LBM Menulis: Dari Nothing Jadi Something by Erna Widiana (Esai)

i-can-do-it

DARI NOTHING JADI SOMETHING

Sekarang mungkin kita nothing..

Tapi nanti something..

Asalkan berjuang bersama..

Dari nothing jadi something..

Lirik lagu tersebut merupakan penyemangat bagiku, aku merupakan anak dari keluarga sederhana yang mempunyai cita-cita dan mimpi besar. Seorang siswi SMK yang bermimpi ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Mimpi? Ya bagiku itu hanya mimpi, aku ingin melanjutkan kuliah tanpa membebani kedua orangtua.

Namaku Erna Widiana, pada waktu itu aku merupakan seorang siswi SMK Negeri 11 Bandung di jurusan Akuntansi. Bingung? Ya bingung, mau melanjutkan kemana setelah lulus nanti? Sebelum menjadi siswi SMK, aku telah bercita-cita ingin menjadi seorang akuntan, maka setelah lulus SMP saya melanjutkan ke SMK jurusan Akuntansi.Saat menginjak kelas XII, banyak orang yang bertanya, mau lanjut kemana neng setelah lulus? Aku hanya menjawab insya Allah kalau ada rezeki akan diteruskan kuliah, kalau belum rezekinya mungkin akan kerja dulu. Berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua jika harus menguliahkanku nanti. Bingung, bimbang menyatu dalam benakku pada saat itu.

Hingga saatnya pihak sekolah mengumumkan bahwa ada beasiswa Bidikmisi bagi siswa yang ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Betapa bahagianya pada saat itu yang ku rasakan, kabar gembira yang harus ku sampaikan pada kedua orang tuaku. Alhamdulillah kedua orangtuaku merespon dengan baik, mereka turut bahagia mendengar kabar baik itu. Secepatnya, ayahku pun membantuku mengurusi berkas-berkas yang harus ku lengkapi. Awal yang baik, bagiku itu adalah awal yang baik. Allah telah memberiku jalan untuk meraih apa yang ku cita-citakan. Walau jalan itu tidak selamanya mudah untuk ku lalui, jalan itu kadang berliku, berbelok, dan berlubang. Semangat dan ikhtiar yang dapat mengantarkanku pada ujung jalan dimana keberhasilan itu dapat ku capai.

Hari berjalan demi hari, hingga saatnya Ujian Nasional (UN) pun telah selesai dan pengumuman SNMPTN Undangan pun telah dibuka. Alhamdulillah, dihari itu aku dan keluargaku bahagia karena aku  lulus dengan nilai yang baik. Namun, setelah kebahagiaan itu datang ternyata aku harus merelakan bahwa aku tidak lulus SNMPTN Undangan. Sedih, kecewa, bercampur menjadi satu harus menerima keputusan itu. Tentang mimpi besarku itu, aku mulai menyerah. Tetapi kedua orangtuaku tetap menyemangati dan meyakinkanku bahwa itu bukanlah akhir dari segalanya.

Setelah pengumuman SNMPTN Undangan dibuka, akupun mengikuti seleksi PMDK salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Namun, dengan berat hati aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku dinyatakan tidak lulus lagi. Semangatku mulai pudar saat itu, aku mulai menyerah dengan cita-citaku untuk meneruskan kuliah dan mendapatkan beasiswa Bidikmisi agar meringankan beban orangtuaku. Hari-hariku diliputi kesedihan, seperti tak ada semangat untuk menjalani hidup.

Tapi, aku teringat dengan pesan kedua orangtuaku bahwa, ”Ini bukan akhir dari segalanya. Rahasia Allah itu tidak ada yang tau, rahasia Allah itu akan indah, selama manusia mau berusaha untuk mencapai keindahan itu.” Mulai hari itu, aku kembali bersemangat dan yakin bahwa aku pasti bisa. Setelah itu pun aku memutuskan untuk bekerja, dan akhirnya akupun bekerja di sebuah pabrik. Capek? Ya itulah yang ku rasakan, ternyata untuk mendapatkan uang itu tidaklah mudah. Namun, aku tetap yakin dengan mimpi dan cita-cita itu, bahwa ada jalan lain untuk menggapainya.

Pada saat itu, ada satu jalan untuk mendapatkan Bidikmisi dengan mengikuti seleksi SNMPTN Tulis. Ditengah aktivitasku sebagai karyawan pabrik, aku terpikir bahwa SNMPTN Tulis itu merupakan sebuah jalan yang baik untuk meraih mimpi itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan mendapatkan bayaran Rp 100.000,00. Itulah upah pertamaku, bersyukur karena aku mendapatkan pengalaman berharga  bahwa tidak mudah untuk mendapatkan uang untuk membiayai hidup ini.

Setelah itu, aku terfokus kembali untuk mengikuti seleksi SNMPTN Tulis.  Hari demi hari terlewati, jadwal pendaftaran SNMPTN Tulis pun semakin sempit. Ketika aku yakin akan mengikuti seleksi tersebut, tapi yang ku dapatkan hanyalah celaan dari sana-sini. Masih ku ingat kata-kata itu, “Mana mungkin anak SMK bisa lolos SNMPTN Tulis? Kalau lolos juga hanya keberuntungan, makanya kalau ingin lanjut kuliah itu masuk SMA bukan SMK!!”. Itu merupakan salah satu perkataan temanku yang masih ku ingat, kaget, sedih, bingung yang aku rasakan setelah mendengar itu. Namun, teman-temanku yang lain menyemangatiku bahwa aku bisa dan harus mengikuti seleksi SNMPTN Tulis itu. “Erna, kamu harus yakin kalau kamu bisa. Jangan dengarkan apa kata mereka, jangan menyerah sebelum mencoba!”.

Mulai saat itu aku yakin dengan keputusanku bahwa aku harus mengikuti seleksi SNMPTN Tulis, orangtua pun mengizinkan dan terus menyemangati bahwa aku bisa. Ada sebuah lagu yang sering ku dengarkan dan menjadi penyemangat hari-hariku, lagu yang berjudul Yakin Bisa membuatku kembali semangat untuk menyambut hari esok akan lebih baik..

Sekarang mungkin kita nothing

Tapi nanti something

Asalkan berjuang bersama

Dari nothing jadi something

Kawan kita merapat

Menyambut sukses yang semakin dekat

Makin hebat membagi semangat

Yakinkan hati bisa

Berusaha biar wujudkan asa

Mari kita mengumbar semangat

Harus slalu oh positif thinking

Dari nothing jadi something

Jangan pernah oh negatif thinking

Dari nothing jadi something

Buang kata menyerah

Janganlah takut kita belum kalah

Lebih kuat menggenggam semangat…

Dengan menyanyikan lagu tersebut, seyum, semangat ku pun kembali muncul. Rasanya lega dan aku memantapkan hati untuk mengikuti seleksi SNMPTN Tulis. Sehari sebelum seleksi tersebut ditutup, aku pun mendaftarkan diri sebagai peserta SNMPTN Tulis Bidikmisi. Kebingungan kembali muncul, jurusan apa yang harus aku pilih. Ketika mengikuti SNMPTN Undangan dan PMDK, jurusan yang ku pilih yaitu Akuntansi karena aku ingin sekali menjadi seorang akuntan. Namun aku sadar, bahwa jurusan Akuntansi merupakan jurusan favorit di setiap Universitas dan tentu saja saingannya pun begitu banyak. Dan kali ini aku memutuskan untuk memilih jurusan Manajemen Bisnis UPI pada pilihan pertama, dan Pendidikan Kewarganegaraan UPI pada pilihan kedua.

Setelah itu, setiap hari aku belajar bersama dengan teman-teman yang akan mengikuti seleksi SNMPTN Tulis. Hingga waktu seleksi itu pun tiba, aku menangis pada saat itu melihat perjuangan seorang ayah yang luar biasa menyemangati dan mengantarkanku ke tempat pelaksanaan seleksi. Dalam hatiku berkata, “Ya Allah, mudahkan jalan hamba untuk mengikuti tes ini. Hamba tidak ingin mengecewakan kedua orangtua hamba yang begitu sangat menyayangi hamba dan rela berkorban untuk hamba.” Di hari-hari menunggu pengumuman SNMPTN Tulis dibuka, aku mengisi hari-hariku dengan membantu ayah dan ibu berjualan di pasar.

Aku sangat bahagia dan merasa dag-dig-dug yang tak terkira karena pengumuman hasil SNMPTN Tulis dibuka lebih awal. Dengan mengucapkan bismillah, aku pun pergi ke warnet untuk melihat hasil pengumumannya. Saat akan membuka website hasil pengumuman, aku tidak berani karena aku takut kembali gagal. Hingga akhirnya aku tutup layar monitor dengan selembar kertas. Perlahan-lahan aku buka selembar kertas itu dan ternyata Allohuakbar! Selamat Atas Keberhasilan Anda. Aku dinyatakan LULUS di jurusan Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Betapa bahagianya pada malam itu, aku berteriak lepas, menangis, dan bahagia saat membaca hasilnya itu. Badanku gemetar dan menjadi kaku karena sangat bahagia akhirnya aku lolos SNMPTN Tulis.

Lalu, akupun beranjak pulang ke rumah dengan bercampur haru bahagia, aku pun langsung menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada Ibu dan adikku karena pada saat itu Ayah masih bekerja. Ibu dan adikku langsung memelukku, sujud syujur yang kami panjatkan atas kebahagiaan ini. Aku dan Ibu pun menunggu Ayah hingga pulang karena ingin sekali menyampaikan kabar bahagia ini. Saat beliau pulang, aku pun gemetaran karena sangat bahagianya dan ibulah yang menyampaikannya kepada Ayah. Ayah pun langsung memeluk dan menciumku, Ya Allah betapa bahagianya dapat merasakan pelukkan seorang Ayah dan Ibu. Mereka pun berpesan “Jadilah anak yang solehah nak, tetap semangat untuk menjalani hari-hari selanjutnya setelah ini. Karena jalanmu masih panjang. Berkhusnudzan lah kepada Allah atas setiap cobaan yang kau dapatkan nanti dengan tetap berpegang teguh kepada-Nya.”

Setelah menerima hasil pengumuman itu, aku menjadi lebih ceria dan sangat bersemangat. Namun, ujian tetap datang setelah kebahagiaan itu datang. Beberapa orang mencela dengan berkata, “Masuk Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) aja bangga! Nagapain jadi guru PKn, mendingan jadi akuntan cantik!”. Sakit rasanya mendengar perkataan itu. Tapi aku tetap tegar dan yakin bahwa ini adalah jalan yang Allah berikan untukku. Kita tidak pernah tau, rahasia apa yang akan Allah berikan dibalik setiap peristiwa. Tidak semua orang beruntung dapat merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Bersyukur atas segala nikmat-Nya adalah cara agar kita terhindar dari kufur. Aku yakin bahwa ini adalah jalan untuk meraih mimpi-mimpiku. Jangan berhenti pada satu cita-cita atas apa yang telah engkau cita-citakan, karena apa yang menurutmu baik belum tentu menurut Allah baik pula. Alhamdulillah, kini aku menjadi seorang mahasiswa salah satu penerima Bidikmisi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).Dari Nothing jadi Something…

 

  Oleh: Erna Widiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s