LBM Menulis: Hak dan Kewajiban yang Harmonis by Lulu Lailatusysyarifah (Esai)

hak-dan-kewajiban

 Hak dan Kewajiban yang Harmonis

Dewasa ini pelbagai program beasiswa sudah menjamur dimana-mana. Ada yang merupakan program dari pemerintah dan juga program dari swasta. Di luar hal darimana beasiswa itu berasal, tujuan pasti dari setiap program beasiswa tersebut tidak lain adalah untuk membantu serta mendukung peserta didik yang berpotensi akademik baik dan juga memiliki prestasi. Pada akhirnya mengacu pada tujuan utama pendidikan Indonesia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang 1945. Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, ada syarat yang harus dipenuhi oleh penerima beasiswa. Syarat tersebut beraneka ragam karena disesuaikan dengan tujuan khusus dari lembaga penyedia beasiswa tersebut.

Salah satu program beasiswa dari pemerintah adalah Bidik Misi. Bidik Misi merupakan beasiswa yang diperuntukan bagi mereka yang memiliki prestasi serta berpotensi akademik baik namun kondisi ekonomi tidak memadai untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dalam hal ini Perguruan Tinggi Negeri. Prasyarat utama untuk menjadi penerima beasiswa ini adalah berprestasi dan berasal dari keluarga tidak mampu secara finansial. Jika telah lolos seleksi dan ditetapkan sebagai penerima beasiswa Bidik Misi di suatu Universitas Negeri, maka penerima beasiswa tersebut harus memiliki IP yang tidak boleh kurang dari 2,75. Jika tidak memenuhi kewajiban tersebut, maka harus sudah siap menerima pencabutan beasiswa. Hal itu merupakan ‘harga’ yang harus dibayar para penerima beasiswa Bidik Misi atas dana beasiswa yang telah pemerintah berikan. Pemerintah berusaha untuk menciptakan hubungan timbal balik ‘simbiosis mutualisme’ dan sudah semestinya kita mendukungnya.

Namun fakta di lapangan menunjukan bahwa banyak penerima beasiswa Bidik Misi yang menyalahgunakan haknya, dalam hal ini dana beasiswa bulanan. Dana tersebut digunakan untuk keperluan sekunder bahkan tersier, seperti membeli handphone dan Gadget terbaru. Sementara kebutuhan primer, seperti membeli buku penunjang perkuliahan, biaya praktek, bahkan tabungan untuk biaya Skripsi atau Tugas Akhir terabaikan. Hal ini sungguh sangat ironis. Terlebih jika kewajiban untuk memperoleh IP minimal 2,75 tidak bisa dipenuhi.

Di era globalisasi ini, jika tidak pandai menahan hawa nafsu, maka akan terbawa arus buruknya. Penggunaan gadget dan handphone terbaru di kalangan penerima beasiswa Bidik Misi akan menimbulkan perbincangan hangat yang jatuhnya menjadi su’udzon atau buruk sangka. Paradigma yang muncul di masyarakat tentang Bidik Misi adalah identik dengan ‘tidak mampu’. Jadi akan muncul pertanyaan di benak masyarakat, mengapa yang tidak mampu justru bisa membeli barang mahal seperti itu. Dan jika akhirnya masyarakat melaporkan hal tersebut ke Dikti, maka beasiswa Bidik Misi akan dicabut.

Bukan tidak diperbolehkan untuk ‘menghadiahi’ diri, tapi akan lebih bijak jika penerima beasiswa Bidik Misi dapat mengimbangi antara hak dan kewajibannya. Masih banyak hal primer yang harus dipenuhi sebagai pertanggungjawaban terhadap pemerintah dan masyarakat, dan terutama pertanggungjawaban pada diri sendiri. Jangan sampai era globalisasi ini menggoyahkan tekad awal untuk senantiasa menuntut ilmu.

Kewajiban memperoleh dan mempertahankan IP minimal 2,75 merupakan hal yang tidak mudah. Tapi hal ini bisa menjadi salah satu alat pacu untuk terus meningkatkan prestasi. Jika IP bagus, maka peluang untuk berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik pun semakin banyak. Manusia yang cerdas adalah mereka yang mampu menjadikan kekurangan sebagai solusi atas permasalahan.

Setelah kewajiban terpenuhi, maka tidak akan menjadi masalah jika menuntut hak. Menggunakan uang bulanan beasiswa Bidik Misi untuk membeli barang sekunder dan tersier seperti handphone atau gadget merupakan salah satu hak. Namun cara menggunakan hak itu pun harus cerdas. Pemanfaatan teknologi, bukan dimanfaatkan teknologi. Seperti contoh, menggunakan gadget untuk tugas, berorganisasi, bahkan untuk berbisnis pencari penghasilan tambahan. Bukan untuk ‘riya’. Karena dalam kehidupan ini, kita yang harusnya menguasai keadaan, bukan kita yang dikuasai keadaan.

Menciptakan keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam hidup ini, akan memberikan manfaat besar bagi diri sendiri. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, jika cerdas dalam memanfaatkan keadaan. Pacu diri untuk terus berprestasi! Salam Bidik Misi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s