LBM Menulis: Uzumaki Naruto Versiku by Nunung Fitriani (Cerpen)

Untitled

Udara dingin yang diiringi suara gemercik air hujan di sore ini tengah menenggelamkanku. Aku menutup rapat pintu kamar kostanku. Aku merasa ini semua akan berakhir. Ayahku, sosok pria yang sangat aku sayangi dan kuhormati terbaring lemah tak sadarlan diri di sana, di tempat kelahiranku. Inipertama kalinya beliau jatuh sakit dibawa ke dokter dan beliau dikatakan seperti orang amnesia yang tak dasar apapun. Dadaku terasa sesak, berat dan sakit sekali mendengar berita itu yang disampaikan adikku lewat pesan singkat. Aku mencoba menenangkan diri dan beristigfar beberapa kali. Namun air mataku terus berlinang membasahi pipiku dan membuat mataku sembap. Aku bertanya pada hatiku, “Kenapa ibuku tidak memberitahukan ini padaku? Kenapa?”.

Aku melirik barisan tentara buku di pojok kamarku. Ingin rasanya aku membuang itu semua dan membakarnya. Aku merasa lelah dengan semua ini. Perjuangan dan pengorbananku rasanya tidak ada artinya selama ini. “Astagfirullohal’adzim.. Aku tidak boleh kufur nikmat seperti ini. Maafkan aku ya Alloh”. Aku beristigfar kembali.

Warna biru itu menarik perhatianku untuk membuka isinya. Catatan sejarah hidupku di sana. Sertifikat, ikazah, raport, piagam penghargaan, serta kertas-kertas lain tentangku ternyata masih tersimpan baik di sana. Aku membuka lembaran sejarah SMA  di raportku. Ya.. masa-masa yang penuh sensasi dan kenangan  bagiku. Ku tersenyum melihat pas foto hitam putih yang terpampang polos di sampul raportku itu. Teringat kembali ketika foto itu diambil. Dulu ketika aku telah memenangkan Olympiade Matematika se- kabupaten tingkat SMP itu meskipun bukan juara pertama, tapi aku merasa senang sekali. Satu juta rupiah bukanlah uang yang sedikit untukku. Terlihat senyum bahagia di wajahnya ketika ku hadiahkan rezekiku itu pada ibuku.

Kembali ke catatan sejarahku di SMA. Pada saat itu, aku  telah menemui adik kelasku untuk memberikan arsip dokumen OSIS angkatanku selaku mantan sekretaris OSIS padanya. Aku kembali menuju kelas. Suasana pada saat itu sangat bising sekali. Aku melihat selembar kertas di atas mejaku. Itu mengingatkanku atas kejadian semalam. Aku bersikeras meyakinkan orang tuaku bahwa aku ingin melanjutkan kuliah. Di sana aku bertengkar dengan mereka. Omelan dan ceramahan panjang yang hanya kudapat bukan motivasi atau kata-kata penyemangat. “Tahu diri dong! Untuk kebutuhan sehari-hari saja pas-pasan! Lihat keluargamu!  Lihat adik-adikmu! Mereka juga perlu biaya, jangan egois! Blaaa………blaaaaa..blaaaaaaaaa”. CUKUP ! aku tidak mau mengingat pertengkaran itu. “Ini? Kertas Formulir Pendaftaran Masuk Universitas ? Harus aku apakan sekarang?!”, sedikit kesal ku memegang kertas itu.

Terkadang aku merasa sedikit iri pada teman-temanku. Mereka terlihat mudah menjalani hidup ini. Tak perlu memikirkan bagaimana mendapatkan uang sendiri, tak perlu berkeringat dan tak perlu banyak bicara ketika mereka menginginkan sesuatu pada keluarganya. Tak seperti aku. Untuk mendapatkan uang tambahan saja untuk kebutuhan sekolah, aku harus berjualan makanan buatanku sendiri di kelas dan memberikan les pada temanku yang membutuhkan bantuanku. Sejak SD sampai sekarang, aku hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa bersekolah. “Ya ampun ! Sadarlah! Aku adalah aku! Aku bukan mereka ! Hidup itu sulit, butuh perjuangan! Aku harus banyak bersyukur! Masih banyak di luar sana yang tidak seberuntung aku!”, hati kecilku terus mengingatkanku.

Aku tidak menyadari bahwa dari tadi namaku dipanggil wali kelas. Aku berdiri dan melangkah menghampirinya. Terdengar suara anak pria yang menggelutuk, “Pantas saja dia gak dengar pak! Dia keenakan denger lagu-lagu alay boyband korea sih! Lihat saja tuh!”. Sekelas mentertawakanku. Aku baru sadar. Aku lupa melepas hedset dari telingaku. Padahal sebenarnya dari tadi aku telah mem-pause music player di hape bututku itu. Kulihat di depan sana badan besar dengan kumis baplangnya yang menyeramkan. Aku menelan air liur di mulutku dan berceloteh, “Gawat! Gawat! Gawat! Guru ini akan memakanku hidup-hidup”. Suasana kelas menjadi hening, menantikan kelanjutan dari kesalahanku. Aku telah berada di samping wali kelasku. Menceramahiku sambil melototiku. Beliau menyuruhku mengumpulkan kertas formulir itu. Aku tidak mau memberikannya. Ketika beliau hendak marah, kupalingkan wajahku. Aku berlari meninggalkan kelas sambil menangis . Aku tidak peduli dengan anggapan orang yang melihat kejadian itu.

“Bruuuggggg  .. .. !!!”. Aku menutup dan mengunci pintu kamar mandi. Di sana aku menangis ditemani suara air yang mengalir dari kran yang aku hidupkan. Bayangan wajah orang tuaku, adik-adikku, sahabat-sahabatku, guru-guruku dan wajah  idolaku terlintas pada saat itu. “Aku ingin seperti mereka! Dihormati, dihargai dan diagug-agungkan! Mereka yang punya status social tinggi dan dipuji banyak orang!”, Berulang kali aku mengulang kata-kata itu.

Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku yang menjongkok di samping pintu kamar mandi baru tersadar bahwasanya sejak tadi aku tertidur. Aku melihat jam di tanganku , “Jam 10.45 ??? Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa???!!!!! Aku kehilangan kelas matematikaku 15 menit!!”. Aku membuka pinru kamar mandi itu dan pada saat itu, kurasakan hangatnya dekapan seorang sahabat yang menenangkan hatiku. Ingin rasanya air mataku mentes kembali. “Lho ngapain setengah jam diem di WC? Pingsan? Sakit Perut? Bikin menera buat ngalahin Eifell? Atau jangan-jangan bikin tarian aneh lagi? Gak bau?”, sahabatku terus menanyakan pertanyaan tanpa ada jeda, koma, atau pause-sekalipun. Aku hanya nyegir dan berkata, “Hehehehehe… anuuu.. gue sakit perut. Tahu lah lho juga kalau perut gue kambuh gimana efeknya”. Lagi-lagi sahabatku menceloteh kembali, “Beuuuhhh dasar.. Oh iya.. tadi gue lihat banyak  mahasiswa berjaster ngenalin universitasnya dan ngasih informasi lain juga. Gue juga denger tentang…tentaaaangg… apaaa yaaaa.. Dikkk.. Bidikkk.. ah entah lah apa itu! Gue lupa!”, berjuang mengingat sambil menggaruk-garuk kepala. Dengan muka datar aku tak terlalu meresponya. Wajah sahabatku terasa akan menanyakan beberapa runtutan pertanyaan kembali, aku langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya berlari menuju kelas.

Esok harinya ketika aku berjalan di koridor sekolah. Terdengar suatu kata aneh di telingaku. BIDIKMISI. DIKTI. BEASISWA. Aku sangat tidak memperdulikan berita itu. Aku hanya berpikir bahwa beasiswa itu hanya untuk siswa pintar yang masuk ranking umum. Andai aku bisa mengulang tiga tahun yang lalu menjadi lulusan terbaik ke-4 di SMPku dan masuk rangking umum di sekolah sekarang. Mungkin ada kesempatan aku akan menerima beasiswa itu. Tapi sudahlah! Itu masa lalu!.

Kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Seolah ada sosok Naruto yang mengeluarkan jurus rasengannya jatuh tepat di kepalaku. Aku menoleh ke belakang. Deretan gigi tentara di wajah itu kembali menjahiliku. Ternyata orang itu menjitak kepalaku.. “Gajah bengkak Gesyyyyyyy !!!!!!”, sedikit kesal aku berteriak. “Habisnya lho mah dipanggil gak nyaut terus sih. Ya udah, itu cara paling jitu!”, nyengir tanpa dosa. Tidak mau kalah dengan omongan itu aku membalasnya, “Tapi gak gitu juga kali! Bisa-bisa lho malah ngerusak sel-sel saraf yang ada di otak gue. Entar kalau gue mati gimana?!”. Gesy, teman sebangkuku di SMA itu hanya nyengir menampilkan deretan gigi tentaranya, “Ya udah. Gue minta maaf. Lho dipanggil bu Lilis tuh sekarang, Penguin Buntet!”. Aku merasa penasaran dengan pernyataan sahabatku itu. Dia hnya memberikan ucapan selamat padaku. Aku merasa tambah heran.

Dengan wajah datar tak berekspresi, aku meninggalkan sahabatku itu dan bergegas menuju ruang BK. Baru saja kulangkahkan kakiku, kini pundakku merasa sakit terkena jurus rasengan naruto itu lagi. Terlihat di lantai sebuah penghapuspapan tulis bergetak tidak berdosa dijadikan tumbal.  Aku kembali menoleh ke belakang. Gajah bengkak itu tertawa lepas dan menyemangatiku dengan mengepalkan kedua tangannya dan berteriak, “Aza – aza FIGHTING!!”.

Tiba di ruang BK. Sosok guru motivatorku tersenyum mempersilahkanku duduk di dekatnya. Beliau bertanya seputar kehidupanku di rumah seperti apa. Beliau sangat simpati padaku. Tanpa beban aku mencurahkan semuanya. Sekuat tenaga aku menahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Aku tidak mau terlihat lemah di mata orang lain. Aku terkejut. Sangat terkejut. Beliau menunjukan surat edaran pemberitahuan tentang BIDIKMISI yang dikeluarkan oleh DIKTI. Aku merasa heran. Pada saat itu, aku disuruh untuk melamar sebagai calon penerima beasiswa itu dan mengisi formulirnya beserta formulir  SNMPTN Undangan. “Apa ini benar? Apa ini bukan mimpi? Apakah aku akan mencapai impianku? Aku? Aku seorang anak buruh? Seorang kakak beradik tiga? Aku yang berasal dari keluarga pas-pasan? Akankah meraihnya?”, pertanyaanku sendiri  itu terus mendatangiku.

Dipersyaratan SNMPTN Undangan dan Bidikmisi disebutkan bahwa salah satu syaratnya adalah siswa yang mempunyai nilai raport diatas 8,5 dan harus mengalami kenaikan di setiap semesternya berhak mencalonkan diri. Pada saat itu, aku hanya seorang siswa yang mendapat ranking 16 di kelasnya, bukan siswa yang ranking 1 atau 2 yang dulu. Tapi, kata beliau aku memenuhi persyaratan tersebut meskipun pada semester lima itu prestasiku menurun namun nilaiku sebenarnya mengalami kenaikan. Guru motivatorku itu terus memberiku semangat dan membantuku selama proses pendaftaran. “Terima kasih ya Alloh. Kau masih memeberiku jalan sampai saat ini. Kau selalu menyayangiku”, tak hentinya aku bersyukur. Shalat malam, shalat dhuha, shalat hajat, salawat Nariyyah dan lantunan ayat suci Al-Qur’an senantias menjadi sahabat sejati dalam hidupku.

19 Mei 2011. Ba’da Maghrib setelah aku bertadarus. Aku mendapat pesan singkat dari teman-temanku di sekolah. Mereka memberitahuku bahwa pengumuman SNMPTN Undangan telah keluar. Banyak diantara mereka yang tidak lolos, padahal mereka termasuk juara umum di kelas. Aku merasa takut pada saat itu,  “Akankah aku lolos?? Mereka orang pintar saja belum beruntung. Apalagi aku? Ya Alloh”.

Daggggg…Diiiigggggg…DDuuuuggggg…Daaaggg…Diiigggg…Duuggggg, detak jantungku berdetak sangat kencang seolah tersengat listrik bertegangan tinggi. Aku tidak memberitahukan keikutsertaanku dalam SNMPTN Undangan dan BIDIKMISI itu pada orang tuaku. Aku tidak ingin selalu menyusahkan mereka terus. Ingin rasanya aku melihat pengumuman online itu. Tapi aku tak bisa. Aku sedang diamanahi menjaga adiku yang sakit di rumah.akhirnya aku hanya bisa berdoa meminta yang terbaik pada saat itu.

Esok harinya di lab. Computer sekolah. Aku sudah terjaga menanti halaman web yang sedang loading. Aku memejamkan mataku membayangkan orang-orang yang aku sayangi tersenyum mendengar berita baik dariku. Keluargaku, sahabatku, guruku, Idolaku dan motivasiku 2PM, Rain, Super Junior dan SNSD. Kubacakan kalimat basmalah berulang-ulang. Dan akhirnya aku membuka mataku,

“SELAMAT ANDA DITERIMA DI JURUSAN PGSD UNIVERSITAS PENDIDIKAN KAMPUS CIBIRU”

Aku hanya melongo seperti orang bego. “PGSD? Kenapa PGSD? Kenapa bukan Matematika? Teknik Sipil? Fisika atau Bahasa Jerman? Kenapa?”. Waktu seakan ter-pause beberapa saat. Aku baru sadar bahwa pada saat registrasi online dulu melakukan pengubahan jurusan yang aku pilih beberapa kali. “Gak apa-apalah! Yang penting aku kuliaaaaaaaaaaaahhhhh…10 Jeom Manjeome 10 Jeom !”, sambil berdiri aku berceloteh sendiri dan memeragakan tarian 2PM itu. Konyolnya, ternyata dari tadi semua penghuni lab komputer itu mentertawakan aksiku itu. Aku duduk kembali di kursi yang bisa berputar-putar itu. Sebelum aku meng-close halaman web itu, terlihat deretan angka yang membuatku terkejut.

Rp 10. 565.000,- !!!!

Deretan angka itu melototiku. Aku harus membayar uang itu sebagai jaminan masuk.pengumuman online itu hanya SNMPTN Undangan saja belum termasuk penerima beasiswa BIDIKMISI-nya.pengumuman BM itu akan diumukan setelah keluarnya SNMPTN Tulis yang disebabkan akan adanya tambahan penerima BM. Mesin di otakku bekerja. “Dari mana aku mendapatkan uang sebesar itu dalam tiga hari? 21 Mei adalah batas akhirpembayaran. Astagfirulloh”.

21 Mei 2011. Di perpustakaan sekolah. Aku meraba saku seragamku. Hanya tinggal tiga lembar berwajah Pattimura tersenyum padaku. Aku menatap wajah itu dan berkata, “Hai Pattimura! Apa kabar? Kau keren sekali bisa menjadi pahlawan negeri ini. Aku ngin sepertimu menjadi pahlawan untuk keluargaku. Apakah aku bisa, Pattimura?”. Lagi-lagi aku bertindak konyol untuk menghibur diriku sendiri.

Di ruang BK. Aku kembali konsultasi. Terdengar berita menyejukan hatiku bahwa calon penerima BM tidak usah membayar uang jaminan yang tertera di pengumuman online itu yang membuatku frustasi. Aku sangat bersyukur dan selalu berdoa agar Alloh senantiasa memberiku jalan untuk mencapai impianku yaitu membahagiakan orangtuaku, pergi ke Korean dan Jepang serta menjadi manusia yang berguna bagi siapapun. Amien..

Beberapa minggu kemudian, aku pergi ke calon kampusku menghadiri acara penerimaan mahasiswa baru di Balai Pertemuan Umum UPI. Kami sebagai calon mahasiswa itu dipertemukan. Aku mendapat teman baru dan berkenalan di sana. Kami diberi paparan mengenai profil UPI, BIDIKMISI serta diberikan motivasi untuk tetap bersemangat dalam mencari ilmu dan meraih cita-cita. Aku menyemangati diriku sendiri, “Hidup itu suli, butuh perjuangan! be independent woman ! be your self! Lihat Uzumaki Naruto, anak tolol yang keren bersikeras mencapai impiannya menjadi hokage dan bermanfaat bagi semua orang. I can do it ! From Zero to Hero!”

Tiba di hari awal kebahagiaanku. Sore itu, 29 Juni 2011. Tanganku gemetar mengetik namaku di kolom login pengumuman BIDIKMISI online. Waktu terasa berhenti. Suasana seakan menjadi sepi. Tidak ada suarasama sekali. Dengan teliti, aku melihat satu persatu daftar nama yang terpampang dimonitor itu satu per satu. Daaaannnnn…. Daaannnn….. mataku melotot…

 

NUNUNG FITRIANI

SMA N 11 GARUT

PGSD UPI KAMPUS CIBIRU

 

“Yaa… benar.. Itu namaku. Aku lolos. Aku diterima… Aku bisa kuliah.. Aku menjadi mahasiswa !!”. Aku beranjak dari tempat dudukku, menutup halaman web itu dan bergegas langsung meninggalkan warnet itu sambil menangis bahagia. Ku panjatkan puji syukur kehadirat Illahi Robbi. Di belakangku terdengar suara anak kecil yang memanggil-manggil namaku. Dia berlari mendekatiku, memeberitahukan bahwa aku belu membayar uang jasa warnet itu. Meskipun aku merasa sedikit malu, namun dunia sangat indah pada saat itu.

Tiba di rumah, kupeluk dan kucium tangan kedua orang tuaku, kupeluk adik-adikku dan kujelaskan semua apa yang sedang terjadi.  Mereka menerima keberhasilanku. Mereka terlihat bahagia dan memberikan restunya mengizinkanku meneruskan pendidikan. Namun mereka sedikit khawatir untuk biaya awal aku disana. Mereka belum mampu memberikan biaya awal untuk aku bertahan hidup di sana, terlebih uang untuk membayar tempat tinggal di sana.

Orang tuaku pergi ke sana- sini mengunjungi sanak saudaranya untuk meminta bantuan memberi pinjaman uang untukku. Mereka tak kenal lelah dan senantiasa tabah menerima setiap respon dari sanak saudaranya yang tidak begitu mempedulikan kedatangannya untuk meminta bantuan. “Ya Alloh. Maafkan hamba-Mu ini. Hamba selalu membuat repot orang tua hamba.Hamba belum bisa membahagiakan dan membalas kebaikan serta kasih sayang mereka”. Aku hanya yakin dibalik kemauan dan usaha yang keras serta doa  yang dipanjatkan, Alloh akan senantiasa bersama kita dan memeberikan jalan yang terbaik.

Suara adzan maghrib sudah berkumandang. Aku membereskan kembali berkas-berkas dari map biru itu. Besok pagi aku berencana pulang ke kampong halaman untuk menjenguk ayahku yang sedang sakit. Dan uang yang baru aku kumpulkan Rp 400.0000,- untuk membeli laptop atau notbook itu, aku harus mengikhlaskannya kembali untuk biaya ayahku nanti. Kesehatan ayahku lebih penting sekarang ini.

Aku berdiri melihat tulisan-tulisan motivasi yang menempel di tembok kamarku. Foto-foto sahabatku dan poster idolaku yang ikut menempel di tembok juga, seakan memberikan energi positif menyemangatiku kembali. Aku tersenyum. Kulangkahkan kakiku mengambil air wudhu di kamar mandi dan ku gerakan tubuhku menjalani panggilan-Nya untuk kembali dekat pada-Nya.

Terima kasih BIDIKMISI. Kau adalah jurus rasengganku dalam menghapus pahitnya ekonomi menyemai pendidikan, meskipun aku harus senantiasa berjuang sampai sekarang mulai berjualan buku kuliah, makanan dan menawarkan jasaku membantu teman. Meskipun aku harus membagi energi rasengganmu pada keluargaku (uang bulanan BM), aku senantiasa bersyukur bisa membantu orang tuaku dan membantu  biaya ketiga adikku yang sekolah dan meskipun aku terkadang harus meminjam uang kesana-sini juga untuk beberapa saat namun aku tetap bersyukur.

Berkatmu BIDIKMISI, aku bisa seperti ini. Berkatmu harapan cerah keluargaku muncul. Berkatmu aku bisa membuat orang tuaku tersenyum. Berkatmu aku bisa menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Dan berkatmu aku bisa mencari ilmu sampai saat ini. Serta berkatmu, aku bisa menjadi Uzumaki Naruto Versiku.

-Ketika menangis, ingatlah bahwa di depan sana kita akan tersenyum. Semua akan indah pada waktunya. Hidup itu sulit, butuh perjuangan. Semangat! Aza-aza Fighting!-

-Nunung Fitriani-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s