LBM Menulis: Menggapai Asa Memutus Rantai Kemiskinan by Saiful Bachri (Esai)

Untitled

MENGGAPAI ASA MEMUTUS RANTAI KEMISKINAN

Pendidikan merupakan hak dari setiap warga Negara, seperti yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”.

Pada masa saat ini, salah satu kendala bagi masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah adalah mahalnya biaya pendidikan, terutama biaya pendidikan di perguruan tinggi. Tidak sedikit pelajar lulusan SMA sedarat yang harus gigit jari karena mereka tidak mampu mewujudkan cita-cita mereka untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yang diakibatkan oleh ketidak mampuan mereka dalam hal materil. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai prestasi lebih, akan tetapi harus terhenti langkahnya dalam melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi karena masalah ekonomi.

Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melihat permasalahan ini. Oleh karena itu, pemerintah melalui kemendikbud mencoba untuk memecahkan masalah ini, yakni dengan meluncurkan program beasiswa Bidik Misi. Program beasiswa bidik misi merupakan suatu program yang dikeluarkan oleh kemendikbud. Program ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2010. Program ini juga merupakan salah satu program 100 hari kerja Kemendikbud (ketika itu masih bernama Departemen Pendidikan Nasional).

Ketika diluncurkan pertama kali pada tahun 2010, kuota awal yang disediakan kemendikbud sebesar 20.000, hasilnya? Calon mahasiswa begitu antusias untuk mengikuti program ini. Meskipun terdapat kesulitan dalan mengakses informasi mengenai beasiswa Bidik Misi, toh bisa dikatakan program perdana Bidik Misi telah berhasil memberikan kesempatan kepada mahasiswa tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Melihat besarnya antusias dari pendaftar Bidik Misi, Kemendikbud menambah kuota di tahun 2011 menjadi 30.000 beasiswa, di tahun 2012 juga disediakan kuota sebesar 30.000 beasiswa. Dengan kata lain, total mahasiswa penerima beasiswa bidik misi saat ini adalah sekitar 80.000 mahasiswa. Untuk tahun 2013, pemerintah bahkan merencanakan untuk menaikkan kuota menjadi 50.000 beasiswa. Hal ini menunjukkan begitu besar nya antusias calon mahasiswa terhadap beasiswa bidik misi.

Sudah hampir 3 tahun program beasiswa bidik misi dijalankan. Hasil indeks prestasi kumulatif mahasiswa bidik misi angkatan 2010 dan 2011 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kemendikbud menyatakan, lebih dari 20% dari total penerima beasiswa bidik misi meraih Indeks Prestasi Sementara (IPS) antara 3,51-3,99, sebanyak 58% meraih IPS 2,75-3,50 dan bahkan sebanyak 1% diantara total penerima beasiswa bidik misi meraih IPS sempurnya 4,00. Hanya sekitar 4% dari total penerima beasiswa bidik misi yang memperoleh IPS dibawah 2,00 sementara sisanya meraih IPS antara 2,00-2,74.

Melihat data indeks prestasi mahasiswa bidik misi tersebut, tepat apa yang dikatakan M. Nuh bahwa mahasiswa yang kurang mampu namun memiliki potensi, membutuhkan “kesempatan” untuk dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi sehingga mereka bisa maju dan berprestasi. Faktor ekonomi tidak menjadikan mereka bermalas-malasan, bahkan menjadi pelecut semangat dalam belajar.

Salah satu perguruan tinggi negeri yang mendapatkan kuota beasiswa bidik misi adalah Universitas Pendidikan Indonesia. Di UPI sendiri, banyak sekali prestasi yang telah ditorehkan mahasiswa penerima beasiswa bidik misi. Mulai dari meraih indeks prestasi sempurna (IP 4), menjadi mahasiswa berprestasi tingkat universitas, sampai menjadi juara kontes robot di tingkat Asia. Hal ini tentu menjadi angin sejuk bagi pihak UPI khususnya dan pihak Kemendikbud umumnya. Apa yang telah dipercayakan kepada mahasiswa penerima beasiswa bidik misi, mereka buktikan dengan prestasi yang membanggakan.

Dengan dibuka kesempatan bagi calon mahasiswa yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi melalui program beasiswa bidik misi, diharapkan mereka mampu untuk menjadi lebih khususnya dalam hal peningkatan taraf hidup. Mencoba mengutip perkataan M. Nuh, pada titik inilah pendidikan akan mampu menjadi salah satu elevator sosial, yang diharapkan akan mampu menjadi pemutus mata rantai kemiskinan. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s