LBM Menulis: Semua ini untuk Emak by Kikit Rizkillah (Cerpen)

ksahyfkih

Enam bulan, satu tahun berlalu Emak mulai pulih. Kehidupan kami mulai berubah. Saya mulai masuk kuliah. Emak sangat senang ketika saya bersemangat untuk melajutkan pendidikan yang sempat tertunda karena tahun lalu saya belum berkesempatan kuliah di perguruan tinggi negeri. Bukan saya tidak ingin melajutkan kuliah selain ke perguruan tinggi negeri, tapi karena biaya yang disanggupi kakak saya terbatas, jadi kakak “mengharuskan” saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang berstatus negeri, karena menurut kakak saya biaya kuliah di negeri lebih bisa diprediksi. Ya benar, kakak sayalah yang akan menanggung semua biaya pendidikan ketika saya kuliah. Apa ?, Apa saya telah meninggal, sembilan tahun yang lalu sebelum saya masuk kuliah.

Dua tahun setelah beliau mengalami sakit berkepanjangan. Saat itu saya masih kelas empat SD. Tepat ketika kita, saya, Emak, Apa, kakak ke dua, dan kakak perempuan saya sarapan pagi, jam 10.00. Secara tiba-tiba Apa tertunduk. Saya kaget, dan langsung berteriak memanggil Emak yang sedang di dapur mengambil minum. Tidak lama Emak datang, Apa terjatuh tepat di pangkuan Emak. Seketika saya bingung dengan apa yang sedang dan akan terjadi -sekarang saya menyadari, betapa romantisnya Allah yang telah mengatur dengan sedemikian rupa kejadian Apa terjatuh di pangkuan Emak sebelum Apa meninggal.

Emak segera meminta tolong saya untuk memanggil Enek dan Itang (kakek dan nenek). Sambil menangis saya berlari menuju rumah mereka yang tidak jauh dari rumah kami. Setibanya kembali di rumah, kaget bukan main, rumah sudah dikerubungi orang-orang, warga kampung kami.

Karena biasanya ketika suasana seperti itu adalah pertanda bahwa akan ada yang meninggal, saya langsung menuju ke kamar, dan menguncinya rapat-rapat. Saya belum bisa menerima jika memang Apa akan meninggalkan kami selamanya. Banyak warga yang mengetuk kamar, membujuk saya agar membuka pintu untuk kemudian bermaafan yang terakhir kalinya kepada Apa. Sayapun keluar. Tak kuat rasanya ketika saya harus berhadapan dengan sosok Apa yang dulu ketika saya kecil beliau sangat ceria, beliau sering menina bobokan saya dengan dongeng kancil dan monyet atau kura-kura, juga menemani nonton TV sambil saya duduk di sarung yang beliau ikatkan ke kaki, mirip seperti perahu dan saya penumpangnya.

Beda dengan Apa yang saya hadapi saat itu, Apa tak kuat, Apa sekarat. Kalimat syahadat dan ayat-ayat dilantunkan di kuping Apa. Saya pada saat itu dituntun untuk berbicara, meminta maaf yang sebesar-besarnya pada beliau. Tangis bercampur kata-kata keluar bersamaan, seolah keduanya tak ingin mengalah untuk terus keluar dari mata dan bibir saya. Tepat setelah saya mundur ke belakang, Apa menghembuskan nafas terakhirnya. Spontan saya menjerit, memanggil beliau sekencang mungkin.

Sakit, sesak di dada karena kenyataan terlalu menyesakkannya. Putus asa, karena rasanya dunia berubah menjadi gelap, tak terlihat. Hanya air mata dan jeritan yang saat itu menemani kami semua yang menyaksikan meninggalnya Apa.

Inilah kenyataan yang membuat saya berniat ingin masuk kuliah tanpa menyulitkan keluarga, saya ingin kuliah gratis, mendapat beasiswa.

Dulu, ketika masih kelas tiga SMA, saya sudah mengetahui salah satu beasiswa yang dikeluarkan langsung oleh pemerintah. Beasiswa ini menanggung penuh biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri. Bahkan tidak hanya itu, penerimanya juga diberi biaya hidup setiap bulannya. Saya pikir, ketika lulusan seperti saya yang “nganggur” dulu, untuk mendapatkan beasiswa tersebut harus dinyatakan lolos SNMPTN terlebih dahulu, sehingga saya sangat fokus ke persiapan SNMPTN. Rencana saya, setelah dinyatakan lolos SNMPTN, baru saya mempersiapkan semuanya untuk mengajukan beasiswa. Namun ternyata kenyataannya tidak seperti itu.

Seperti saya, Kakak pertama sayapun mempersiapkan semuanya dengan baik, mulai dari saya dimasukan ke bimbel agar saya bisa mengingat pelajaran yang sempat saya tinggalkan selama satu tahun, terus menghubungi untuk memastikan kapan tanggal SNMPTN, bagai mana mekanismenya, sampai rencana-rencana saat nanti saya sudah masuk kuliah, semua dipikirkan dengan baik oleh saya dan kakak pertama saya khususnya.

Dan wanita yang luar biasa, Emak tentu tidak tinggal diam. Setiap sepertiga malam beliau mulai melakukan kembali ritual yang dulu sempat beliau tinggalkan karena sakit, tahajud. Beliau berusaha dengan tergopoh-gopoh untuk melaksanakan shalat tahajud. Bagai mana tidak, sakit yang dulu beliau derita cukup menguras tenaga. Emak sakit komplikasi, darah tinggi, maag kronis, bronkhitis, dan yang paling parah adalah sakit akibat terlalu banyak pikiran karena pada saat itu kondisi keluarga kurang baik.

Emak dirawat di rumah sakit selama seminggu, yang bagi saya adalah saat yang penuh perjuangan, saat yang sangat mencemaskan, saat yang paling membuat saya sangat khawatir untuk kedua kalinya, tapi saat dimana titik balik hidup kami terjadi.

Setiap hari saya dan keluarga yang lainnya harus mengurus Emak dengan sangat lembut dan hati-hati. Beliau belum bisa makan obat secara bulat-bulat, saya yang selalu menyuapi obat langsung ke dalam mulut beliau, sampai sempat saya terkena muntahan.

Saat sakit, Emak senang dipijit. Ketika saya sedang memijit beliau, ada perasaan sedih, dan tiba-tiba saya menangis. Teringat sebelum Emak sakit saya ogah-ogahan untuk memijit beliau. Kalaupun saya melakukannya, itu pasti karena terpaksa dan dengan mulut tetap ngomel. Saya cepat-cepat menyeka air mata, memijit beliau kembali. Berbeda dengan dulu, saat itu saya sangat menikmati memijit Emak. Saya memperhatikan dalam-dalam wajah Emak yang tengah tertidur walau tak lelap. Ada keriput di sana sini yang memenuhi wajah beliau, mungkin akibat lelah memikirkan kami, anak-anaknya. Selang infus yang tertancap di tangan kanannya, selimut khas rumah sakit yang suka beliau pakai yang kami dapat dari sumbangan ketika rumah kami terkena gempa Tasik satu tahun sebelum Emak sakit saat kini melekat di tubuh beliau, berbagai makanan kiriman orang-orang yang menengok yang tertata rapih di meja kamar, dan semuanya. Semua seakan jadi saksi pada saat itu. Saksi bagai mana kami menjaga Emak seoptimal mungkin, yang membuat kami pada akhirnya jadi jauh lebih akrab satu sama lain.

Masih dengan mukena di badan, Emak menengadahkan tangan, mulai berdoa untuk semua anak-anaknya, sampai lama-lama air mata beliau terjatuh. Selalu begitu setiap kali saya tak sengaja mendapati beliau sedang shalat tahajud. Pernah saya sampai menagis juga ketika mendengar beliau berdoa, munajatnya menyangkut kami bertujuh, anaknya. Selalu kami yang diutamakan, tanpa dibeda-bedakan. Terutama saat itu, ketika saya telah mengikuti SNMPTN, beliau selalu menyebut nama saya dalam doanya, harapan dan keinginan saya juga tak lupa disebutnya, beasiswa. Saat itu, setelah saya beres mengikuti SNMPTN saya sempat mengutarakan keinginan saya untuk mendapatkan beasiswa. Dari mata beliau saya bisa tahu kalau beliau sangat bangga dengan niat dan apa yang akan saya lakukan. Mulai dari sana, beliau lebih rajin untuk bermunajat, meminta pada Allah khususnya untuk saya. Hal seperti itu yang membuat beliau terlihat tetap anggun di mata saya, dengan doa-doa yang selalu disematkannya untuk kami.

Hingga pada akhirnya saya lolos SNMPTN dan diterima di UPI dengan bantuan beasiswa yang saya inginkan. Namun, itu semua tidak semudah apa yang direncanakan, semuanya amat sangat perlu perjuangan.

Pada saat itu, warung internet jadi saksi betapa saya kecwa dengan apa yang saya peroleh dari hasil yang saya cari. “Pendaftaran Bidik Misi ditutup pada tanggal ………….” Dan itu sudah satu sampai dua bulan yang lalu. Saya menagis.

Saya pulang dan memberitahukan semuanya pada Emak dan yang lainnya. Namun semua keluarga tetap memberikan motivasi yang luar biasa untuk saya. Sayapun tidak putus asa. Tepat pukul 17.00, sepulang dari warung internet, saya menerima telepon dari kakak kelas SMA saya yang ada di UPI. Kakak kelas saya mengetahui apa yang tengah saya hadapi. Kemudian saya diberitahu tentang advokasi BEM REMA UPI, yang menagani mahasiswa yang ingin mengajukan penagguhan pembayaran uang masuk. Saya menuruti apa yang kakak tingkat saya sebutkan mengenai persyaratan yang harus diajukan. Pukul 22.00 malam saya berangkat ke bandung dengan kakak dan teman saya yang bernasib sama, namun dia telah terdaftar sebagai pelamar Bidik Misi. Hanya dia bilang untuk “jaga-jaga saja”. Pukul 02.00 kami tiba di Bandung, di tempat kost teman kami yang sudah lebih dulu berkuliah di UPI.

Keesokan hari, kami berangkat menuju kampus harapan kami. Berbekal persyaratan yang saat itu menjadi satu-satunya andalan kami, khususnya saya, agar paling tidak, saya bisa masuk UPI dengan biaya yang diangsur.

Saya diantar ke sebuah gedung yang saat ini saya tahu bernama BAAK, pusat administrasi UPI. Saya masuk ke salah satu ruangan yang ada di dalam gedung itu. Serasa diinterogasi, saya dihujani pertanyaan yang menuju pada satu pertanyaan kesimpulan, mengapa saya mengajukan permohonan penagguhan. Setelah selesai, saya menunggu kabar teman saya, yang akhirnya dia diterima sebagai penerima beasiswa Bidik Misi. Satu sisi saya senang, tapi di sisi lain ada pertanyaan yang terlontar dari hati, mengapa saya tidak bisa seperti dia ?, sudahlah. Setelah semuanya selesai, teman saya lansung kembali menuju Tasik. Sedangkan saya dan kakak kembali ke tempat kost teman saya. Ketika keluar dari gedung BAAK, tak disangka, di luar sangat banyak orang yang bernasib sama seperti saya. Dan hal itulah yang membuat saya harus tegar, karena ternyata saya tidak sendiri.

Tidak sebentar, keputusan yang dikeluarkan terkait dengan apa yang kami ajukan akhirnya diumumkan. Surat Keputusan Rektor meng-iya-kan penangguhan. Dengan surat perjanjian pelunasan sampai batas waktu yang telah disepakati, yang hanya ditentukan oleh pihak universitas, akhirnya saya dan teman-teman penangguhan lain bisa masuk UPI dan boleh mengikuti perkuliahan.

Saya pulang untuk persiapan kepindahan ke Bandung. Dan wanita itu, Emak saya, dengan luar biasa menyambut saya. Tidak ada sama sekali raut sedih, bahkan sebaliknya, beliau sangat gembira, antusias, seolah jalan saya menuju UPI semulus yang diharapkan. Padahal saya tahu, beliau pasti paham betul apa yang sedang terjadi pada saya, ya walaupun beliau sudah sepuh, tapi naluri dan ikatan batin tidak akan pernah bisa dikelabui, saya merasakan itu. Saya berusaha tegar dan mengimbangi suasana hati beliau, terlepas dari hal tersebut benar-benar dari hati Emak atau hanya fatamorgana. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya saya harus lebih bisa tegar dan menghadapi apa yang telah saya perjuangkan satu tahun kebelakang.

Satu dua bulan berjalan, sempat ada kabar burung tentang beasiswa saya inginkan, Bidik Misi. Namun seperti datangnya, perginyapun cepat berlalu. Hingga saya dapat kabar dari kakak tingkat saya bahwa semua mahasiswa penangguhan telah diajukan kembali untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Saya mengabari wanita hebat saya, memohon doa untuk yang kesekian kali, beliau sangat yakin dan juga meyakinkan saya. Tapi, belajar dari pengalaman, sayapun mempersiapkan diri saya untuk menerima kemungkinan terburuk yang nantinya akan saya terima. Juga Emak, beliau berkata hal yang sama. Hal-hal seperti itulah yang makin membuat saya bangga dan sangat bersyukur memiliki beliau. Di usia yang tak muda lagi, namun kadang ada hal-hal yang beliau beri kepada saya berupa motivasi yang bisa membuat air mata saya tiba-tiba jatuh dan membuat saya tidak bisa berkata-kata lagi.

Tidak lama setelah itu, saya mendapatkan kabar dari teman yang saya kenal pada saat pengajuan penagguhan, Pipit. Saya dan dia termasuk ke dalam 150 orang penerima beasiswa Bidik Misi tambahan. Saya sangat senang dan langsung mengabari semua keluarga.

Ternyata ujian belum berakhir, walaupun memang sebenarnya ujian selalu ada dalam bentuk apa saja. Begitu juga dengan saya, ternyata tidak sampai di sana, saya harus melengkapi administrasi pada hari itu juga, tepat pada hari dimana saya beserta 149 mahasiswa lainnya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa Bidik Misi Tambahan. Berkali-kali saya menghubungi sekolah SMP dan SMA saya, kakak saya yang di rumah juga, untuk menanyakan NISN yang merupakan salah satu persyaratan pada saat itu, dan saya lupa entah di mana saya simpan. Bingung bukan kepalang, karena memang harus benar-benar hari itu semua berkas diselesaikan. Tapi saya cukup tahu, saya tidak boleh menyerah, karena tidak ada lagi alasan untuk menyerah. Beasiswa pendidikan penuh dan biaya hidup yang saya harapkan saat itu telah di depan mata, itu satu-satunya yang menjadi penguat saya, namun tentu Emak juga. Emak yang mengajarkan untuk tidak manja dan jangan mudah putus asa, Emak yang selalu menjadi contoh bagai mana untuk tetap tenang, Emak yang membuat saya berusaha dan terus berusaha. Setelah dicari kemana-mana, akhirnya NISN itu ditemukan oleh kakak saya.

Saya pulang ke tempat kost setelah semua terselesaikan. Tidak lupa juga saya mengabari keluarga. Mereka sangat bersyukur dan bahagia. Terutama Emak, yang menjadi salah satu pengubah nasib saya melalui doa-doanya.

Sebulan berlalu, waktu dimana harusnya uang bulalan pertama saya dapatkan. Tapi lagi-lagi tidak sesuai harapan. Satu-satunya tempat di mana saya bisa menghabiskan keluh kesah saya tidak lain adalah Emak. Beliau selalu berkata bahwa, segala sesuatu akan indah di waktu dan tempat yang tepat. Allah tidak akan salah dalam memberi cobaan atau kebahagiaan. Beliau selalu mengajarkan saya untuk bersabar tanpa berkeluh kesah. Bulan berikutnya barulah semua berjalan seperti seharusnya.

Sampai saat ini saya bisa seperti ini, tersenyum, gembira tanpa beban, semuanya karena saya memiliki keluarga dan sosok wanita hebat dan kuat, Emak. Emak yang selalu mendoakan saya hingga akhirnya saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya yakin sebagian besar dari semua ini adalah doa Emak yang dikabulkan oleh Allah. Ridho Allah tergantung ridho orang tua. Allah ada dalam sangkaan hambanya. Barang siapa yang berusaha sungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Jika Allah telah berkata jadilah, maka jadilah. Mungkin semua itu salah satunya adalah apa yang saya alami, yang keluarga saya alami bersama dengan malaikat berwujud manusia yang Allah turunkan, Emak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s