LBM Menulis: Terima dan Bertahan by Afri Irawan (Cerpen)

Palestinian youth prays on street outside destroyed mosque in Mughraqa

Terima dan Bertahan

Malam itu, saat aku termenung, hp-ku berdering. Aku buru-buru mengambil hp-ku dan langsung membuka pesan dari temanku.

“ Selamat anda lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) undangan. Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.”

Aku langsung membalas pesan itu

“ Yang benar Nil.?”

Danil membalas kembali

“ Iya benar, selamat ya…”

“ Terima kasih. Kamu lulus tak..?”

“ Aku tak lulus, sekali lagi, selamat ya..”

Aku terdiam, bingung, dan langsung menghempaskan badan di kasur. Aku masih belum percaya kalau aku lulus SNMPTN. Sesaat aku terdiam, hp-ku bergetar kembali. Ternyata Irul yang mengirim pesan yang isinya sama seperti pesan dari Danil. Aku tidak kegirangan layaknya anak SMA yang baru mendengar pengumuman kelulusan Ujian Nasional. Aku malah bingung dan tak tahu harus berbuat apa.

“ Pak, kata teman, aku lulus SNMPTN undangan di UPI Bandung.” Aku mengadu kepada bapak.

“ Oh ya syukur kalau begitu, coba besok cek lagi ke warnet.”

Keesokan harinya aku pergi ke warnet untuk memastikan pengumuman kelulusan SNMPTN undangan yang diumumkan secara online. Ternyata benar pesan yang dikirimkan temanku tadi malam. Aku lulus SNMPTN undangan dan ditetapkan sebagai pelamar Bidik Misi. Aku bingung dan ragu. Haruskan aku terima atau tidak. Karena yang lulus bukan pilihan pertama, melainkan pilihan ketiga, yang merupakan pilihan alternatif.

Kemudian aku diperintahkan mengisi biodata online yang sudah disediakan. Ketika sudah selesai dan melengkapi kolom terakhir, aku terkejut. Dalam persyaratan dituliskan, peserta yang diterima di UPI harus registrasi dengan membayar uang registrasi sebesar Rp. 10.xxx.000, dengan batas waktu yang telah ditentukan. Dan waktu itu ternyata hanya seminggu lagi. Aku semakin bingung dan ragu, dari mana uang sebanyak itu diperoleh dalam waktu seminggu. Belum lagi mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat dari Batanghari menuju kota Bandung. Semuanya harus dipersiapkan dalam waktu sesingkat itu.

Sesampainya dirumah, aku menceritakan semua berita itu kepada orang tuaku. Ternyata orang tuaku, terutama bapak, menyikapi hal itu dengan penuh ketenangan. Tidak seperti aku.

“ Ya sudah, nanti kita usahakan sama-sama untuk semua itu, yang penting kamu mau kuliah dengan baik, dimanapun itu tempat kuliah kamu, itu sudah membuat bapak dan ibu cukup senang. Besok kamu pergi ke kepala desa dan kantor kecamatan, dan urus semua persyaratan untuk Bidik Misi. Semoga saja dapat rizki untuk itu.”

Aku pergi ke kantor kepala desa untuk mengurus surat-surat yang diperlukan dalam melamar Bidik Misi.

“ Nah sudah selesai, sekarang ke kantor camat ya, Minta tanda tangan pak camat, cantumkan dikolom ini.” Kata kepala desa, seraya menunjukan kolom tanda tangan kecamatan.

“ Baik pak, terima kasih pak atas semuanya.”

“ Ya, ya, sama-sama semoga kuliahnya lancar ya ri.”

Aku berbegas pergi ke kantor kecamatan, dengan mengendarai motor. Jarak dari desaku ke kentor kecamatan lumayan jauh, berjarak kira-kira 30km. Dengan melewati beberapa pedesaan, dan hutan-hutan yang sepi, sampailah aku di kantor kecamatan. Dan ternyata, pak camat sedang ke ibukota kabupaten.

“ Bapaknya sedang ada acara di Muara Bulian, jadi silahkan saja datang kesana. Hubungi saja nomor hp ini, Dia yang menemani bapak, pasti akan membantu.”
Aku menghela nafas panjang. Sudah menenpuh perjalanan jauh, dan orang yang dituju tidak ditempat.

Dengan keadaan motor tanpa plat nomor polisi, dan aku tidak mempunyai SIM, aku memutuskan untuk menyusul pak camat ke Muara Bulian. Dan jarak yang harus ditempuh lebih jauh, sekitar 45km. apapun yang terjadi, aku harus mendapatkan tanda tangan kepala kecamatan. Walaupun jauh jarak yang harus ditempuh, aku harus berbuat untuk kelancaran kuliah.

<<<<>>>>

Tepat pada tanggal 25 Mei 2011, aku beserta keluargaku harus meninggalkan kampung halaman dan bertolak dari Batanghari, Jambi menuju Kota Bandung, dari pulau Sumatera menyeberangi Selat Sunda, menuju pulau Jawa.  Dan akupun harus meninggalkan seseorang yang aku kenal saat upacara 17 Agustus, untuk jangka waktu lama. Perjalanan ini menggunakan mobil travel dan memakan waktu dua kali siang dan dua kali malam. Deni, adikku yang masih berumur tiga tahun, sepertinya dia senang sekali bepergian naik mobil. Terlihat dari raut wajahnya dan selalu berkomentar terhadap sesuatu yang dia lihat selama perjalanan.

Setelah melakukan perjalanan di pulau Sumatera selama sehari, kini tiba saatnya untuk menyeberangi selat Sunda. Semua penumpang yang akan menyeberang, naik ke kapal laut yang sangat besar. Kapal itu dapat memuat puluhan orang, dan mobil-mobil yang akan ikut menyeberang selat.

Beberapa saat kemudian, kapal mulai berlayar. Menyeberangi selat Sunda memerlukan waktu kurang lebih tiga jam. Kapal berada tepat ditengah-tengah selat. Suasana laut yang sepi,. Hanya terdengar air laut yang bergemuruh dipecah oleh laju kapal. Tidak terlihat lagi pulau Sumatera. Hanya terlihat hamparan air laut yang bergelombang.

“ Den, lihat apa yang berkedip-kedip diseberang sana.” Aku menunjuk sesuatu.

“ Itu kunang-kunang ya a.” Deni menjawab dengan polos.

“ Haha, kunang-kunang kok warna merah ?.”

“ Jadi, itu apa dong.?”

“ Itu lampu mercusuar yang berkedip, yang ada di pelabuhan Merak.”

“ Pelabuhan Merak ? berarti diatas lampunya ada burung merak ya a ?”

“ Haha, bukan, Merak itu nama sebuah pelabuhan di Banten. Nanti kita akan ke pelabuhan itu. Ya sudah, tidur sama mamah tuh, dingin..”

“ Ya deh. Aa gak tidur ?”

“ Aa nanti saja kalo sudah sampai. Mau lihat-lihat pemandangan laut, sambil menikmati angin laut yang dingin.” Sebenarnya apa yang mau dilihat ditengah laut malam hari. Hanya ada lampu mercusuar diseberang, dan kapal lain yang juga akan menyeberang.

Tengah malam kami sudah merapat di pelabuhan Merak. Setelah istirahat dan makan di pelabuhan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kami tidak langsung menuju ke kota Bandung, tetapi akan bersilaturahmi dengan keluarga yang ada di Cianjur dan di Sukabumi. Pagi hari kami sampai di Cianjur, dan langsung berkunjung ke rumah keluarga.

Setelah beberapa hari di Sukabumi dan Cianjur, tiba saatnya untuk pertemuan mahasiswa baru yang lulus seleksi SNMPTN undangan, di gedung Balai Pertemuan UPI. Ketika sampai di kampus UPI, aku sangat kaget. Ternyata kampus UPI sangat luas, bangunannya tinggi, dan indah, tak seperti yang ku bayangkan. Aku akan kuliah dikampus yang megah ini.

Aku masuk ke gedung pertemuan. Tak ada yang aku kenal didalam gedung ini. Ketika duduk, aku berkenalan dengan orang ada dikanan, kiri, depan, dan belakangku. Banyak sekali mahasiswa disini. Beberapa saat kemudian, pengenalan kampus UPI dimulai. Aku mendengarkan semuanya dengan serius.

“ Hei,,serius amat dengerinnya.” Teman yang baru kenalan tadi menyenggolku.

“ Hehe, gak pa pa lah, seru dengerinnya.“

Aku terus menyimak penjelasan-penjelasan tersebut sampai selesai. Setelah selesai aku keluar ruangan, dan langsung dibawa oleh kakak-kakak tingkat Biologi. Disana aku diperkenalkan tentang jurusan sampai selesai diwaktu sore hari. Aku pun langsung menenui kembali bapakku.

“ Bagaimana pertemuan tadi.?” Bapakku bertanya.

“ Untuk yang melamar Bidik Misi besok kesini lagi pak.”

“ Wah gitu ya, harus bolak-balik dari Cianjur ya kalau gitu.”

“ Gak usahlah pak, nginap dikost kakak tingkat waktu SMA yang sekarang udah setahun kuliah disini. Sayang ongkosnya pak.”

“ Oh ya sudah, coba hubungi dulu.”

Aku menunggu hari esok dengan bermalam dikost kakak tingkat itu.

Keesokan harinya aku kembali ke gedung Balai Pertemuan. Kali ini semua penjelasan yang berhubungan dengan Bidik Misi.

“ Bagaimana pertemuan tadi.?” Bapak kembali bertanya.

“ Jadi, kita harus menunggu dulu pengumuman tentang mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa Bidik Misi. Nah, kalau terdaftar sebagai mahasiswa Bidik Misi, dibebaskan dari uang registrasi, uang smester, dan dapat uang bekal untuk hidup tiap bulannya.”

“ oh,,begitu, semoga saja terdaftar ya nak, kapan pengumumannya.?”

“ Ia pak, amin, masih lama pengumunannya. Jadi sekarang pulang dulu ke Cianjur. Nanti pengumumannya lewat SMS dan internet.”

Aku kembali ke Cainjur. Sambil menunggu pengumuman tersebut. Aku tinggal bersama saudaraku. Dan saat itu, orang tuaku kembali lagi ke Batanghari, Jambi. Tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Sore ini, saat matahari mulai rebah diperaduannya, aku termenung ditepi sungai, dan duduk memandangi aliran air sungai yang gemericik menghempas batu-batu. Hp-ku berdering. Ternyata ada sebuah pesan dari Lingkar Bidik Misi (LBM). Aku buru-buru membuka pesan itu.

“ Berdasarkan SK Rektor, Ari Fahriandi lulus dan terdaftar sebagai mahasiswa Bidik Misi Universitas Pendidikan Indonesia. Selamat berprestasi untuk negeri.”

Aku langsung menelpon orang tuaku dan memberitahu kabar gembira tersebut.
“ Alhamdulillah kalau begitu. Perbanyak bersyukur kepada Allah. Semoga kuliah kamu lancar dan selalu diberi kemudahan ya nak.”

Akhirnya aku bisa merasakan kuliah tanpa harus membebani orang tuaku. Walaupun Biologi bukan pilihan pertamaku, tetapi aku harus menerima semua ini dengan ikhlas. Karena semua ini telah direncanakan Allah SWT. Dan aku harus bertahan pada pilihan Allah SWT. Dia-lah yang lebih mengetahui segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s