LBM Menulis: Pelangi Sesudah Hujan by Rika Nur’aeni (Cerpen)

Foto Cerpen

Memecah keheningan malam, ku untai beribu harapan, bersenandungkan do’a menghapus beribu lara, mengukir setiap asa dalam setiap sujudku. Yah.. begitulah malam sunyi ini . . bisik angin menari – nari di dalam telingaku, menambah kesan keheningan malam ini. Dalam setiap bait do’a, hanya satu yang kupinta, yakni beri petunjuk yang terbaik untuk  aku dalam melangkahkan setiap kakiku di esok hari, hari yang terlukis abstrak tapi akan memberi banyak makna dan sejuta warna.

Tok .. tok .. tok ..

“ka bangun …. Shalat Shubuh dulu, udah siang tau. “ seru adikku

“emmhh… iya adikku yang bawel!!” jawabku

Tak terasa fajar hampir menyingsing, kulihat putaran waktu, ternyata menunjukkan pukul 05.30, memang benar sudah pagi. Ternyata saat sembahyang malam tadi, aku tertidur pulas di alas sujudku. Aku pun bergegas mandi dan shalat Shubuh. Sesaat sedang memanjatkan do’a, teringatku akan mimpi tadi malam saat ku tertidur di atas alas sujudku. Aku mendapat gambaran tentang  jalan yang harus aku ambil untuk meneruskan pendidikanku, aku bermimpi mendapati jalan yang lurus dan bertuliskan “Laa haula walaa quwwata, illa billahil ‘ali yil adziim”, subhanallah. Apa ini satu petunjuk lagi?? Setelah mimpiku saat malam – malam sebelumnya bahwa aku harus melanjutkan pendidikan ke UPI. Untuk kesekian kalinya aku dibuat bertanya – tanya.

*******

Mentari mulai menyinari dan kabut mulai menyelimuti hariku, aku bergegas berangkat ke sekolah ditemani kicauan burung yang bernyanyikan seuntai lagu rindu. Oh ya.. namaku Rika , wanita berjilbab, tidak tinggi tak juga pendek, tidak gemuk banget dan tidak juga kurus, hehe. Aku bersekolah di Sman 1 Cicalengka, aku bangga sekolah disana, menurutku itu sekolah terbaik di daerahku, dan saat ini aku duduk di kelas XII IPA 3.

Saat di sekolah …

Siang ini terasa panas, aku sedang duduk termangu di kursi dekat jendela kelasku, dan sorot mataku tertuju pada sinar mentari yang tampak tak bersahabat lagi menunggu kapan pelajaran ini akan usai. Pelajaran Sejarah.. hhufth itu yang membuatku bingung, buku yang tebal, bacaan yang menumpuk.. “bosan” pikirku.

Tiba – tiba …

“Yogi, Danin, Iqlima, Rika, Sandra, …….. (blablabla), diharuskan ke BK sekarang juga atas perintah bu Sandra” panggil salah seorang petugas piket.

Yah inilah keseharianku kala mendekati Ujian Nasional dan  SNMPTN. Selalu mondar – mandir, keluar – masuk kelas.

*******

Saat di BK . . .

“ kalian yang ibu panggil ini adalah termasuk orang – orang yang masuk peringkat terbaik di sekolah ini, ibu harap kalian bisa meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, dan terutama ke PTN.” Ucap bu Sandra.

Waduhh pikirku semakin bingung, aku mau melanjutkan tapi entah sanggup atau tidak saat melihat rincian biayanya.

“ tapi tenang saja, untuk kalian yang mungkin merasa kurang mampu dalam segi ekonomi, boleh konsultasi ke ibu, dan nanti ibu masukan kalian ke program SNMPTN Undangan BidikMisi, ini merupakan salah satu keringanan, atau bisa dibilang hadiah bagi kalian yang berprestasi, dan sebagai jalan terang pula untuk kalian yang dari segi ekonomi memerlukan bantuan untuk melanjutkan pendidikan” seru bu Sandra.

Akupun sedikit merasa terobati dengan adanya jalan tersebut, bak melihat setitik cahaya  dalam gelapnya malam. Segeralah aku mempersiapkan berkas yang berisi segala sesuatu yang di perlukan.

*******

Di hari yang cerah, tepatnya hari sabtu, aku mengisi data online dengan sebenar – benarnya dan sejujur – jujurnya, memilih 2 prodi yakni pend. Matematika dan PGSD Kampus Cibiru. Dan dengan bantuan temanku Sandra, aku setuju untuk melakukan finalisasi karena data memang sudah benar.

Berhari – hari setelah finalisasi, aku beserta teman – temanku dipanggil lagi dan harus mengumpulkan kartu peserta Snmptn Undangan, dan tak sengaja aku baca kalau prodi yang aku pilih ternyata pend. Matematika dan PGPAUD Kampus Cibiru. Hatiku tersentak, dan menangis, pikirku apa maksud Tuhan? Dan aku merasa Tuhan itu tak adil dan takdir itu tak benar.

Aku semakin terlarut dalam kesedihanku, merasa kecewa atau apapun itu yang buatku menangis. Bahkan karena hal itu aku berpikir untuk berhenti di tengah jalan dan batal melanjutkan pendidikan. Aku mengikuti jalan lain dengan mencari info ke BK, dan mendapat jawaban bahwa ada jalur PMDK Matematika UNISBA, aku pun mendaftarkan diri. Tetapi setelah hal itu dan semakin dekatnya aku dengan pengumuman yang diterima melalui jalur Undangan, aku semakin sadar dan bersikap dewasa untuk dapat menerima apapun yang akan terjadi dengan lapang dada.

*****

Sabtu sore yang indah, tepatnya tanggal 26 Mei 2012, langit senja nampak di ufuk barat. Menerpa keheninngan sore itu, ponselku berbunyi sangat keras, dan ternyata itu telpon dari teman dekatku Dea.

“assalamu’alaikum” ucapku

“wa’alaikumsalam, Rika Alhamdulillah aku masuk UPI pend. Kimia, makasih ya atas do’anya..” ujar Dea

“iya Alhamdulillah, selamat ya Dea sayang, sama – sama kita kan teman dan harus saling mendo’akan. Ternyata udah ada pengumuman ya?? Aku belum liat nih,, aku masuk engga ya??” tanyaku ragu.

“yaudah tunggu aja, aku cari dulu, nanti aku massage ya, semoga kamu masuk. Assalamu’alaikum..” ucapnya menenangkanku dan sekaligus mendebarkan jantungku.

“walaikumsalam..” jawabku dengan keringat dingin dan jantung yang berdegup kencang, seolah – olah memompa maksimal seluruh darah yang mengalir cepat didalam ragaku. Aku mengurung diri di kamar dan harap –harap cemas mendengar berita itu sambil berharap semoga masuk pend. Matematika. “tapi .. diterima di prodi apapun juga tak apa lah” hatiku menentang. Hatiku tersentak saat mendengar poselku berbunyi kembali dan itu SMS dari Dea.

“Selamat Rika…. kamu masuk UPI , PGPAUD Kampus Cibiru… “

Aku terdiam, hatiku berdegup kencang, tanpa disadari, setetes air keluar dari mataku, membasahi pipiku, aku sangat bahagia, aku langsung bersujud, dan berlari keluar kamar memberi tahu ibu dan seluruh keluargaku, aku memeluk bibiku… keluargaku sangat senang dan terutama ibuku. Sambil memeluk bibiku, ya Tuhan.. apa ini maksudmu??, aku menangis semakin kencang. Tangisan itu tak lain karena kebahagiaan yang telah aku dapatkan berkat do’a dari keluargaku terutama ibu dan ayahku. “PGSD tak teraih,  PGAUD yang menanti” pikirku berusaha dewasa.

*******

Tidak cukup sampai disitu, ternyata perasaan bahagia itu ditemani perasaan gundah yang akhirnya timbul kembali, semakin besar dan menggebu – gebu,  dimana saat aku tahu tidak semua pedaftar BidikMisi akan diterima. Aku semakin dibuat bingung,. Bagaimana ini?? Jika pengajuanku menjadi penerima BidikMisi tidak diterima, mau bayar dari mana uang yang dibulatkan sejumlah Rp. 11.000.000,- itu ???

Setiap malam aku terbangun bersama ibu, ayah, dan nenekku untuk mencurahkan segala keluh kesah kami kepada Tuhan yang maha pencipta. Ku ukir setiap lara dengan segenggam harapan yang tertanam dan tumbuh di dalam jiwa. Ya… hanya harapan yang dapat membuat hidupku bersinar terang kembali.  Dan disaat keadaan seperti inilah aku ibaratnya sebuah Tungku tanpa Api.

Keheningan malam ini adalah jalan terbaik bagiku..

Dalam hening, aku mendapat seberkas sinar lentera yang menjadi mata kakiku kala bayang – bayang pulang..

Dalam hening, aku mendekap secercah harapan yang kutimang menjadi dahan dedaunan di kala musim gugur tiba..

Dalam hening, aku menggapai setitik asa yang kudekap menjadi teman baikku saat bahagia belum kutemui..

Begitulah rasa gundah yang menggelora di dalam darahku..

*******

Di suatu hari yang cerah, tepatnya di hari Rabu. Temanku, Dina berangkat ke BAAK UPI Bumi Siliwangi untuk melihat siapa saja yang mendapat BidikMisi. Akhirnya dia tahu bahwa dia tidak mendapat BidikMisi. Dan untuk yang kedua kalinya aku mendapat kabar dari teman tanpa hasil penglihatanku sendiri bahwa aku mendapatkan BidikMisi. Subhanallah… Alhamdulillah…… entah apa lagi yang harus kulakukan untuk membalas kebaikan Tuhan. Tuhan sudah sangat terlalu baik. Pikiranku sudah berawal buruk terhadap Tuhan, ampuni aku Tuhan..

*******

Meskipun hari esok terlukis begitu abstrak, tetapi akan memberi sejuta warna. Dan dengan bantuan Tuhan, warna itu Tuhan bentuk menjadi pelangi kala hujan telah menepi. Dan akulah yang telah terhujani!! Tetapi, tanpa ku sadari hujan itu membawa hadiah terindah, pelangi namanya. Pelangi itu benar – benar menjadi berkah, dimana memberi arti bahwa tak selamanya hujan membuat bencana, tapi memberi keindahan kala kita tahu bahwa menunggu hujan reda itu adalah hal yang baik dan benar. Menunggu bukan hal yang salah, sabar bukan hal yang biasa, tapi merupakan anugerah luar biasa.

Ya inilah takdir. Meskipun kita anggap sebagai batu sandungan, tetap itu akan menjadi indah kala kita belajar dewasa untuk memahami bahwa ini hanyalah jalan gelap dimana kita pasti temukan jalan yang terang suatu hari nanti saat kita yakin dan sabar. Bagaimanapun kita berpaling darinya, tetap kita takkan pernah mampu. Tuhan punya suatu cara untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya agar terlihat indah. Jejak yang telah Tuhan tetapkan itu yang terbaik… tak ada jalan lain!!!!

Akan ada pelangi sesudah hujan.. jadi apa yang perlu di khawatirkan ???

Terimakasih Tuhan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s