LBM Menulis: Menggapai Cita dan Cinta by Fida Amatillah (Cerpen)

antara-cinta-dan-cita-cita
Menggapai Cita dan Cinta

Masa itu, masa ketika putih abu hampir berakhir.Bingung menerjang galau menghadang. Aku bingung, apakah mau kuliah ,kerja, atau nikah ? Teman sekelasku banyak yang akan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Rasanya ingin, tapi apa mungkin? Ayahku hanya seorang pedagang, dan Ibuku hanya Ibu Rumah Tangga yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.Bekerja?Kerja dimana? Aku hanya lulusan SMA, sementara diluar sana masih banyak pengangguran intelektual. Apa aku bisa? Pilihan terakhir, menikah.Kata ini membuatku merinding,umurku baru 18 tahun.Lagipula orangtuaku belum mengizinkan untuk hal yang satu ini.

Kedua orangtuaku hanya lulusan SMA dan mereka tidak ingin kalau pendidikan anaknya sederajat dengan orangtuanya.Ya, aku tahu itu, berarti aku harus kuliah. Guru BK memberitahu bahwa ada beasiswa dari pemerintah bagi siswa SMA dan sederajat yang berprestasi, dan ingin kuliah akan tetapi terhimpit kondisi ekonomi. Beasiswa ini disebut bidik misi dan hanya berlaku di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Nusantara.Mendengar hal itu, rasanya kebingungan dan galauku hilang seketika.Akhirnya Tuhan memberikan jawaban atas masalahku ini.

Aku masuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan sekaligus mendaftar sebagai penerima beasiswa bidik misi. Bingung mau kemana setelah lulus SMA telah hilang, akan tetapi sekarang bingung mau kuliah kemana dan mengambil program studi apa mulai menerjang. Banyak dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang datang sosialisasi ke sekolah, kebingungan itu semakin memuncak. Akhirnya aku tertarik pada salah satu perguruan tinggi negeri  favorit di Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Aku ingin kesana, ketika studytour SMA aku mengunjungi universitas tersebut, dan rasanya seperti mimpi.Dari sanalah harapan itu muncul, harapan suatu saat nanti aku merajut mimpi-mimpiku disana.Perihal program studi, aku sangat tertarik pada ilmu kesejahteraan sosial.Melihat kondisi negeri ini, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Sangat menyakitkan ketika melihat mereka yang sudah tua renta menyusuri jalanan metropolitan untuk mengumpulkan kepingan rupiah, bahkan anak dibawah umur pun sudah membanting tulang untuk bertahan hidup. Padahal di negeri ini sepanjang jalan berjajar mobil-mobil mewah yang harganya melambung tinggi. Entah apa yang terjadi dengan negeri tercintaku, ideologi pancasila sangat rapi dan lengkap. UUD 1945 tersusun sempurna.Tujuan Negara pun patut diacungi jempol. Lalu apa yang salah? Karena itulah aku mengambil program studi tersebut, aku ingin membangun negeri ini menjadi negeri yang peka terhadap sesama dan semua rakyat Indonesia bisa sejahtera.

Sambil menunggu dibukanya hasil SNMPTN undangan, aku mengikuti try out yang diadakan oleh perguruan tinggi, termasuk simak UI. Aku mengikutinya dengan antusias, temanku juga.Deretan soal itu membuat otakku pusing, soalnya cukup sulit dan mengecoh.Rasanya ingin cepat keluar dari ruangan itu.Pengawas diruanganku seorang mahasiswa UI, aku belum mengenal dia, dia juga belum mengenal aku.

Akhirnya aku dapat merebahkan tubuh ini dan merefresh otak dikamarku.Sejenak terlintas dipikiranku, UI itu universitas favorit, dan sepertinya hanya untuk kalangan atas.Apa beasiswa bidik misi disana harus bayar dulu? Untuk mengetahuinya, aku meminta nomor handphone mahasiswa UI yang bidik misi, dan aku mendapatkannya. Namanya Ihsan. Aku pun mengawalinya dengan SMS.

Assalamu’alaikum, kak mau tanya, kalau bidik misi di UI tu dipungut biaya awal dulu gak?”pesan terkirim.

Balasan SMS-nya tidak datang juga, apa salah nomor? Gumamku kesal.

Hand phone-ku berdering, ternyata balasan darinya.

“Tidak, maaf siapa ya?”

Oh iya, aku lupa mencantumkan namaku.

“Ini samaFia, maaf kak, lupa kasih nama, hehe”

Dari sanalah kisah itu dimulai, kisah cinta yang menyisakan penyesalan sampai saat ini. Tiba-tiba dia mengirim SMS “kangen”, aku terkejut membacanya.Apa mungkin? Padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu, kenapa tiba-tiba dia SMS seperti itu? Setelah SMS-an lebih lanjut, ternyata dia pengawas di ruanganku ketika simak UI. Orangnya sangat mengasyikkan, dan aku suka itu.

Besok pengumuman hasil SNMPTN undangan, malam harinya tiba-tiba dia mengirim SMS.

“Gimana, keterima ga?” tanyanya.

“Pengumumannya kan besok kak.” ujarku.

“Pengumumannya udah bisa dilihat kok.”

Kalau malam-malam ke warnet rasanya tidak mungkin, lagipula sepertinya aku tidak sanggup untuk melihat pengumuman tersebut dengan kedua mataku ini.Akhirnya aku meminta bantuan kepada temanku untuk melihat hasilnya.Tapi, temanku tidak bisa membantuku karena pulsa modemnya habis.

Hand phone ku berdering lagi, SMS dari kak Ihsan.

“Cepetan liat, siapa tahu ajaketerima =). Udah diliat belum ?” tanyanya sambil memotivasiku.

“Lagi ni kak, tapi di hand phone, soalnya ga ada koneksi internet.” jawabku.

“Sini kakak bantu, kebetulan disini ada laptop sama koneksi internet, SMS-in aja nomor pendaftaran sama KAP-nya !”

Ternyata ada laki-laki sebaik dia. Dia orang pertama yang menanyakan hasil SNMPTN undanganku.Dia juga yang membuka hasilnya.Dan ternyata aku tidak lolos SNMPTN undangan, dia mengirim SMS sesuai dengan yang tercantum di halaman web itu.Mendengar kabar itu, aku merasa down dan tidak terasa air mata ini menetes, aku ingin kuliah disana.

Dia memberi saran kepadaku, “Besok kamu langsung ke toko buku dan membeli buku SNMPTN tulis. Dulu juga sayasama seperti kamu, SNMPTN undangan saya tidak lolos, tapi hal itu tidak membuat saya menyerah. Saya langsung ke toko buku dan membeli buku SNMPTN tulis. Dan saya bertekad untuk tidak keluar rumah sebelum yakin kalau saya akan lulus SNMPTN tulis dan diterima di universitas yang saya inginkan. Jangan menyerah dari masalah selama masalah itu tidak membunuhmu !”

Kata-kata itu selalu aku ingat, dia motivatorku.Dan aku pun langsung melaksanakan saran darinya.Setiap hari aku mengerjakan soal di buku tersebut, bahkan sudah ku ulang hingga dua kali.  Dalam SNMPTN tulis, pilihan pertamaku tetap UI program studi ilmu kesejahteraan sosial, dan pilihan kedua UPI kampus Tasikmalaya. Orangtuaku kurang setuju kalau aku kuliah di UI karena beberapa alasan, diantaranya adalah biaya hidup yang terkesan mahal dan lingkungan sosial yang elit.Mungkin karena do’a orangtua lebih kuat, akhirnya aku lulus SNMPTN tulis di pilihan kedua yaitu UPI kampus Tasikmalaya.Ada rasa syukur dan sesal ketika melihat hasil tersebut.Tapi mau tidak mau aku harus menjalaninya karena itu sudah suratan takdirku, apalagi aku mendapat beasiswa bidik misi yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.Biaya kuliah ditanggung pemerintah, ditambah dikasih uang saku setiap bulannya.Sekarang tinggal bagaimana aku menjalankan amanah ini untuk kuliah dengan baik dan sungguh-sungguh.Apalagi beasiswa ini berasal dari uang rakyat yang dianggarkan pemerintah untuk pendidikan.

Ketika dia mengetahui kalau aku diterima di UPI kampus Tasikmalaya, dia memberiku ucapan selamat dan meyakinkanku bahwa itu yang terbaik untukku dan orangtuaku.Ada hal yang mengejutkan, ketika itu tanggal 21 Juli, hari ulang tahunku.Dia mengucapkan selamat ulang tahun melalui jejaring sosial facebook, dan itulah kali pertamanya aku chat dengan dia. Ternyata dia pandai gombal dan dia berhasil mengunci hatiku untuknya.Ya, sepertinya aku jatuh cinta.Entah bagaimana ceritanya, aku dan dia mulai menjalinkasih.Rasanya senang sekali bahkan bahagia yang tidak bisa aku ungkapkan.Terimakasih Tuhan Engkau telah mengirimnya untukku.

Masalah-masalahku yang lalu tertutupi dengan kebahagiaanku saat ini.Kebahagiaan yang tidak bisa tergantikan, dan hidup ini pun terasa sempurna.Waktu terasa begitu cepat, diawali dengan registrasi ke Bandung yang antriannya sangat luar biasa panjang, kemudian masa orientasi kampus untuk mendapat status sebagai mahasiswa.Dan akhirnya aku menjadi mahasiswa UPI kampus Tasikmalaya yang seutuhnya.Rasanya mimpi, belum pernah terlintas dipikiranku untuk menjadi seorang guru SD. Tapi seiring berjalannya perkuliahan, aku mulai sadar, guru itu profesi yang mulia. Guru lah yang mencetak kepribadian anak bangsa, dan untuk masalah mensejahterakan rakyat tidak hanya dengan materi, bahkan dengan ilmu dan pendidikan jauh lebih berharga dan berguna untuk mereka. Kini aku sadar, rencanaNya begitu indah, aku ditakdirkan Tuhan untuk mengajar dan mendidik anak-anak yang belum berlumuran dosa sepertiku.Aku ingin semua orang bisa merasakan duduk dibangku sekolah bahkan kuliah.

Dia sering meledekku dengan leluconnya, “Guru SD ngajar anak-anak yang ingusan, terus entar kalau muridnya mau buang air kecil atau buang air besar gimana?Pasti kamu kewalahan, hahaaa …” ledeknya sambil tertawa lepas.

“Yaa enggalahh, masa kewalahan. Anak SD zaman sekarang kan beda sama zaman kakak dulu. Lagipula, kata guruku, guru SD itu calon istri yang baik. Makanya harus bersyukur !” balasku puas.

Dia benar-benar membuat hariku ceria, meskipun kita jarang SMS-an seperti dulu. Tapi hal itu merajut rindu dihati ini.Dia sangat mempercayaiku, dan aku pun percaya padanya.Hubungan kami terhalang jarak dan tempat, tapi itu membuat kepercayaan dan kerinduan ini semakin besar.

Dipertengahan semester pertama, aku dekat dengan seorang kakak tingkat dikampusku.Dia tahu kalau aku sudah menyimpan hatiku pada seorang laki-laki yang aku inginkan.Tapi dia terus mendekatiku, dan salah aku juga kenapa aku melayaninya?Mungkin karena aku merasa kurang perhatian dari dia, cinta jauhku. Kakak tingkat dikampusku memberiku perhatian yang luar biasa, tapi dia tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan dan keceriaan seperti yang cinta jauhku berikan bahkan menggantikan posisinya dihatiku, tidak akan pernah bisa.

Aku mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yaitu Aksara.UKM ini bergerak dibidang seni dan sastra dan salah satu tugas untuk pelantikkannya adalah membuat cerpen.Aku membuat cerpen tentang perasaanku pada kakak tingkat di kampusku yang berakhir dengan kebencian, tapi untaian kata awalnya sangat menyakitkan jika terbaca oleh cinta jauhku.Dia mengetahuinya, tiba tiba dia mengirimku SMS.

 

 

“Aku tidak mengekang kamu, kalau memang kamu ada hati dengan seseorang yang lebih kamu sukai.Toh aku juga ngerasa belum siap memperhatikan dan merawat kamu secara total.Perkara diri, jujur aku bukanlah sosok laki-laki yang baik dan tidak pula mengimbangi dirimu yang baik.Banyak hal yang perlu kamu pikirkan ulang dan kamu pertimbangkan untuk memilih aku. Disadari atau tidak, aku sebenarnyan tidak mau berjanji, aku hanya mampu katakana bahwa ‘Aku mencintaimu dari kemarin sampai saat ini’”

SMS itu sangat mengejutkanku, perlahan air mata ini jatuh. Aku telah menyakitinya dengan karya perdanaku, padahal dia yang memberiku nama pena, nama pena yang indah dan lucu. Aku suka itu.Tapi sungguh bukan maksudku untuk menyakitinya, aku hanya menuahkan perasaanku kepada dia melalui tulisan.Seharusnya aku tidak mem-publish-nya di facebook.Dilihat dari SMS-nya dia sangat tulus kepadaku, tapi aku terlanjur mengecewakannya dengan perasaan sesaat kepada kakak tingkat dikampusku.Dia telah pergi disaat hati ini tidak bisa berpaling lagi darinya.

Yaa Tuhan, apakah mungkin dia kembali dan menjadi milikku lagi? ataukah dia akan membenciku karna sikapku ? ku harap tidak. Atau mungkin ini kecemburuan-Mu karena aku lebih sering memikirkannya daripada memikirkan-Mu.

Yaa Tuhan,  jika perpisahan ini karena kecemburuan-Mu padaku, ku harap ini terbaik bagiku dan baginya. Meski hati ini sangat sakit untuk melepasnya, tapi tak berguna jika Kau telah berkehendak berakhirnya kisah ini.Tapi caranya membuatku diselimuti rasa bersalah.Maafkan aku sayang.

Yaa Tuhan, mudah-mudahan akhir kisah ini merupakan awal yang sesungguhnya menuju ikatan suci yang menyempurnakan separuh dienku dan diennya. Amiiin..

Masalah ini tidak membuatku berlarut-larut dalam kesedihan, aku harus tetap fokus pada impianku dan dia juga begitu.Kita berdua mempunyai mimpi masing-masing, memberi prestasi untuk negeri. Kalau memang kita jodoh, Tuhan pasti mempertemukan kita ketika kita sudah menggapai mimpi-mimpi indah tersebut. Empat atau lima tahun lagi semuanya akan terwujud !Believe it !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s