LBM Menulis: MENCARI SECERCAH HARAPAN DI BIDIK MISI by Eva Apriani (Cerpen)

a-sunny-day

Saat embun pagi dalam dedaunan belum jatuh ke dasar, saat mentari belum menunjukkan diri, saat semua masih dalam mimpi-mimpinya, begitupun sebagian orang yang mulai sibuk dengan aktifitasnya, tampak seperti biasanya ku lihat dari balik jendela yang sudah mulai mengusam, samar namun jelas terlihat sosok pria  paruh baya, dengan membawa cangkulnya, dan sebungkus makanan yang telah disiapkan oleh istrinya, ia pun pergi mencari rezeki. Entah kemana ia akan pergi, langkah kakinya yang tak beralas itu, gerakan jemarinya yang cepat merangkul cangkul dan menyimpannya di atas bahunya. Jelas ia hanya membawa sepercik harapan, segenggam doa, dan berharap untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Semakin jauh pria itu melangkah, semakin tak terlihat lagi bayangannya, hanya terlihat hembusan nafasku yang menempel dibalik jendela itu.

Teringat saat aku masih sekolah dulu, aku tak pernah berharap lebih karena mengetahui kondisi keluargaku yang memprihatinkan, siapa yang tak perih melihat orangtuanya bekerja di tempat yang kotor?..Bukan! Bukan karena pekerjaannya yang tidak halal, tetapi ia bekerja dilingkungan yang sangat kotor. Pernahkah selintas dipikiran kalian ingin merubah nasib orang tuamu?? Yah..Aku pun demikian, ingin ku rubah segalanya menjadi lebih baik.

Sosok itu kian jelas di pelupuk mataku, ia selalu memakai baju kuningnya, cangkul atau alat pemotong rumput teman setianya, namun hanya cangkulah yang menemaninya selama bertahun-tahun.  Sakit, ketika ku lihat ia selalu membersihkan rumput di pinggir jalan tanpa mesin pemotong rumput, memang karena ia tak sanggup untuk membeli solarnya. Begitupun dengan sepercik harapan yang ia cari, tak pernah juga ia mendapatkan upahnya setiap bulan. Sungguh tak adil negara ini, begitu banyak orang disana berbondong-bondong korupsi, namun disini bagiku orang yang melakukan pekerjaan ini, pekerjaan yang sungguh mulia, ia bekerja untuk membersihkan sampah dan rumput. Tanpa adanya pekerja itu kota akan kotor, dipenuhi sampah-sampah.

Mungkin orang tak pernah berpikir bagaimana menghisap baunya setiap hari dengan upah yang minim, tapi ia lakukan untuk menghidupi keluarganya. Iya..itulah Bapakku, orang pasti bangga memiliki Bapak yang selalu semangat bekerja keras, namun aku jauh lebih bangga melihat kegigihan dan kerja kerasnya tanpa kenal lelah. Orang selalu menertawakanku karena Bapakku hanya kerja sebagai pembersih sampah, namun disitulah tegad dan semangatku mulai berkobar, ingin ku tunjukkan suatu saat nanti kau yang akan malu dihadapanku karena kesuksesanku.

Mulai ku awali semuanya, semangat belajarku mengantarkanku ke juara kelas di sekolah. Akhirnya selesai lulus sekolah, aku bingung, apa yang harus aku lakukan? jauh dari anganku untuk bisa melanjutkan kuliah, begitupun dengan bekerja yang harus membayar uang masuk kerjanya. Aku mulai menyibukkan diri pergi ke ruang BP, sekadar melihat informasi mengenai lowongan kerja atau beasiswa, karena aku hanya bisa mengandalkan beasiswa untuk kelangsungan hidupku kelak. Ada salah seorang teman yang merendahkanku dan ia berkata,

“Heem mimpi kali mau kuliah..orang juara umum aja gak masuk ke upi, apalagi  kamu”… (dengan muka sinis)

Aku hanya terdiam, membisu, bukan karena aku menerima perkataan itu, tapi aku mencoba berpikir kembali untuk kuliah. Mungkin ada benarnya perkataan orang itu, setelah aku menemukan informasi dari sahabatku, ku niatkan untuk ikut beasiswa bidikmisi, satu harapan awal memasuki gerbang kesuksesanku di Bidik Misi ini.

Perjuanganku untuk ikut beasiswa, tak cuma sampai disitu, sambil menunggu pengumuman beasiswa, aku sempat ikut seleksi lowongan kerja di Perusahaan Jepang. Tak berbekal Ijazah ataupun KTP, aku memberanikan diri ikut bersaing agar aku bisa bekerja, dan dengan kesungguhan itulah aku diterima kerja mengalahkan beribu-ribu pesaing di Kota itu.

Pada waktu aku masih bekerja, aku hanya bermodalkan surat lamaran dan berkas-berkas lainnya yang mungkin bisa membantu aku diterima kerja, karena pada saat itu Ijazah belum keluar apalagi KTP karena belum genap berusia 17 tahun, aku bekerja dengan sistem kontrak selama setahun, mungkin ini semua bagian dari rencana Tuhan yang Maha Kuasa, seharusnya Ijazahku disimpan di Pabrik yang bersangkutan sebagai jaminan aku bekerja disana, dan dengan rasa syukurnya jika Ijazah itu ditahan dan dikontrak selama setahun, aku tidak akan bisa meraih harapanku.

Baru dua bulan bekerja, temanku memberi kabar bahwa aku diterima di UPI. Tuhan tak hentinya memberikan setiap nikmat dan karunia-Nya kepadaku, disitu aku mulai bingung kembali karena dikontrak dan masih bekerja, perlahan sambil menunggu registrasi ke UPI, aku masih bekerja untuk mencari tambahan jika aku jadi kuliah kelak untuk membayar kosannya, karena bagaimanapun aku tak ingin menyusahkan kedua orang tuaku.

Semakin sulit hari-hariku, aku sengaja tidak masuk bekerja selama dua minggu agar aku di berhentikan dari Pabrik, namun bukannya di berhentikan tapi aku disuruh bekerja kembali, disitulah aku berkata jujur, keinginanku untuk kuliah dan berhenti jadi pegawai.  Leader di Pabrik itu memberikan ijin aku keluar dan ikut memberikan dukungan, bukan senang yang kuterima tetapi ada rasa khawatirku, karena orangtuaku belum tahu kalau aku diterima dan memilih berhenti bekerja.

Aku bercerita kepada leader tentang keinginanku, mereka mendengarkan setiap keluh kesahku dengan penuh perhatian, aku ingin kuliah tanpa menjadi anak yang durhaka, bagaimana caranya meyakinkan mereka dan akupun tak punya uang untuk berangkat ke bandung. Ia menganjurkan agar aku pergi ke Bapak Bupati di Purwakarta, karena aku anak bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan. Tanpa kuberitahukan kepada orangtuaku, aku berangkat ke rumah Bupati dengan penuh rasa, mungkin pada waktu itu aku masih merasakan sedikit malu untuk berkunjung ke rumahnya, karena rumahnya tak jauh dari rumahku, seharusnya Bapak Bupati tahu keinginanku tanpa aku harus susah payah ke rumahnya, karena ini semua merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin yang memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Beberapa kali aku datang ke rumahnya untuk membagi keluh kesahku, ternyata ia selalu sibuk dan tak bisa ku jumpai.

Sejumlah orang termasuk kakakku mulai tahu dan menasehatiku, “jangan percaya sama beasiswa, banyak orang yang dapat beasiswa tapi ujung-ujungnya mereka disuruh bayar” begitupun setelah kedua orangtuaku tahu aku diterima di UPI, “bukannya Bapak tidak mengijinkanmu untuk kuliah, kalau kamu mau Bapak masih mampu untuk menguliahkanmu di sini” kata Beliau. Sedih kurasakan, bagai bumi yang ingin ku belah menjadi dua karena ketidakadilan hidup ini, ingin ku banting semua barang yang ada didekatku, semua orang tak merestuiku untuk kuliah di bandung.

Aku tak ingin menjadi anak durhaka, bapak menyuruhku untuk pergi ke salahsatu perguruan tinggi di Purwakarta, dan mendaftarkan diri di jurusan keperawatan. Aku selalu berdoa, karena tekadku yang sudah bulat untuk kuliah di UPI, aku berdoa semoga aku tidak diterima di Perguruan Tinggi itu, ternyata Tuhan Maha segalanya, aku tidak diterima karena kuota mahasiswanya sudah penuh, lalu aku memberitahukan kepada kedua orangtuaku mengenai hasilnya, tersirat jelas rasa sedih dan kecewa di raut muka mereka yang sudah mengerut itu.. “maafkan aku, bukan karena aku malas belajar, mungkin ini semua sudah rencana-Nya”.

Hari pun kian berlalu, aku sudah tak bekerja lagi, aku mencoba kabur dari rumah beberapa hari, aku ingin orangtuaku tahu maksud dan tujuanku untuk mengambil beasiswa Bidik Misi itu, berbagai cara sudah ku lakukan untuk meyakinkan mereka, karena kekhawatiran mereka terhadap perkataan-perkataan yang tak jelas kebenarannya. Sampai akhirnya satu hari lagi, hari terakhir pendaftarannya, dengan rasa sesalku aku pulang ke rumah, ternyata mereka masih tak memberikan ijin, aku melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan selama ini terhadap mereka, aku bersujud dihadapan Bapakku, ku cium kakinya dan ku luapkan semua keinginanku selama ini.  “ Bapak, Ibu, jikalau suatu saat nanti memang benar beasiswa itu pada akhirnya disuruh bayar sendiri, sampai saat itu juga aku akan keluar mengundurkan diri, aku berjanji padamu akan belajar dengan giat, dan ingin ku buktikan suatu hari kelak aku akan membanggakanmu dengan kesuksesanku, dengan tekad dan kesungguhanku aku ingin merubah nasibmu, nasib keluarga kita menjadi lebih baik, maka ijinkanlah aku untuk pergi ke Bandung besok, karena besok adalah hari yang akan menentukan masa depanku seperti apa” isak tangisku, haru biru suasana pada saat itu,  pertamanya aku menangis dihadapan kedua orangtuaku, ibu hanya mendengarkan di balik tirai yang bolong itu, menyaksikan dan ikut menangis melihat kegigihanku untuk kuliah di UPI. Kini semua itu telah usai, pengorbananku untuk meyakinkan mereka terbayar sudah dengan diberikannya ijin dan restu dari kedua orangtuaku, keesokan harinya aku pergi dengan ditemani orang yang sangat aku sayangi, yang kini sudah menjadi calon suamiku, aku pergi melangkah untuk mencari secercah harapan di Bidik Misi….

Ayo kita buktikan pada dunia, bahwa kita bisa melangkah dan menentukan nasib kita tergantung pada keinginan dan hati kita sendiri, begitupun telah ku buktikan pepatah atau peribahasa itu, setiap ada kemauan pasti ada jalannya….Semangat Selalu.

 

——————-SELESAI———————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s