LBM Menulis: Kado Terindah Untuk Ibu by Mariatul Qibtiah (Cerpen)

kado ibu

– Kado Terindah untuk Ibu –

Zulfa adalah seorang siswi SMA. Dia terlahir dari keluarga yang sederhana. Zulfa adalah seorang anak yang dekat dengan Ibunya, karena kondisi Ayah yang mempunyai hubungan kurang harmonis dengan Zulfa dan kedua kakaknya, dan hal ini yang membuat Zulfa harus mandiri. Namun, keadaan yang seperti itu tidak membuatnya terpuruk. Zulfa adalah siswa berprestasi di sekolahnya, terbukti dengan prestasi yang diraih selalu menjadi top three di kelasnya.

Hari demi hari dilalui Zulfa ketika duduk di semester 2 kelas XII sambil mempersiapkan Ujian Nasional yang dilaksanakan bulan Maret. Zulfa adalah seseorang yang mempunyai impian untuk bisa melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Tapi sering kali Zulfa kebingungan memikirkan biaya yang harus disediakan olehnya, karena dia harus membiayai sendiri jika ingin kuliah, mengingat kembali bahwa ayahnya kurang memperdulikan dan memperhatikan Zulfa termasuk untuk pendidikannya.

Suatu ketika datanglah 3 orang mahasiswa Universitas Nasional PASIM (UNAS PASIM) Bandung yang membawa informasi beasiswa ke sekolah Zulfa, beasiswa itu bernama PUB (Pemberdayaan Umat Berkelanjutan), dimana beasiswa ini membebaskan seluruh biaya registrasi mahasiswa bahkan asrama dan uang sakupun disediakan. Ketika Zulfa mndengar informasi tersebut, terlihat wajah yang senang karena mendengar kesempatan emas yang dapat mengantarkannya ke bangku kuliah tanpa memikirkan biaya besar yang harus dikeluarkannya. Kebetulan test pertama beasiswa itu dilakukan satu minggu mendatang, sejak itu Zulfa langsung menyiapkan kelengkapan administrasi yang harus dibawanya ketika pendaftaran. Dengan hasrat yang tinggi waktu dua haripun selesai untuk Zulfa mempersiapkan seluruh kelengkapan administrasi, dan Zulfa melakukannya sendiri, mulai dari memepersiapkan surat rekomendasi sekolah, rapot sekolah, SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) dari kelurahan, sampai administrasi yang lainnya. Karena pada saat itu Zulfa belum mau memberitahukan kepada Ibu atau keluarga yang lainnya bahwa ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti test beasiswa kuliah,  sebab Zulfa hanya ingin memberitahukan keberhasilannya kelak setalah masuk ke perguruan tinggi dengan mendapatkan beasiswa, inilah Kado Terindah yang ingin diberikan Zulfa untuk Ibunya.

*************

Waktu untuk test pun akhirnya menghampiri, tepat dihari Senin jam 05.30 Zulfa langsung bergegas pergi dari rumah menuju kampus UNAS PASIM yang terletak di daerah Pasteur, pada waktu itu Zulfa pamit kepada Ibunya dengan alasan akan mengantar teman yang daftar kuliah. Dua jam kemudian tibalah Zulfa tepat di depan Graha UNAS PASIM, dengan bermodalkan nekad dan  niat untuk membahagiakan Ibu nya, dengan modal percaya diri Zulfa masuk dan langsung menuju ruangan test setelah memberikan berkas administrasi persyaratan yang harus dibawa.

“Bismillahirrahmanirrahiim, Lahaula Walaquwwata Illa Billa Hil’aliyyil ‘Azhiim…..”, kalimat tersebut yang dikeluarkan dari mulut Zulfa sebelum memegang ballpoint ketika akan mengisi soal.

 90 menitpun sudah dilalui oleh seluruh peserta test untuk mengisi soal, dikumpulkanlah lembar jawaban peserta test kepada pengawas, dan peserta test diminta menunggu sekitar 60 menit untuk menunggu hasilnya. Sambil berbincang-bincang dengan senior disana mengenai bagaimana beasiswa PUB dan bagaimana kehidupan di asrama, waktu 60 menitpun sudah lewat, dan masuklah panitia pelaksana test itu dengan segera mengumumkan hasil testnya. Nama demi nama yang dikeluarkan dari mulut panitia, belum ada yang menyebutkan nama Zulfa, dan akhirnya sampai nama yang terakhir tidak ada nama Zulfa yang tertera dicatatan panitia.

“Huuuuhhhh, mungkin ini belum saatnya aku memberi kado itu untuk Ibu, tapi aku akan tetap berusaha”, demikian perkataan Zulfa dalam hatinya.

Rasa kekecewaan itupun sidikit terobati ketika panitia mengumumkan kembali terkait adanya gelombang dua bagi peserta yang belum lulus pada saat itu, test itu akan dilaksanakan satu bulan mendatang.

Zulfa pun berucap dengan suara yang hanya terdengar olehnya, “Alhamdulillah, Allah tahu hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, aku akan pergunakan kesempatan emas yang kedua itu”.

**************

Sebelum test gelombang dua PUB, waktu Ujian Nasional pun datang, inilah waktu yang sangat menegangkan bagi Zulfa dan teman –temannya. Dengan ikhtiar yang sudah dioptimalkan disertai do’a, Zulfa menyerahkan semuanya pada Sang Khalik. Zakiah yakin Allah akan memberikan hasil sesuai dengan ikhtiar yang dilakukan oleh hamba-Nya.

*************

“4 hari UN pun sudah aku lalui, ikhtiar sudah ku optimalkan, Lulus UN pun selalu aku hantarkan disetiap do’a ku, tinggal menunggu jawaban-Nya. Yang harus kulakukan sekarang adalah bersiap untuk mengikuti test gelombang dua PUB”, ucapan Zulfa pada dirinya sendiri.

Suatu hari ketika selesai Ujian Praktek Biologi, kepala sekolah mengumpulkan Zulfa dengan teman-temannya yang merupakan siswa peringkat 10 besar di kelas XII IPA dan IPS. Ternyata disana disampaikan informasi beasiswa dari DIKTI yang diperuntukkan untuk siswa yang ingin masuk kuliah ke Perguruan Tinggi Negeri dengan keterbatasan ekonomi tapi mmpunyai kelebihan dalam bidang akademik, beasiswa itu bernama BIDIK MISI. Tapi entah kenapa ketika mendengar itu Zulfa tidak langsung merespon, dan ternyata Zulfa merasa tidak percaya diri.

“Jangankan masuk PTN yang di favoritkan orang banyak, kemarin pun aku belum bisa lulus di test PUB, apalagi PTN di Bandung seperti ITB, UNPAD dan UPI adalah kampus yang jadi target pertama orang elit yang mau kuliah, sepertinya aku enggan untuk bermimpi setinggi itu..”, ujar Zulfa mengeluh dalam hatinya.

Tapi kepala sekolah dan guru-guru yang lainnya tidak membiarkan Zulfa untuk melepaskan begitu saja kesempatan emas ini. Dengan dorongan kuat dari pihak tersebut, Zulfa pun akhirnya bersedia untuk mendaftarkan diri sebagai pelamar beasiswa Bidik Misi ke UPI Bandung, karena pihak sekolah menyarankan untuk mendaftar Bidik Misi di UPI dengan alasan kedepannya tenaga guru akan banyak dibutuhkan.

Zulfa pun dengan tidak tahu apa-apa tentang UPI dan tidak tahu apa-apa jurusan yang ada di UPI, karena atas dasar ingin bekerja di kantoran yang kelihatannya menarik, dipilihlah prodi Manajemen Perkantoran FPEB UPI. Dan pilihan dua karena disamakan dengan teman yang lainnya, Zulfa memilih jurusan PLB (Pend.Luar Biasa). Dengan mengucap bismillah Zulfa mengisi formulir pendaftarannya dan diberikan pada guru BK untuk langsung diserahkan ke pihak kampus yang bersangkutan.

Dalam hatinya Zulfa pun tidak begitu menaruh harapan besar untuk meraih beasiswa Bidik Misi, karena terlalu jauh untuk berharap mendapat beasiswa itu. Karena Zulfa akan mencoba mengikuti terlebih dahulu test gelombang dua PUB, Zulfa merasa pintu PUB sedikit lebih besar terbukanya dibandingkan dengan Bidik Misi. Membayangkanpun tidak pernah, apalagi untuk bermimpi kuliah di UPI dengan beasiswa Bidik Misi. Terlalu jauh rasanya bagi Zulfa.

****************

Hari test gelombang dua PUB pun datang, dengan hari, waktu keberangkatan dan alasan yang sama kepada Ibu nya Zulfa pun pergi ke PASIM. Test pun dimulai dengan waktu yang sama. 90 menit kemudian dikumpulkanlah semua lembar jawabannya, dan peserta diminta untuk menunggu kembali.

Ketika tengah bercakap dengan teman satu perjuangan, hasil pun sudah siap dibacakan. Jantung Zulfa kembali berdetak kencang ketika panitia menyebutkan nama-nama peserta yang lulus. Dan Alhamdulillah, akhirnya nama Zulfa disebutkan di urutan kedua terakhir. Muka tegangnya berubah 180 derajat menjadi penuh kesenangan.

Dengan lolosnya Zulfa di test pertama itu, masuklah pada tahap yang kedua yaitu test wawancara. Dengan menunggu giliran wawancara yang cukup lama sekitar 3 jam, akhirnya giliran Zulfa lah yang memasuki ruangan panas itu. Hanya keyakinan pada diri sendiri dan percaya akan pertolongan Allah lah yang membuat Zulfa dapat menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

30 menit sudah berlalu ketika Zulfa berada diruangan yang penuh ketegangan itu, Alhamdulillah Zulfa dapat melewatinya dengan lancar. Setelah semua peserta selesai test wawancara panitia pun memberitahukan bahwa pengumumannya akan disampaikan sekitar satu bulan kedepan, sambil menunggu hasil verifikasi dari pihak yayasan. Dengan penuh harapan Zulfa dan peserta yang lainnya bergegas meninggalkan kampus PASIM dengan keyakinan suatu saat nanti akan kembali dengan status mahasiswa PUB di kampus ini.

*******************

Hari demi hari dilalui Zulfa dengan menunggu keputusan dari pihak Yayasan PASIM. Dan akhirnya tepat satu bulan Zulfa pun menerima telepon dari pihak panitia yang menyatakan bahwa dirinya LULUS sebagai mahasiswa PUB UNAS PASIM 2010.

“Alhamdulillahirabbil’alamiin.. terimakasih banyak ya Allah atas kesempatan yang Engkau berikan, aku akan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya”, ucapan bahagia Zulfa.

Sesuai dengan apa yang direncanakan Zulfa dari awal, ia akan memberitahukan kepada Ibunya jika sudah lulus menjadi mahasiswa PUB. Zulfa menghampiri Ibunya, dan dengan perlahan-lahan menyampaikan keberhasilan yang diraihnya. Setelah mendengar semuanya, Ibu Zulfa merasa bangga, senang dan terharu pada anaknya.

“Zulfa anakku, Ibu bangga kepadamu, semoga kau sukses dengan apa yang sudah kau ikhtiarkan. Maaf Ibu tidak bisa memberi apa-apa selain restu dan do’a”, ucap Ibu Zulfa dengan erat memeluk anaknya.

****************

Sekitar satu minggu setelah pengumuman beasiswa PUB, Zulfa mendapat telepon yang sangat mengejutkan. Dan ternyata….. pihak UPI yang menghubunginya itu.

“Ini benar dengan saudari Zulfa? Saya dari Direktorat Kemahasiswaan UPI Bandung memberitahukan bahwa anda LULUS sebagai mahasiswa Bidik Misi di jurusan Pendidikan Manajemen Perkantoran FPEB UPI. Untuk informasi selengkapnya silahkan buka website UPI. Mohon dengan segera melakukan registrasi. Tidak usah membawa uang apa-apa karena anda dibebaskan dari seluruh biaya perkuliahan. Terimakasih!”, demikian kalimat singkat dan jelas yang dihantarkan oleh staff dirmawa UPI ketika menelpon Zulfa.

Dengan shock yang amat hebat, rasa gemetar tubuh yang kencang, Zulfa merasa sedang berada dalam mimpi indahnya yang jarang sekali menghampiri.

“Ya Allah, apa aku ini sedang bermimpi atau memang keajaiban-Mu yang memang datang kepadaku? Seorang seperti aku lolos menjadi mahasiswa Bidi Misi UPI yang mendapat beasiswa tanpa biaya registrasi dan tidak usah memikirkan biaya semesteran bahkan nantinya aku akan medapatkan biaya hidup yang cukup besar. Sungguh ini merupakan bukti dari kebesaran-Mu ya Allah, jika kau sudah menghendakinya, sesuatu yang sulit dipercaya untuk terjadipun dapat menjadi kenyataan. Terimakasih banyak ya Allah… terimakasih banyak atas kesempatan emas yang engkau berikan kepadaku, aku akan menjaga amanah-Mu ini”. Ucap syukur Zulfa yang merasa dirinya sedang terbang ke langit yang ke’7.

Zulfa bergegas menghampiri Ibunya, dan menyampaikan semua mengenai beasiswa Bidik Misi itu. Mulai dari awal dikumpulannya siswa 10 besar di sekolah, pengisian formulir sampai pada telepon yang sangat mengejutkannya.

“Kau memang anak baik, dapat membanggakan Ibu. Ini adalah Kado Terindah untuk Ibu nak. Ibu tidak akan pernah melupakan ini. Kejarlah cita-citamu setinggi langit, restu Ibu selalu bersamamu”. Ucap Ibu Zulfa sambil memeluk anaknya dengan tangisan kebahagiaan.

*****************

Tapi dengan diterimanya Zulfa sebagai mahasiswa Bidik Misi UPI sekaligus mahasiswa PUB UNAS PASIM membuatnya dilema untuk menentukan langkah. Disisi lain Zulfa ingin sekali merasakan bangku kuliah di PTN favorit, tetapi kekhawatiran akan kelancaran dan kebenaran beasiswa itu menjadi katakutan untuk masa depannya, karena Bidik Misi adalah program beasiswa pertama yang dikeluarkan oleh Dirjen DIKTI (Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi). Berbeda dengan beasiswa PUB yang sudah lama dikembangkan dan dijalankan, Zulfapun sudah mengetahui kebenaran beasiswa itu dari senior PUB yang sempat berbincang-bincang dengannya. Tapi Zulfa tidak menafikkan bahwa dirinya ingin tercatat sebagai mahasiswa yang kuliah di PTN favorit di kotanya sendiri.

Karena itu, Zulfa menyerahkannya semuanya pada Sang Pencipta Alam. Zulfa selalu berdo’a untuk diberikan petunjuk agar tidak salah dalam memilih jalan hidupnya. Shalat tahajud dan istikhorohpun tidak pernah Zulfa lewati sehari-harinya.

Tidak lama kemudian Zulfa mendapat patunjuk lewat informasi yang didapatkannya, dukungan yang mendatanginya, mimpinya serta perkataan Ibunya bahwa InsyaAllah Zulfa akan berhasil meraih mimpinya melalui beasiswa Bidik Misi. Dengan keyakinan pada diri sendiri dan kepercayaan pada Sang Pencipta akhirnya Zulfa memutuskan untuk memilih beasiswa Bidik Misi dan dengan terpaksa melepaskan beasiswa PUB. Hanya berharap ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan kepadanya. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyang….

Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan, tidak bias diukur dari status keluarga atau status sosialnya, semua manusia sama dihadapan Allah. Setiap orang berhak mendapat kebahagiaan lahir dan batin.

Kesungguhan lahir dan batin akan membuahkan hasil yang manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s