LBM Menulis: Salah Sangka by Rizka Khairunnisa (Cerpen)

images (2)

Salah Sangka

            “Sudah, kamu kerja di minimarket saja. Anak saya juga gitu. Lumayan, gajinya sejutaan. Daripada jadi beban orangtua, mending kerja kan? Kata anak saya sekarang lagi ada lowongan di tempat dia kerja. Kalau kamu mau Bibi bisa minta dia masukin kamu.”

Aku mencengkeram pegangan cangkir. Rasanya ingin aku banting saja.

“Silakan tehnya,” ucapku sambil meletakkan cangkir di meja. Aku tersenyum. Terpaksa. Sangat.

“Ceu Tiha bener, Neng. Kamu kerja aja. Nenek nggak tau harus dari mana nyari uang buat kamu masuk kuliah.”

Aku mengigit bibir. Nenek sama saja.

“Saya permisi dulu. Punten.”

Aku mengangguk takzim. Lalu berlari ke dapur. Kuletakkan baki di meja dapur. Kepalaku tertunduk lemas. Kenapa semua terasa begitu sulit? Aku menghela napas. Nenek sama sekali tidak menyetujui aku kuliah. Matilah sudah.

¨¨¨¨¨

            Pintu kamar dibuka. Aku buru-buru memejamkan mata. Aku mendengar sosok itu menutup pintu. Lalu kurasakan dia duduk di kasurku.

“Udah tidur ya?” Aku diam. Papa mengusap rambutku lembut.

Hening sejenak. Aku bertanya-tanya, Papa sedang memikirkan apa. “Kamu…” ucap Papa. “Nangis?”

Mataku terbelalak. Bagaimana Papa bisa tahu? Kamarku gelap, dan aku membenamkan wajahku dalam selimut. Bagaimana mungkin?

“Kamu udah jadi anak Papa selama 18 tahun, mana mungkin Papa nggak tahu kalo kamu nangis.” Aku mengigit bibir. “Ceu Tiha ke sini ya? Hhh, ngapain lagi sih perempuan usil itu ke sini. Ikut campur urusan orang aja.” Aku tersenyum kecil. Padahal Ceu Tiha itu istrinya teman SMA Papa, masa dibilang usil.

“Jangan dengerin omongan dia. Biarin aja, anggap burung beo. Nenek lagi, omongannya ditelen bulet-bulet. Ckckck.” Aku tertawa. Lalu membalikkan badanku agar menghadap Papa. Papa menatapku sambil tersenyum.

“Kamu pengen kuliah?” tanya Papa. Aku mengangguk kuat. “Maka kamu akan kuliah.” Mataku berbinar.

“Makasih, Pa.” Aku memeluk lelaki separuh baya itu.

“Sama-sama, Sayang.” Papa balas memelukku erat.

Terdengar bunyi dering. Papa melepas pelukanku. “Tidur, ya.” Aku mengangguk.

Papa keluar kamar dan menutup pintu. Lamat-lamat aku mendengar Papa berbicara dalam telepon.

“…ke mana-mana, tapi nggak ada hasil. Makanya saya ngehubungi kamu. Yah, siapa tahu bisa bantu sedikit. Kasihan, dia pengen kuliah. Masa orangtuanya kuliah, anaknya enggak?.”

Tenggorokanku tercekat. Jadi, alasan Papa tiap hari pulang malam, pergi cari uang buat aku kuliah?

“Dua belas juta, Yat. Yah, mau gimana lagi? Bidik Misi nya nggak keterima, Cuma 450 orang. Padahal yang daftar ribuan. Kasihan si Neng.”

Lalu hening. Aku tidak mendengar suara Papa.

“Oke lah. Nggak apa-apa. Nyantai aja, kita kan sepupu. Nggak usah maksain. Saya juga ngerti. Dua juta cukup, nanti saya cari sisanya.”

Aku tidak kuat lagi. Papa begitu kerja keras. Nenek benar, aku cuma jadi beban.

¨¨¨¨¨

            Aku mengintip ke dalam kelas. Sedang ujian. Tampak wajah-adik-adik kelasku yang berkerut. Kening mereka terlipat, seperti kulit lumpia yang dilipat jadi martabak telor.

“Ah, Rizka!” Aku kaget. Pengawas ujian menangkap basah wajahku yang sedang mengintip. Seisi kelas langsung menoleh ke arahku.

Bu Ida berdiri dari kursinya. “Jangan ribut. Ibu pergi sebentar.” Terdengar desah bahagia dari mulut mereka.

Bu Ida melenggang menuju pintu, menghampiriku. “What are you doing here, Darling?” Senyumnya luar biasa. Seperti guru killer lainnya, senyumnya tampak jumawa. Bagiku biasa saja. Tapi bagi anak-anak lain, itu adalah senyum yang ‘membunuh’.

“I miss you, Mom.” Aku nyengir. Bu Ida tertawa. Aku memang dekat dengan guru Bahsa Inggrisku ini.

“What about your college, Honey? Why don’t you choose English?”

Aku nyengir lagi. “Saya juga milih Bahasa Inggris, Bu. Tapi pilihan kedua. Yang keterima pilihan pertama.”

“Well, it’s okay. Berarti kamu jadi penerus Bu Maryati, dong?” Aku tertawa. “Kenapa? Kok murung? Mau cerita?” Bu Ida mengangkat alis ramah. Aku menggigit bibir.

¨¨¨¨¨

            Aku memandang berkeliling. Ruangan ini megah sekali. Ada dua lantai dan sangat luas. Ada panggung di depannya. Di sana ada sebuah meja panjang dan besar, beberapa bapak-bapak duduk di sana. Pasti orang penting di sini.

“Ini apa namanya, Neng?” tanya Papa. Dari tadi kepalanya celingukan, bertanya-tanya dari bahan apa lantai gedung ini.

“Auditorium, Pa. Auditorium FPMIPA.” Papa mengangguk-angguk.

Aku memandang ke arah tempat duduk. Ternyata cukup banyak orang yang bernasib sama spertiku. Berarti aku tidak sendirian. Aku termenung, kembali teringat kata-kata Bu Ida beberapa hari yang lalu.

            “Peduli amat sama nenek kamu, yang penting papa kamu ngedukung, kan?” Aku mengangguk lemah. “Ya udah, yakin aja. Yang jadi masalah itu kalau papa kamu ikut menentang, nah itu lain ceritanya. Kalau papa kamu masih bersedia berusaha untuk kamu, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Tinggal kamu belajar yang bener nantinya. Ngapain kamu susah-susah belajar di SMA kalau ujung-ujungnya kerja di minimarket. Sayang otak kamu kalo nggak dipake.” Aku nyengir. Aku senang dengan guruku satu ini yang asli Medan. Kata-katanya luar biasa.

            “Yang ngejalanin itu kamu, bukan Nenek kamu. Kamu harus kejar sendiri impian kamu.Buat almarhum Mama kamu bangga.

“Untung kita boleh bayar 25%,” kata Papa membuyarkan lamunanku. “Jadinya berapa?”

“Dua juta tujuh ratus,” jawabku datar. Aku menatap panggung lagi. Namaku belum dipanggil-panggil untuk menghadap pembantu dekan.

Pahaku geli. Langsung kurogoh saku. HP-ku bergetar berkali-kali. Ada sms masuk.

Teteh di luar, Riz. Bisa keluar sebentar nggak?

“Pa,” seruku.

“Hm?”

“Teh Ditha di luar. Neng keluar sebentar, ya?” Papa mengangguk.

Aku berlari menuju pintu keluar auditorium. Di sana sudah berdiri seorang perempuan berkerudung membelakangiku.

“Teh Ditha?” Perempuan itu membalikkan badan. “Udah lama ya?”

Dia menggeleng. “Nggak kok.” Dia langsung membuka resleting tasnya.

Aku mengamati gerakannya. Dia mengeluarkan dompetnya yang cukup tebal. “Ini,” katanya sambil mengangsurkan segepok uang. Aku melongo. “Semuanya satu juta. Ini uang buat bayar kost Teteh, tapi masih bulan depan kok. Pake aja dulu.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Tapi, Teh—”

“Udah, pake aja. Teteh pergi dulu, ya.” Teh Ditha memasukkan dompet dan menutup tasnya.

“Makasih, Teh.”

Tapi Teh Ditha sudah berlari menuju tangga.

¨¨¨¨¨

            “Untuk semua mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Biologi, silakan mempersiapkan alat-alatnya karena sekarang kita akan segera kembali ke Gymnasium untu mengikuti penutupan acara MOKA-KU UPI 2011.”

Aku memasukkan buku dan alat tulisku, kemudian kami semua berbaris dengan tertib. Aku sedikit mengantuk, dari tadi diberi ceramah ini-itu tentang ospek jurusan. Aku ingin segera selesai lalu pulang ke rumah.

“Hai, nama kamu siapa?”

Aku menoleh ke asal suara. Seorang gadis yang mungil, tingginya sepundakku. Kulitnya putih, matanya sipit. Dia tersenyum.

“Aku Pina dari SMA 25. Kamu?”

Segera, seperti disengat listrik jutaan volt. Badanku langsung tegang seketika.

¨¨¨¨¨

Hari itu panas terik. Debu beterbangan dari jalan yang berpasir. Motor lalu lalang membawa asap dan membuatku terbatuk. Aku sampai di warnet ujung jalan. Kosong. Aku bisa memilih komputer manapun yang aku suka.

Aku membuka website Universitas Pendidikan Indonesia dan mencari namaku dalam daftar nama penerima beasiswa Bidik Misi.

SMA N 1 Batanghari Afri Irawan Biologi
SMA N 25 Bandung Pina Rosica Biologi

Hanya dua orang dari jurusan Biologi. Sisanya Pendidikan Biologi. Aku mencari lagi ke tabel bagian bawah. Tetap tidak ada namaku. Seketika kurasakan tubuhku seperti diaduk. Aku lekas berdiri dan keluar warnet. Kucari selokan terdekat. Kumuntahkan semua sarapanku tadi pagi. Juga obat yang diberikan dokter kemarin yang terasa sangat pahit melewati kerongkonganku.

Aku mengusap bibirku. Dan pipiku. Segera aku kembali ke dalam warnet. Aku menulusuri namaku sekali lagi tapi tetap tak ada. Aku menatap dua nama yang pertama aku lihat.

Aku kenal Afri, kita pernah bertemu di kampus karena sama-sama masuk jalur SNMPTN Undangan. Tapi, siapa Pina?

¨¨¨¨¨

            Yang kulihat hanya lautan warna hitam dan putih. Bukan, bukan papan catur. Tapi ribuan mahasiswa baru yang baru keluar Gymnasium. Semuanya memakai kemeja putih dan bawahan hitam. Aku berjalan melewati beberapa rombongan. Beberapa di antara mereka memakai jas almamater.

“Pulang?” Aku menoleh ke asal suara. Laki-laki tinggi dengan kemeja putih dan dasi hitam menghampiriku. Afri.

Aku mengangguk. “Bareng yuk.” Aku meliriknya sekilas dan melanjutkan berjalan.

Kami melewati gedung Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Jalannya menurun.

“Tadi kenalan sama siapa aja?” tanyanya.

Aku diam sejenak. “Banyak.”

“Udah kenalan sama Pina? Yang kecil-kecil itu, cerewet pisan. Ckckck.”

Langkahku terhenti. Dia menoleh.

“Kenapa?”

Aku menggeleng. “Nggak apa-apa. Yang anak Bidik Misi itu, ya?”

Dia mengangguk. “Oh iya, gimana sekarang?”

“Apa? Siapa?”

“Kamu.”

“Oh,” kataku. “Jadi mahasiswa regular.”

“Bayar SPP, dong?”

Aku mengangguk, lalu diam. Dia juga diam.

“Ntar rezekinya pasti ada.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Dalam hati aku berkata ‘amin’.

¨¨¨¨¨

            Setahun kemudian.

“Makasih ya, Teh.” Wajahnya tampak berbinar.

Aku tersenyum. “Sama-sama. Maaf cuma bisa minjemin segitu. Kalo buku-buku mata kuliah kependidikan pinjem aja ke yang lain yang anak pendidikan. Teteh nondik soalnya.”

“Iya, Teh. Nggak apa-apa. Segini juga cukup.”

“Oh iya, gimana kabar Bapak sama adek-adek?”

“Alhamdulillah baik, Teh. Bapak sekarang kerja terus. Biar Gina bisa tetep kuliah.” Aku tersenyum. “Kata Bapak nggak apa-apa kalo Gina nggak keterima Bidik Misi, Teh. Mungkin Ginanya aja yang lagi nggak beruntung. Yang butuh kan banyak, nggak cuma Gina doang. Jadi, nggak apa-apa lah. Yang penting Gina belajar yang rajin.” Aku terdiam.

“Saya permisi dulu, Teh. Bentar lagi masuk. Makasih ya, Teh.”        Aku mengangguk dan memandang sosoknya yang berlalu. Aku berjalan menyusuri koridor. Kumasukkan tanganku ke dalam saku jaslab. Dingin. Aku sibuk mencerna kata-kata adik tingkatku barusan.

Kubuka pintu Laboratorium Struktur Hewan, suasananya masih seperti terakhir kali aku tinggalkan.

“Dari mana?” tanya Dita. Dia sedang berkutat dengan laptopnya.

“Ketemu maru,” jawabku singkat.

“Ngapain emang?” tanya Nilam yang sedang menuang larutan.

“Dia minjem buku, barusan serah terima.” Kulihat mulut mereka membulat. “Mana Pina?”

“Di depan, lagi ngecek,” jawab Nilam.

“Ngecek apa?”

“Darah,” jawab Dita.

Aku berjalan menyebrangi ruangan. Melewati teman-teman sekelasku yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku menghampiri gadis yang duduk di atas kursi yang agak tinggi, sibuk mengintip mikroskop.

“Pin, aku—”

“Boleh minta tolong nggak?”

“Hah?”

Pina menjauhkan wajahnya dari mikroskop dan menatapku.”Tolong liatin. Ini sel darah merahnya udah bagus belum?”

Pina bangkit dari kursinya. Aku duduk dan mengintip mikroskop.

“Belum, masih mengkerut. Belum bulat utuh.” Aku bangkit berdiri.

“Belum bagus kayak kelompoknya Afri, ya?” Aku mengangguk. Pina kembali mengintip.

“Pin, aku…” Pina menatapku. Dia memasang wajah lucu.

“Kenapa? Tadi mau ngomong apa?”

“Em, aku…” Kugaruk hidungku. “Aku minta maaf, Pin.”

Wajah Pina terlihat bingung. “Maaf apa? Emang kamu ngapain?”

Aku menggigit bibir. “Jujur, aku dulu nggak suka sama kamu, Pin.” Aku menatapnya sekilas lalu menunduk. “Waktu awal kuliah, aku nggak suka sama kamu. Waktu itu aku nggak keterima Bidik Misi. Waktu aku liat pengumuman, nggak ada nama aku, tapi nama kamu. Padahal aku pengen banget keterima. Waktu itu juga aku lagi sakit. Waktu kenalan sama kamu, aku mikir. Kenapa anak ini yang dapet? Kenapa bukan aku? Aku ngerasa nggak adil. Padahal aku juga butuh, tapi kenapa aku nggak dapet? Kenapa Allah pilih kasih sama aku?”

Aku diam. Mengigit bibir lagi. “Tapi aku sadar, sebenernya banyak orang yang butuh beasiswa itu, nggak cuma aku. Afri juga butuh. Kamu juga butuh. Aku terlalu berpikir buat diri sendiri. Aku minta maaf, Pin. Aku udah salah sangka sama kamu, aku udah suudzon. Maaf ya, Pin.” Kuberanikan diri memandang wajahnya.

Tak kusangka, dia nyengir. Dia tidak berkata apa-apa malah mematikan mikroskop dan berdiri melepas jaslabnya.

“Kamu ngomong apa, sih? Woles aja, lah. Toh itu udah setaun yang lalu.” Aku menatapnya bingung. “Sekarang nggak ada masalah, kan? Kamu udah dapet Bidik Misi gelombang 2 kan? Ya udah, nggak usah dipikirin. Kayak gitu doang.” Dia tertawa. “Dita, Nilam, shalat yuk. Udah ashar. Haduh, sampe maghrib lagi nih kayaknya. Udah jadi kuncen lab aja.” Pina menghela napas. Dita dan Nilam tertawa.

Aku tersenyum, lalu tertawa sendiri. Anak ini, dia makan apa sih?

“Riz, shalat yuk. Udah, nggak usah dipikirin. Dimaafin kok.” Dia menepuk bahuku. Kemudian berjalan ke arah Nilam dan Dita.

“Tunggu!” teriakku. Ketiga temanku menoleh. Kemudian mereka malah berlari keluar lab.             Aku tersenyum dan melepas jaslabku. Terima kasih, Alah. Terima kasih, Papa. Terima kasih, Bu Ida. Terima kasih, Teh Ditha. Terima kasih, Pina. Aku sayang kalian.

Aku segera berlari mengejar teman-temanku. Seperti aku mengejar takdir dan impianku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s