LBM Menulis: Dinamika Mahasiswa Bidik Misi dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia by Trias Abdullah (Esai)

1349360706210574051_300x225.07317073171

Dinamika Mahasiswa Bidik Misi dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

Oleh : Trias Abdullah

            Indonesia adalah negara yang sangat subur dan memiliki potensi alam yang luar biasa. Sebagai negara agraris, pertanian menjadi mata pencaharian terpenting bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Indonesia.go.id (diakses 10 Jan. 13) menjelaskan luas lahan pertanian di Indonesia lebih kurang 82, 71 % dari seluruh luas lahan. Lautan di wilayah Indonesia menghasilkan ikan yang potensi lestarinya diperkirakan sebesar 6, 4 juta ton per tahun. Belum lagi potensi hutan yang terdapat di pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra, memiliki kekayaan alam yang sangat kaya, baik Flora dan Fauna yang beraneka ragam, maupun hasil kayu yang luar biasa melimpah.

Namun kekayaan alam dan potensi bumi yang luar biasa tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya dalam bidang ekonomi. Republik.com (diakses tanggal 10 Jan. 13) Badan Pusat Statistik (BPS) memperoleh data dari survei yang dilakukan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2012 mencapai 29,13 juta orang. Kepala BPS Suryamin merinci dari jumlah penduduk miskin itu sebanyak 15,833 juta berada di Jawa. Dari jumlah itu, sekitar 7,119 juta penduduk miskin berada di kota, sementara 8,703 berada di desa. Perbandingan berdasar jumlah total penduduk, warga miskin di Jawa mencapai 11,31 persen. Setelah pulau Jawa, Sumatra memiliki jumlah penduduk miskin yang paling banyak yaitu 6,177 juta jiwa. Sebanyak 2,049 juta penduduk miskin Sumatra tinggal di kota, dan 4,127 tinggal di desa. Persentase penduduk miskin di Sumatra mencapai 11,31 persen. Istilah “anak ayam yang mati di lumbung padi” menjadi fenomena yang nyata hari ini kita saksikan, dimana banyak orang kelaparan di negeri yang kaya akan hasil bumi ini.

Dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, pemerintah telah berupaya dalam program Beasiswa Bidik Misi yang telah direalisasikan sejak tahun 2010 lalu dan merupakan program 100 hari Menteri Pendidikan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Sebagai upaya perbaikan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik, program ini patut untuk diapresiasi dan menyikapinya dengan memanfaatkan kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Pemerintah berusaha memberikan harapan pada rakyat miskin yang memiliki prestasi dalam bidang akademik. Walaupun sebenarnya untuk mendapatkan beasiswa ini merupakan hak semua anak bangsa.

Mahasiswa yang mendapat Beasiswa Bidik Misi merupakan siswa berprestasi pada jenjang pendidikan sebelumnya, hal ini akan membuka ruang lebih luas bagi munculnya anak bangsa yang terdidik di kemudian hari, baik terdidik secara akademik, mental ataupun keagamaan. Dengan meningkatnya kualitas keilmuan Masyarakat Indonesia di masa depan, maka akan memunculkan sebuah perubahan sosial masyarakat dalam konteks kesejahteraan. Hal ini yang kemudian akan membawa harapan bagi masa depan Bangsa Indonesia yang lebih cerah dan diakui secara kualitas oleh masyarakat dunia. Masyarakat yang memiliki taraf hidup sejahtera tentu memiliki ilmu yang mapan, baik dalam arti teori yang kemudian bisa dibagi dengan masyarakat sekitar, maupun ilmu yang dijabarkan dalam bentuk sebuah keahlian. Mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi ini diharapkan membawa perubahan bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya, menjadi pemutus mata rantai kemiskinan dan pembawa inspirasi bagi orang-orang ‘miskin’ lainya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui jalur optimalisasi potensi keilmuan.

Hari ini, dimana telah terealisasinya program Beasiswa Bidik Misi ini selama tiga tahun (terhitung sejak tahun 2010-2013), program ini mulai menampakan sejumlah permasalahan. Permasalahan ini memang merupakan bagian dari sebuah dinamika, dalam sebuah program, pasti akan ditemukan sebuah permasalahan yang perlu disikapi sebagai sebuah hikmah yang harus digali. Pada awal tahun 2011, ditemukan sejumlah kasus distribusi beasiswa Bidik Misi yang tidak tepat sasaran. Banyak ditemukan adanya data-data mahasiswa yang tidak valid dalam pencatuman ‘tingkat kesejahteraan’, atau dengan kata lain mahasiswa yang mampu secara pembiayaan studi di Perguruan Tinggi mendapat beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang tidak mampu-dan-berprestasi. Namun, permasalahan distribusi beasiswa ini cukup diurus oleh pihak-pihak ‘atas’ yang lebih berwenang dan kompeten untuk mengurus permasalahan ini. Ada permasalahan yang lebih relevan untuk dipecahkan oleh mahasiswa, yaitu kualitas mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi yang perlu di upgrade sesuai tantangan akademik untuk menjaga hasil yang diharapkan ke depan, sebagai bentuk pemenuhan pencapaian tujuan dari direalisasikan program ini. Dewasa ini banyak ditemukan mahasiswa yang mulai kehilangan konsistensi pencapaian prestasi di setiap semester. Kegiatan akademik akan terasa berat jika mental belajar tidak mengimbangi meningkatkan level kesulitan beban mata kuliah. Permasalahan yang sedang ‘menjangkiti’ banyak mahasiswa Bidik Misi ini terus bertambah dari hari ke hari. Dampaknya adanya sebuah fenomena pemanfaatan dana yang telah diberikan pemerintah secara tidak maksimal dalam arti pemerintah telah menjamin seluruh biaya pendidikan, namun pola belajar dari mahasiswa tetap saja tidak meningkat, malah cenderung menurun.

Dalam menyikapi permasalahan ini, memang belum diketahui bagaimana solusi yang pasti, karena sampai saat ini inti dari masalah tersebut masih dalam tahap identifikasi, apakah masalahnya ada pada kesadaran para mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi yang belum nampak pada pribadi mahasiswa tersebut yang kemudian akan di wujudkan dalam sebuah tindakan giat belajar, atau adanya kesalahan distribusi beasiswa yang menjadikan mahasiswa ‘tidak’ berprestasi mendapat beasiswa ini. Untuk menyikapi hal ini perlu tindakan solutif yang terintegrasi agar menjauhnya sebuah solusi parsial tanpa ujung, baik dari pihak mahasiswa sebagai variabel pemecah masalah pertama yang memiliki peranan sentral, atau pihak birokrat kampus sebagai pendukung dan penguat langkah-langkah strategis untuk kepentingan pemecahan masalah ini. Masa depan akan memunculkan sebuah permasalahan yang lebih pelik dari hari ini, oleh karena itu perlu ada penyesuaian diri menyongsong hari esok yang didefinisikan sebagai upaya peningkatan kualitas pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s