LBM Menulis: Untaian Tasbih Pengharapan by Devi Nur Silvia (Cerpen)

27-117-thickbox-e1303832192730

Untaian Tasbih Pengharapan

Oleh: Devi Nur Silvia

 

(Selasa, 15 Januari 2008)

            Hari ini, entah kenapa aku merasa sosok Bapak jarang sekali menampakkan dirinya di rumah kami, istana kami. Bapak, dengan ketenangannya dalam menghadapi segala masalah, hari ini tidak seperti biasanya. Bapak lebih sering pergi, dan aku tak tahu kemana Bapak pergi.

“Ma, Bapak kemana?” tanyaku sedikit ragu. Hampir seharian penuh Mama jaga warung, bahkan saat aku pulang sekolah pun Mama masih saja ada di warung, menjaga satu-satunya lahan usaha keluarga kami, wirausaha.

“Sini Neng! Mama ingin bicara. Neng mau tahu Bapak kemana?” tanya Mama.

“Iya, Ma. Emang Bapak kemana?” tanyaku dengan rasa penasaran yang semakin menggebu dan bergejolak di hati. Bagaimana tidak, aku rasanya sudah lama tidak melihat Bapak bepergian dengan waktu selama ini. Aku khawatir…

“Neng…” suara Mama tersendat, menahan isak yang ku rasa bukanlah isak yang biasa. Aku merasa ada kepedihan dalam isak itu, jelas aku merasakannya.

“Kenapa, Ma?” jawabku semakin penasaran.

“Asal Neng tahu. Bapak dari tadi pagi pergi cari uang buat bayar uang sekolah Neng. Bapak jual botol plastik bekas pakai gerobak ke tukang loak untuk cari uang tambahan. Setelah Neng cerita tentang teguran dari sekolah karena Neng belum bayar SPP dan Neng ngerasa malu karena itu, Bapak jadi kepikiran. Bapak kesana-kemari cari botol plastik bekas buat dijual lagi, Neng. Makanya Neng harus rajin belajar ya, biar usaha kami gak sia-sia…” jelas Mama.

Ya Allah, betapa ingin meledak tangis ini.

Tak berselang lama setelah Mama menyelesaikan kalimat itu, tetesan air mata mengalir tanpa perintah di pipiku. Aku menangis di hadapan Mama, sosok wanita terhebat yang pernah aku kenal. Tangis ini meledak, bagaimana tidak. Bapak terbebani karena aku. Bapak banting tulang karena aku, dan yang lebih meyakitkan lagi, Bapak seperti ini karena aku merasa malu! Betapa tidak bergunanya aku…

 

(Senin, 2 Februari 2010)

            Saat ini, aku duduk di kelas 2 SMA. Bahkan hanya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA pun, aku harus mempertahankan argumenku kala berdebat dengan Bapak. Bapak sebenarnya berharap aku bisa sekolah di SMK agar peluang untuk bekerja lebih besar, namun aku menolaknya. Aku ingin menjadi seorang pendidik, maka aku harus kuliah. Aku tetap memperjuangkan keinginanku, karena aku rasa ini baik bagiku.

“Ya, sekarang pengumuman juara umum ya. Tolong minta perhatiannya sebentar!” tegas Kepala Sekolah. Memang menurut kalender pendidikan sekolahku, hari ini adalah pengumuman juara umum, dan agenda ini selalu dilakukan setiap awal semester baru.

Juara umum. Rasanya aku ingin mendapat predikat itu. Aku ingin, sangat ingin…

Satu-persatu juara umum disebutkan. Kami bersorak saat Kepala Sekolah menyebutkan nama sang juara. Hati ini cemas, berharap. Namun harap ini dengan cepat aku tepis. Aku tak ingin harapan ini justru akan membuatku terjatuh ke dalam lubang kekecewaan.

“Sekarang Bapak akan menyebutkan juara umum kelas 2 IPA ya. Ada tiga orang juara. Bapak akan menyebutkan dari juara 3 dulu. Tolong diam sebentar!” lugas Kepala Sekolah.

Kami terdiam. Hening. Rasanya degup jantung ini berdetak semakin cepat. Mungkin saja kalau tidak ada tulang rusuk yang menghalangi jantungku, suara degupan ini akan terdengar sangat jelas, memecah keheningan.

“ini dia juaranya! Juara umum 3 adalah Ricky Dwi Septianto kelas XI IPA 5. Juara umum 2 adalah Alfi Taufik Fathurahman kelas XI IPA 2. Juara umum 1 adalah Devi Nur Silvia kelas XI IPA 2!”

Gemuruh ucapan selamat itu tak aku hiraukan. Aku masih saja terdiam, tak menyangka. Aku tak bisa berkata-kata lagi, bibir ini rasanya membeku, dan degup jantung ini rasanya berhenti. Bagaimana tidak. Barusan namaku disebut sebagai sang juara. Ya, Devi Nur Silvia adalah namaku, yang beberapa menit lalu disebut sebagai sang juara. Mimpi atau bukan, tapi kenyataannya akulah sang juara!

“Kepada orang-orang yang namanya disebutkan barusan, silakan ke depan untuk menerima penghargaan!” suara Kepala Sekolah memecah lamunanku.

            Aku berjalan ke depan peserta upacara, tepatnya naik ke mimbar. Berjalan pun rasanya tak berjalan. Aku masih saja sibuk dengan lamunan dan pertanyaanku. Benarkah ini nyata?

Sejak kejadian itu, peluang untuk mendapat berbagai macam beasiswa semakin terbuka lebar. Beasiswa sekolah, beasiswa kerjasama, dan beasiswa bimbingan belajar gratis. Sungguh, aku merasa kemudahan-Nya setelah kesulitan benar-benar aku rasakan.

Biaya sekolah, biaya buku, dan SPP, kini semua itu bukan lagi penghalang untukku. Dengan beasiswa, aku dapat melunasi semuanya. Aku tidak lagi membuat Bapak menjual botol plastik bekas seperti dulu.

“Neng, SPP berapa lagi yang belum dibayar?” tanya Bapak saat kami sedang berbincang santai di warung.

“Alhamdulillah udah dibayar semua kok, Pak. Kan ada beasiswa.”

“Oh alhamdulillah. Udah lunas?”

“Iya, Pak.”

“Maaf ya, Neng. Harusnya uang beasiswa itu untuk bantu-bantu biaya sekolah Neng yang lain, bukan untuk bayar SPP soalnya itu kan kewajiban orangtua. Maaf ya, uangnya jadi terpakai, padahal harusnya Bapak yang bayar. Nanti kalau Bapak udah punya uang, Bapak ganti uang beasiswa yang udah Neng pakai buat bayar SPP ya. Gak sekarang tapinya, Bapak belum ada uangnya.”

            Jleb. Paparan itu membuat hatiku tersayat untuk kedua kalinya. Hutang? Uang beasiswa yang aku gunakan untuk bayar kewajiban Bapak, Bapak bilang sebagai hutang? Lalu bagaimana dengan biaya hidupku selama 17 tahun ini? Kalau itu dianggap sebagai hutang, harus dengan apa aku membayarnya?

Banyak tawaran untuk memasuki universitas ternama tanpa seleksi terlebih dahulu. Nasibku sekarang dapat dikatakan beruntung. Betapa tidak, di saat orang lain berlomba-lomba untuk memasuki universitas ternama, di saat orang lain kesulitan untuk mengecam pendidikan di Indonesia, dan di saat orang lain masih sibuk dengan urusannya sekarang, aku sudah mendapat tiket untuk memasuki gerbang kehidupan yang baru. Oh Allah, Kau memang Maha Pengasih.

            Berbagai macam tawaran dari universitas-universitas swasta, dengan sangat disesalkan harus aku tolak, karena aku masih saja bersikukuh dengan mimpiku untuk menjadi mahasiswi Jurusan Pendidikan Biologi UPI. Mimpi yang patut untuk aku perjuangkan. Mimpi yang telah menungguku sejak lama untuk diwujudkan. Mimpi yang telah membuat aku bertahan hingga saat ini. Mimpi yang sebentar lagi akan menjadi nyata.

(Selasa, 17 Mei 2011)

Waktu berlalu begitu cepat, hingga bayangku saja tak mampu untuk mengejarnya. Kini tiba saatnya pengumuman penerimaan mahasiswa baru lewat jalur undangan atau dahulu disebut jalur PMDK.

Pengumuman ini tidak terjadi begitu saja. Perjalanan selama pendaftaran yang cukup panjang, membuat aku harus dengan ikhlas membiarkan tenagaku habis hanya untuk mondar-mandir ruang kesiswaan di sekolahku. Tanya guru ini, tanya guru itu. Isi formulir ini, isi formulir itu. Aku habiskan hari itu hanya untuk mendaftarkan diriku agar dapat menjadi mahasiswi UPI dengan predikat penerima beasiswa Bidik Misi.

Siapa sangka, ternyata usahaku tidaklah sia-sia. Tanggal 17 Mei 2011, adalah hari dimana aku merasakan bahwa penantian dan usahaku selama ini telah diberi penghargaan oleh-Nya.

“Neng, pengumumannya hari ini ya?” tanya Bapak. Wajahnya yang menenangkan membuatku yakin untuk mulai membuka koneksi internet di rumahku agar dapat melihat pengumuman online tersebut. Gugup? Tentu saja. Siapa pula orang di dunia ini yang tidak gugup saat akan mendengar bagaimana nasib kehidupannya di masa mendatang?

“Iya, Pak. Minta doanya ya, Pak. Ini mau buka internet dulu.” Jawabku mencoba sesantai mungkin. Memperlihatkan bahwa semuanya baik-baik saja. Sungguh, ini kegugupan cetar membahana yang aku rasakan kembali setelah pengumuman kelulusan UN beberapa minggu yang lalu.

“Iya sok Bapak doakan. Semoga lulus ya, Neng. Bapak janji mau gendong Neng kalau Neng lulus. Hehehe.” Jawab Bapak meluluhkan kegugupan ini.

Aku memang sedikit tertawa mendengar perkataan Bapak, tapi tawa itu tak mampu menahan kegugupan ini. Aku perhatikan dengan seksama layar komputerku. Bapak, Mama, Nita, Fani, dan Nenek kini berjejer di belakangku.

Satu menit, layar komputer masih mencoba mengumpulkan nyawanya. Dua menit, koneksi internet baru saja terhubung. Tiga menit, webpage baru saja terbuka. Perlahan aku ketik alamat web penerimaan mahasiswa baru, log in, dan sisanya menunggu. Lumayan lama untuk masuk ke web tersebut, wajar karena bukan hanya aku saja yang melakukan hal ini. Jutaan calon mahasiswa di seluruh Indonesia mungkin melakukan hal yang sama denganku, hari ini. Tepatnya saat ini.

DEVI NUR SILVIA

LULUS DI JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI UPI

            Kalimat itu, kalimat itu!!!

Kalimat yang selama ini aku nantikan kini aku dapat dengan luwes membacanya secara langsung. Kalimat itu ada di hadapanku. Kalimat itu nyata, di hadapanku!!

“Pak, Neng luluuuuuuuuuuuuuuuuuuus!” bergetar bibirku mengatakannya.

“Alhamdulillaaaaah…” serentak kami mengucapkan syukur kepada-Nya.

Bapak langsung menggendongku yang sudah berusia 17 tahun di depan banyak orang. Malu sebenarnya, tapi apa boleh buat. Kebahagiaan ini membuatku tak berdaya untuk berucap, hanya bisa meneteskan air mata haru, begitupun dengan keluargaku.

Kami menangis. Tangis yang berbeda dengan tangis kekecewaan tiga tahun lalu saat Bapak menjual botol plastik bekas itu. Tangis ini melambangkan keharuan dan kebahagiaan yang mendalam. Sebuah tangis penyempurnaan jawaban penantian.

“Alhamdulillah, Neng. Selamat ya!” ucap keluargaku. Ucapan selamat yang benar-benar menggugah hati. Ucapan selamat yang malah membuat tangisku semakin keras. Aku bahagia, sungguh aku bahagia, Ya Allah…

“Neng, tapi beasiswanya gimana? Dapat juga?” tanya Bapak di sela kesibukanku dalam tangis. Pertanyaan yang menyadarkanku bahwa masih ada penantian yang belum terjawab. Aku mulai membenahi hatiku.

“Iya ya, Pak. Nanti Neng coba tanya dulu ke nomor yang tercantum di sini. Semoga aja dapat ya, Pak. Aamiin.” harapku mencoba menenangkan.

            “Iya, aamiin.”

(Jumat, 20 Mei 2011)

Setelah mendapat jawaban dari contact person Bidik Misi, aku harus melakukan penantian kembali. Aku harus menanti pengumuman beasiswa yang katanya akan diumumkan hari ini lewat sms. Gugup untuk yang ke sekian kalinya. Kegugupan yang sama.

Setiap ada sms, aku langsung membukanya, berharap itu adalah sms dari contact person Bidik Misi, namun ternyata bukan. Aku menanti, dengan setia di hadapan handphone kesayangan. Aku menanti, dengan penantian yang sama.

Sms baru kembali membuat handphoneku bergetar. Rasanya aku sudah lelah karena setiap kali aku bergegas membukanya, yang ada hanya sms kurang penting. Malas, sangat malas untuk membuka sms ini, apalagi nomor yang tidak ku kenal. Mungkin hanya orang iseng, pikirku.

“Buka Neng smsnya! Siapa tahu dari Bidik Misi.” Mama mencoba mengingatkan. Perlahan aku membukanya. Ku baca kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai akhirnya aku sadar bahwa itu sms dari Bidik Misi. Kalimat itu, kalimat jawaban penantianku untuk kedua kalinya. Kalimat itu menjawabnya.

“Ma, Pak! Neng dapat beasiswaaa!” sorak kegirangan kini mulai membahana.

“Alhamdulillah. Beneran, Neng? Alhamdulillah, sukses ya Neng. Jadi anak yang rajin ya! Lihat betapa Allah memudahkan jalan Neng untuk menggapai cita-cita.” Mama kembali menangis. Oh Allah, aku merasa benar-benar bahagia dengan semua takdir-Mu. Terima kasih…

            “Iya, Ma. Alhamdulillah…” aku menangis kembali. Lebih sendu rasanya.

Malam ini aku kembali tersungkur di hadapan-Nya. Merintih, mengharu biru. Bukan rintihan kekecewaan, melainkan rintihan penyesalan. Aku menyesal karena selama ini telah berjalan jauh dari kehendak-Nya. Aku terlalu sibuk dengan mimpiku, hingga hanya untuk menyapa-Nya pun rasanya sulit ku lakukan. Namun kini aku tersadar. Aku tersadarkan dengan cara-Nya yang indah untuk menyadarkan.

Siluet-siluet masa lalu mulai memenuhi pikiran. Perjalanan panjang yang telah ku tempuh menguatkanku untuk mulai merangkai asa di masa depan. Aku semakin yakin bahwa nikmat-Nya senantiasa mendampingiku, juga keluargaku.

Harapan itu masih ada. Untaian doa terlantun lirih di malam-Nya, begitupun dengan untaian tasbih pengharapan yang akan selalu mengalun indah, berpilin syahdu di atas langit kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s