyak juga mahasiswa BM yang peduli, dan appreciate.”

Obrolan yang tadinya hangat, jadi memanas.

“Bagaimana mungkin sudah dimulai sedangkan akang tidak pernah menjelaskan pada saya.”

“Bukannya saya sudah bilang saat rapat kerja? Saya tidak bisa seperti ini. Tiba-tiba saja dihentikan.Semuanya telah saya korbankan untuk ini.”

Tak lama dari itu, kami berpisah dalam keadaan tidak mengenakan. Tapi, sepertinya hanya salah faham belaka. Tidak ada yang salah dari masalah ini. Ini adalah bagian dari pendewasaan diri dan organisasi. Aku tahu bagaimna mereka. Mereka adalah orang yang punya komitmen kuat pada forum. Tapi, memang mereka punya pikiran masing-masing yang sama kuat. Aku yakin, mereka hanya butuh duduk bersama lagi setelah semuanya dingin, dan musyawarah dengan pengurus yang lain. Namun, keduanya pun harus saling memahami, juga semua pengurus, yang memahami kebaikan dalam kedua pandangan, dan memilih yang lebih baik, dan sedikit resikonya. Selain itu, harus bijak dan menerima segala hasil musyawarah. Karena hasil musyawarah itu, jika benar dapat poin 2, jika salah 1. Sedang jika pendapat sendiri, benar 1, dan salah 0.  Terlebih jika ada kesalahan dalam organisasi, bukan karena seseorang, tapi itu adalah kesalahan bersama, dan tanggung jawab bersama, karena organisasi layaknya satu tubuh.

Yah, semoga segera membaik. Semoga Ketua bisa sering menyapa, dan Kadep pun bisa curhat.

Setelah beberapa hari dilewati dengan tidak enak pikir, aku melihat dua orang di depan gedung pascasarjana.

“Itu seperti Ketua dan Kadep.”

Subhanallah. Betapa terharunya aku,5 hari yag lalu mereka keras-kerasan dalam berbicara. Sedang kini, mereka berpapasan dan saling menyapa, mereka salam sambil berjabat tangan dan saling memeluk, seperti yang dicontohkan rasul saw. jika bertemu shahabatnya. Semoga ini pertanda baiknya mereka, dan kembali solidnya LBM.

Sesungguhnya hanya Allahlah yang menyatukan hati-hati, jika setiap orang  membelanjakan seluruh hartanya, tidak akan ada yang bisa menyatukannya. Sungguh karunia yang tak ternilai, bisa merasakan salah satu ni`mat surga di dunia, yakni persaudaraan. Persaudaraan ini merupakan untaian seindah utiara, malahan lebih indah dari itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s