LBM Menulis: Tekad dan Pengorbanan Dissa by Dessy Indriani (Cerpen)

if you can dream it...

Tekad dan Pengorbanan Dissa

Dissa, adalah nama yang dianugerahkan oleh kedua orang tuanya yang sangat setia dengannya, sampai saat ini. Dissa adalah seorang mahasiswi yang baru menginjakkan kakinya pertama kali di kota Bandung. Kota yang hanya dia ketahui dari guru sejarahnya, selama Dissa masih berada di sekolah menengah atas di tempat kelahirannya. Yah, Dissa tidak pernah berpikir untuk bisa melanjutkan kuliah, apalagi menjalani kuliah di luar pulau. Tapi nasib berkata lain, sebelum Dissa lulus dari sekolah menengah atas dia bersama enam orang temannya ditawari oleh guru bimbingan konselingnya untuk mendaftar beasiswa yang bernama “Bidik Misi”. Dissa masih bertanya-tanya dalam hati, “apa itu beasiswa Bidik Misi?”, dan pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata  beasiswa, kuliah, dan dia juga memikirkan bagaimana hasil ujian nasionalnya.

Satu minggu kemudian. Ini adalah hari yang mendebarkan dan sangat ditunggu-tunggu oleh Dissa, bagaimana tidak karena hari inilah yang akan menentukan hasil belajarnya selama tiga tahun yang penuh dengan kenangan, suka dan duka. Hari ini juga adalah hari yang menentukan bagi Dissa apakah dia bisa ikut mendaftar beasiswa Bidik Misi, seperti yang diajukan oleh guru bimbingan konselingnya minggu lalu.

Dissa mengenakan seragam putih abu-abunya di hari kelulusannya. Dari jauh Dissa melihat sosok ibunya yang mengenakan baju muslim berwarna coklat, baju yang selalu dikenakan ibunya di saat hari raya Idul Fitri dan menghadiri undangan dari sekolah. Dissa begitu sedih melihat ibunya yang hanya memakai baju yang itu-itu saja, tidak seperti orang tua teman-temannya. Dalam hati Dissa berjanji, apabila nanti dia jadi orang sukses “dia akan membahagiakan orang tuanya”.

Setelah ibu Dissa masuk dan menyalami tangan gurunya, Dissa bergabung bersama teman-temannya yang juga menunggu pengumuman hasil ujian. Dissa pun mengobrol dengan teman dekatnya, Apri.

“Apri, aku deg-degan nih, gimana ya hasil UAN aku?” ujar Dissa dengan muka cemas.

“Sama Dis, aku juga deg-degan takutnya gak lulus.” Apri pun memperlihatkan kecemasannya.

“Berharap yang terbaik aja deh, dan berdo’a semoga kita berdua lulus ujian.” ujar Dissa pada akhirnya.

Setelah ibu Dissa keluar dari ruang pengumuman hasil ujian, Dissa langsung mendekati ibunya dengan raut muka cemas.

“Bu, udah liat belum apa yang tertulis di dalam amplop itu?” Dissa melirik ke arah amplop yang dipegang ibunya.

“Ya Dissa, ibu sudah lihat dan kamu lulus” ujar ibunya dengan bangga.

Dissa pun senang dan mengucapkan rasa syukur dalam hati. Dia senang karena do’anya dikabukan dan dia merasa berhasil dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Walaupun Dissa tidak termasuk dalam peringkat tiga besar dengan nilai ujian tertinggi, dia tidak merasa berkecil hati. Dissa merasa, mungkin masih ada kejutan lain yang direncanakan oleh Tuhan untuknya.

Sesudah mengetahui bahwa dia lulus ujian, Dissa langsung bergabung dengan temannya dan ingin mengetahui apakah teman-temannya juga lulus seperti dirinya. Ternyata ada sebagian temannya yang tidak lulus, kebanyakan teman sejurusannya, IPS dan sebagian dari jurusan IPA. Hari itu adalah hari yang bersejarah dalam hidupnya Dissa, karena hari itu adalah gerbang yang menuntunnya ke arah masa depan yang lebih baik. Setelah selesai mengobrol, dan menyaksikan kegembiraan serta kesedihan teman-temannya pada hari itu, Dissa pun langsung pulang ke rumahnya dengan dibonceng ibunya. “Betapa hari yang melelahkan dan penuh kejutan,” pikir Dissa dalam hati, sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.

Setelah Dissa tiba di rumahnya, dia pun begitu senang. Ternyata Dissa tidak menyangka, hari ini dia sudah lulus SMA, sedangkan dulunya dia ingat dimana hari ketika dia harus menjalani MOS bersama teman-temannnya yang lain dengan berbagai macam aturan yang harus Dissa patuhi dan meminta tanda-tangan kepada kakak-kakak kelasnya. Dissa pun berpikir ternyata, waktu tiga tahun tidak begitu terasa. Dissa pun mengingat saat-saat dimana dia menjalani kenangan manis bersama teman-teman dekatnya, dan saat-saat dimana Dissa merasa tidak betah ketika dia masih SMA karena teman-temannya yang sering mengganggunya dan ada sebagian temannya yang tidak suka dengan prestasi Dissa disekolahnya. Sampai-sampai ada mata pelajaran yang membuat Dissa sampai memasuki  ruang bimbingan konseling, karena Dissa cekcok sama ketua sekelompoknya, dan ketua kelompoknya Dissa menjelek-jelekkan Dissa di depan teman-teman sekelasnya dan mengatakan Dissa tidak bertanggung jawab dengan tugasnya dan Dissa pun dikeluarkan dari kelompok itu. Mengetahui hal tersebut Dissa tidak terima dan dia pun terlibat cekcok dengan ketua kelompoknya, dan mereka berdua pun dipanggil untuk menghadap guru bimbingan konseling. Sebenarnya Dissa adalah murid berprestasi di kelasnya dan dia tidak pernah bermasalah dengan siapapun, Dissa selalu mengerjakan tugasnya tepat waktu dan selalu mematuhi aturan yang ada di sekolahnya, tapi gara-gara peristiwa itu nama baik Dissa menjadi tercemar dan nilainya pun menurun waktu dia kelas dua SMA, dikarenakan masalah itu.

“Huuh…benar-benar pengalaman buruk yang tidak bisa dilupakan,”keluh Dissa sambil mengingat masa lalunya.

Hari berikutnya Dissa dan teman-temannya yang berkesempatan untuk mendaftar beasiswa Bidik Misi kembali lagi kesekolahnya. Mereka pun mengisi formulir dan begitupun juga Dissa, mereka memilih jurusan yang disukai dan memilih universitas yang berbeda dengan daerah yang berbeda. Dissa pun memilih universitas yang disarankan oleh ibunya, yaitu UPI dan dikarenakan bibinya Dissa pernah menempuh pendidikan S2 nya di UPI. Maka, Dissa pun memenuhi permintaan ibunya dan memilih jurusan yang disarankan oleh ibunya, karena Dissa yakin, apa yang disarankan oleh orang tua adalah hal terbaik bagi anaknya.

Setelah Dissa mengisi formulir pendaftaran beasiswa Bidik Misi, Dissa pun melihat-lihat bangunan sekolahnya yang telah memberinya pengalaman setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun. Dissa berjalan bersama teman akrabnya, Riana yang berkesempatan mendapat beasiswa Bidik Misi itu. Mereka berdua berbincang-bincang tentang pengalaman mereka masing-masing.

“Dissa, nanti kalo udah menempuh pendidikan di kota, kamu harus gaul ya?” kata Riana dengan sungguh-sungguh.

Emang mesti gaul gimana, gitu?” Dissa menjawab dengan kebingungan di hatinya.

“Yah, kamu tau sendiri, kota besar tuh pergaulannya kayak gimana, kalo kamu ga punya temen, ntar yang ngurusin kamu siapa donk,dan kamu juga harus pinter-pinter cari temen yang baik buat kamu”  jawab Riana panjang lebar.

“Oke deh”, sahut Dissa singkat sambil melontarkan senyum misteriusnya.

Dissa pun melewati hari-hari yang agak membosankan baginya, sebagai orang yang baru tamat SMA. Awalnya hari-harinya terasa menyenangkan, karena Dissa tidak memikirkan tugas lagi, yang begitu membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Tapi sekarang Dissa kebingungan, apakah harus melanjutkan kuliah atau membantu orang tuanya kerja di kebun dan beternak ayam sambil mengasuh adik bungsunya yang baru menginjak kelas satu SD. Akhirnya selama beberapa bulan Dissa hanya tinggal di rumah dan membantu orang tuanya berkebun, sambil mencoba mendaftar di universitas lainnya. Selama menunggu pengumuman beasiswa Bidik Misinya, Dissa diliputi perasaan campur aduk, bagaimana nantinya kalau dia diterima atau tidak diterima. Yang hanya bisa dilakukan Dissa adalah berdo’a kepada Tuhan, supaya dia diberi jalan yang terbaik untuk menghadapi masa depannya.

Sore itu, Dissa lagi bersantai di rumah sambil menonton televisi. Tiba-tiba ibunya berjalan menuju rumah sehabis dari kebun. Hal itu sudah biasa dilakukan ibunya Dissa sehabis dari kebun, sekadar untuk mengambil air minum dan mengambil bibit sayur-sayuran untuk disemai di kebun. Tapi sore itu berbeda, ibunya Dissa menyampaikan suatu berita gembira.

“Dissa, selamat ya, kamu diterima di UPI dan mendapat beasiswa Bidik Misi, kata ibunya dengan mata berbinar.

Dissa merasa tidak percaya dengan berita itu, apakah dia harus gembira atau sedih. Dissa pun berkata dengan raut muka yang menyimpan rasa haru, “Ibu, terima kasih banyak ya, udah banyak berkorban buat Dissa”, Dissa mau memeluk ibunya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya tapi dia ragu untuk melakukannya, karena dia tidak pernah memeluk ibunya setelah dia menginjak bangku sekolah dasar. Ibu Dissa memandang anak sulungnya yang sebentar lagi akan menginjak bangku kuliah, dan dia memandang putrinya dengan bangga.

Hari-hari berikutnya Dissa, mempersiapkan diri untuk mengurus ijazah SMAnya dan berkas-berkas yang harus dia bawa ke Bandung, sebagai syarat untuk mengikuti pendaftaran ulang sebagai mahasiswa. Sambil hujan-hujanan, Dissa pun menuju kantor tata usaha untuk mengurusi ijazahnya dan berkas-berkas lainnya , sementara teman-teman Dissa yang lainnya masih asyik menikmati masa-masa indah mereka, sehabis menempuh pendidikan SMA selama tiga tahun. Dissa memasuki halaman sekolahnya yang begitu lengang, karena memang hari itu adalah hari libur sehabis ujian akhir sekolah.  Dissa memasuki kantor tata usaha dengan langkah ragu-ragu, karena Dissa memang belum pernah mengurusi hal- hal seperti itu, dan itu merupakan pengalaman baru baginya. Sesampainya disana, ada sebagian staff  tata usaha yang memberikan selamat atas berhasilnya Dissa mendapat beasiswa dan menempuh kuliah di Bandung.

Tiga hari menuju kota Bandung. Saat itu perasaan Dissa, semakin tidak karuan. Dissa bingung apakah dia harus sedih atau gembira, perasaan itu campur aduk di benaknya. Dissa lebih sering menangis, untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Dissa bingung, kenapa perasaan ini hadir di saat dia mau melanjutkan sekolahnya dan otomatis berpisah  dari orang tuanya dan adik-adiknya dalam waktu yang lama. Dissa senang, karena dia akan menetap  di kota kembang Bandung , kota yang tidak pernah terpikir olehnya bakalan bisa dikunjunginya dan menempuh pendidikan disana, dan naik pesawat untuk yang pertama kalinya, dan Dissa sedih juga, karena dia harus meninggalkan kampung halaman dan rumahnya yang telah dia tempati semenjak dia di bangku sekolah dasar, hal yang membuat Dissa tidak sanggup adalah dia harus meninggalkan ibunya dan adik-adiknya. Dissa sedih bagaimana nanti membayangkan ibunya yang bekerja sendirian mengurus rumah, kebun, dan ternak ayamnya, tanpa kehadiran Dissa di dekatnya, dan selama ayahnya Dissa mengantar Dissa ke Bandung.

Hari yang ditunggu pun tiba, hari yang memberikan Dissa sebuah pengalaman baru dalam hidupnya. Siang itu, Dissa menunggu mobil jemputan dengan muka lesu dan mata yang sedikit basah, karena Dissa tidak sanggup dengan perpisahan ini. Terutama berpisah dengan ibunya. Untuk terakhir kalinya, Dissa menoleh ke arah rumahnya, setelah mobil jemputannya tiba. Dissa membayangkan, setahun kemudian dia akan kembali ke rumahnya, hanya untuk sekedar merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarganya. Dissa tidak sanggup, untuk menoleh ke ibunya untuk melambaikan tangan sekedar ucapan perpisahan, dan Dissa hanya mencium tangan ibunya, dan berkata,”Ibu, Dissa mau pergi merantau, Dissa berkata  sambil menahan isak tangisnya.

“Ibu, do’akan Dissa ya, supaya kuliah Dissa berhasil dan menjadi seorang sarjana seperti yang ibu harapkan.”Dissa pun tidak bisa membendung airmatanya.

“Iya Dissa, ibu selalu berharap dan mendoakan yang terbaik buat kamu,sahut ibu Dissa lirih.

“Dissa, jaga diri baik-baik ya, kuliah yang bener dan jagalah kesehatan, serta pergunakan uang dan waktu dengan baik, jangan berbuat yang aneh-aneh ya disana,” ibu Dissa menambahkan.

Sehabis itu Dissa pun langsung menuju mobill jemputan  bersama ayahnya yang akan mengantarnya ke Bandung. Akhirnya sesampainya di bandara, Dissa langsung check-in dan dia menunggu waktu keberangkatan pesawatnya. Pesawat pun lepas landas dan Dissa telah meninggalkan kampung halamannya. Sesampainya di bandara Soekarno Hatta, Dissa langsung menginjakkan kakinya di Jakarta dan merasakan panasnya udara ibu kota. Disana, Dissa dan ayahnya langsung mencari bus untuk berangkat ke Bandung. Dari bandara, Dissa dan ayahnya langsung ke Bandung dan memakan waktu kurang lebih tiga jam, mereka sudah ditunggu oleh sepupunya ayah Dissa yang tinggal di Bandung. Sesampainya di Bandung, Dissa dan ayahnya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan pasar, hanya untuk membeli perlengkapan buat Dissa kuliah dan ngekost. Setelah ayah Dissa mengantar Dissa untuk mendaftar ulang di UPI, ayahnya Dissa pun mempersiapkan diri untuk pulang. Setelah ayahnya pulang, Dissa hanya tinggal sebulan di rumah sepupu ayahnya, hanya untuk menunggu hari dimana dia memulai perkuliahan.

Hari itu tiba dan Dissa langsung merasakan betapa repotnya menjadi anak kost. Mulai dari mempersiapkan jadwal makannya sampai kuliahnya. Dissa pun merasakan dunia baru, yaitu dunia perkuliahan yang menuntutnya untuk lebih mandiri dan disiplin. Dissa pun berkenalan dengan teman-teman sejurusannya, dan Dissa menemukan dua orang teman di hari pertamanya kuliah, yaitu Nisa dan Tami. Mereka berdua berasal dari kota Bandung dan satu kelas dengan Dissa. Setelah beberapa bulan Dissa mulai terbiasa dengan predikat kehidupan sebagai anak kost dan anak kuliahan yang disandangnya. Dissa pun juga berusaha untuk mendapat nilai yang baik, dan walaupun indeks prestasinya belum memuaskan, Dissa tetap berusaha, dan tidak terasa Dissa sudah mulai memasuki semester enam,dalam  masa perkuliahannya. Yang terpenting yang ada di benak Dissa adalah membahagiakan kedua orang tuanya dan mendapatkan gelar sebagai seorang sarjana seperti yang diinginkan ibunya. Kata-kata dan do’a kedua orang tuanya yang menjadi pemicu Dissa untuk lebih berusaha meniti masa depannya yang lebih baik, karena tekad dan pengorbanan jugalah yang menjadi penentu yang mengiringi keberhasilan seorang manusia, khususnya yang dirasakan dan dialami oleh Dissa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s