LBM Menulis: Kesempatan, Cita, dan Cinta by Siti Wulansari (Cerpen)

 f

Sudah berjam-jam matanya sibuk mengawasi ponsel yang berada di genggamannya. Namun sampai detik ini ponselnya belum bergetar juga yang artinya tidak ada satu telepon atau pesan singkat pun yang masuk. Wajahnya menampakkan gurat-gurat kecemasan. Tidak tahu sudah berapa kali gadis ini hanya mondar-mandir tidak jelas, seperti sedang mengukur panjang kamarnya saja. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dengan sigap dia memandang layar dan membaca deretan kata yang nampak pada layar tersebut. Dalam sekejap ekspresi yang baru saja berubah sumringah ini kembali lagi seperti semula. Bagaimana tidak, pesan singkat yang masuk hanyalah pesan dari operator yang mengingatkan masa tenggang kartu SIMnya. Jika saja dia tidak mengingat perjuangannya untuk mendapatkan ponsel itu dahulu, mungkin sekarang ponsel itu sudah dia lemparkan saking kesalnya. Bukankah kesabaran itu ada batasnya? Apalagi sekedar menunggu ketidakpastian seperti ini. Akhirnya gadis ini membuka ponselnya, menelusuri daftar kontaknya, kemudian setelah menemukan nomor yang ditujunya, dia pun memberanikan diri menekan tombol hijau. Kecemasan masih terpeta di wajahnya. Kini hanya nada sambung yang terdengar. Tak lama setelah itu, terdengar suara berat menyahut dati ujung sana.

“Assalamu’alaikum…” Sungguh singkat, tak tahukah ia betapa cemas gadis dibalik telpon itu karena sudah seminggu tidak mendapatkan kabar darinya.

“Ka, apa aku mengganggumu?” dengan hati-hati ia bertanya.

“Kamu ini berbicara apa? Ada apa de?” jawabnya berusaha terdengar sebiasa mungkin.

“Kenapa seminggu ini kakak tidak pernah memberiku kabar? Apa kakak sudah…”

“Jangan bilang kamu berpikiran bahwa kakak melupakanmu.” potongnya cepat.

“Tapi ka, kenyataannya… satu pun sms dariku tidak ada yang kakak balas.” ucapnya lemah.

“Maaf, tapi kakak benar-benar sibuk saat ini.”

“Sibuk apa kak? Apa aku tidak boleh tahu?” protes gadis ini.

“Ini semua menyangkut masa depan kakak de, tentang rencana kuliah itu, kakak bingung, kakak pusing mengurusi persyaratannya, jadi maaf  bila akhir-akhir ini kakak sedikit mengabaikanmu. Tapi sedikitpun kakak tidak pernah berniat mengacuhkanmu.”

“Kak, kakak sibuk, pusing, tapi kenapa kakak tidak mau membagi beban itu denganku? Mungkin aku bisa membantu.”

“Kakak hanya tidak mau merepotkanmu.” tanggapnya singkat.

“Kalau begitu sama saja kakak tidak menganggapku, ayolah ka bagi bebanmu itu, berdua lebih baik bukan?” gadis ini semakin menunjukkan kesungguhannya.

“Tunggu dulu…tunggu dulu…kamu ini Alya kan?”

“Loh memangnya kakak pikir siapa?” keningnya berkerut heran.

“Sejak kapan baby boo ini berubah jadi dewasa, hah? Apa karena waktu seminggu itu ya, atau diam-diam kamu banyak menonton film romance? Wah curang nih gak ngajak-ngajak haha.” tawa itu, mencairkan suasana.

“Arggh kakak aku serius tau.”  ucap gadis ini sambil cemberut.

“Jangan cemberut, jelek!” ucapnya sambil cekikikan.

“Kok tau?”

“Telepati” jawabnya asal.

“So, bagaimana? Sudikah berbagi beban denganku wahai tuan cicak? haha”

“Baiklah  jika memang itu maumu, akan kutumpahkan saja semua bebanku padamu, tidak keberatan kan babybooyanglucukalaudilihatdaribelakang? Ucapnya menggoda gadis ini.

“Apa? Kenapa begitu? Kamu menyebalkan sekali kak.” gadis ini sedikit sebal, namun hatinya justru lega.

“Haha hanya bercanda, ya sudah sejak kapan pula baby boo ini bisa tidur diatas pukul 09.00 malam. Sudah sana, tidurlah, sudah 30 menit  jatahmu terambil. Jangan sampai kau menggantinya dengan waktu esok pagi.”

“Haha gara-garamu ini kak, ya sudah aku tidur dulu, night dear

night, miss you.”

Sambungan telpon mereka pun terputus. Akhirnya keduanya bisa bernafas lega. Sang gadis lega setelah akhirnya bisa kembali mendengar suara kekasihnya. Sementara Aldi –lelaki itu– juga lega dan sama sekali tidak menyangka atas kesediaan gadis itu untuk membantunya. Kini keduanya memejamkan mata, menembus dinding maya, terbang bersama angin menuju dunia mimpi untuk sejenak melepaskan semua beban yang mengikat.

***

Matahari telah nampak, menjalankan tugasnya untuk menemani aktivitas para makhluk bumi. Aldi terlihat semangat sekali pagi ini. Dia mengusapkan sedikit gel di rambutnya yang membuatnya terlihat semakin rapi untuk ukuran siswa SMA. Setelah merasa puas dengan penampilannya, ia lantas menuju meja makan sambil bersiul-siul. Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya sedang mempersiapkan makanan kecil untuk sarapan Aldi dan kedua adiknya. Aldi duduk di salah satu kursi, dan sempat-sempatnya mencubit pipi adik perempuannya, sekedar untuk menjahilinya yang tentu saja membuat adik bungsunya ini cemberut. Dia lalu menikmati nasi goreng buatan ibunya.

“Memang, nasi goreng paling top sejagat raya, ibu hebat. Oh ya bu, ibu masih menyimpan struk pembayaran listrik bulan kemarin kan?” tanya Aldi di sela-sela makannya. Kerutan nampak di kening ibunya, heran bukan main, sejak kapan anaknya ini memperdulikan soal listrik.

“Memangnya untuk apa nak?”  ucapnya sambil duduk dihadapan Aldi.

“Untuk persyaratan kuliah bu.” Degg ibunya tersentak, raut wajahnya berubah.

“Kuliah? Memangnya kamu punya uang dari mana nak? Ibu tidak mampu menguliahkanmu, Bahkan menyekolahkanmu sampai lulus SMA saja ibu tidak akan mampu jika tanpa beasiswa.” ucapnya menahan pedih. Bagaimana tidak, darah dagingnya sendiri ingin melanjutkan pendidikan, sungguh ia menyadari bahwa itu memang haknya. Tapi ia juga harus realistis, dengan kondisinya yang tanpa suami dan penghasilannya dari menjahit tak akan cukup untuk mewujudkan keinginan anaknya ini.

“Tapi Aldi akan ikut program Bidikmisi bu, jadi ibu tidak perlu khawatir tentang biaya. ” senyum mengembang di bibirnya.

“Bidikmisi? Program apa itu?” ucapnya lemah.

“Bidikmisi itu program pemerintah yang memberikan bantuan pendidikan kepada siswa yang tidak mampu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri”

“Tapi nak…” ucapnya tertahan. Sesungguhnya dia tidak ingin mengeluarkan kalimat ini dari mulutnya, tapi keadaan sungguh memaksanya. “Ini bukan soal beasiswa itu Aldi, bukan tentang biaya.” lanjutnya dengan suara serak.

“Maksud ibu?”

“Aldi, maaf…ma…af…kan ibu nak, tapi ibu tidak setuju kamu kuliah.” Ucapnya seraya memalingkan muka, meregangkan otot-otot wajahnya menahan air mata.

“Loh kenapa bu?” kini keheranan tampak di wajah Aldi.

“Aldi lihat… lihat mereka!” tunjuk ibu Aldi pada kedua adiknya. Aldi tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya.

“Mereka butuh kamu Al, adik-adikmu tidak boleh sampai putus sekolah, ibu pikir sebaiknya kamu mencari pekerjaan, karena sekarang jahitan ibu semakin sepi” ucapnya getir.

“Tapi bu, Aldi ingin menjadi arsitek, Aldi ingin mewujudkan keinginan ayah, karena itu Aldi harus kuliah bu.” Kedua tangan menutupi wajahnya, entahlah Aldi bingung, mungkin bisa dikatakan dia orang teregois saat ini.

“Ibu mengerti nak, tapi kamu harus REALISTIS Aldi, Tia dan Ino membutuhanmu.” Dengan sedikit emosi ibu ini menyuarakan hatinya, bulir-bulir air mata mulai mengalir di pipinya, tak bisa lagi ia tahan.

“Tapi Aldi tetap ingin kuliah bu!” ucapnya mantap seraya menggertak meja lantas meninggalkan meja makan dan pergi ke sekolah dengan terburu-buru, Aldi bahkan tidak sempat mencium tangan ibunya.

Kini pertahanan yang dibangun wanita itu sejak tadi runtuh sudah, hatinya hancur. Bahunya berguncang, hanya air mata yang terus mengalir, mengalir tanpa isakan sedikitpun. “Maafkan ibu Aldi.” batinnya perih sambil menatap punggung anaknya miris.

***

Hari ini, tidak ada satu pun pelajaran yang masuk ke otaknya. Mengapa? Mengapa keadaan begitu menghimpitnya. “REALISTIS” satu kata itu berpotensi membunuh mimpi-mimpinya. “Arrgghh…” Aldi mengacak-acak rambutnya frustasi, penanya menggoreskan bola kusut di kertas putih polos yang terletak di mejanya. Aldi menarik nafas panjang lantas membenamkan kepala diantara lipatan kedua tangannya. Terdengar langkah riang mendekatinya, ya…itu Alya. Langkahnya semakin melambat ketika melihat Aldi membenamkan kepalanya. Alya duduk disamping Aldi, membuat pria ini tersentak. Hanya dengan melihat tatapannya saja, Alya tahu orang dihadapannya ini sedang ada masalah.

“Ayo cerita, ada apa?” tanyanya pada Aldi.

Aldi tampak menimbang-nimbang namun pada akhirnya dia mau menceritakan semua masalahnya pada Alya. Dia memang tidak bisa mengatasi ini sendiri. Setangguh apapun seseorang, pasti akan membutuhkan seorang lainnya, sekurang-kurangnya untuk tempat bersandar. Alya tertegun setelah mendengarkan cerita Aldi. Betapa kenyataan mempermainkannya, menggoyahkan keteguhan hatinya dan menyamarkan impiannya.

“De, menurutmu apa sebaiknya kakak tidak usah kuliah saja?” mungkin ini pilihan terbaik menurut Aldi, dia tidak boleh egois, keluarga lebih membutuhkannya, walau dengan mengorbankan mimpinya.

“Jadi secara tidak langsung kakak memilih mengubur impian kakak?” telak, pertanyaan yang langsung menyinggung hatinya.

“Bukan mengubur… hanya menunda.”

“Kenapa mesti ditunda kalau bisa dilakukan sekarang?”

“Kalau saja bisa sudah pasti aku lakukan, tapi lagi-lagi kenyataan berkata lain”

“Lalu apakah dengan Menunda, itu merupakan jalan keluar?” tanya Alya sinis.

Aldi hanya diam, mencermati kalimat yang baru saja ia dengar.

“Kesempatan itu jalan yang diberikan Allah, kenapa tidak mencoba berjalan di jalan yang telah disediakan-Nya? Jangan pernah berpikir tentang kesempatan kedua sebelum menjalani kesempatan pertama. Kenapa? Karena tidak semua orang akan mendapatkannya. Maka rugilah orang-orang yang telah melewatkan kesempatan.” Alya diam, sedikit bingung, bisa-bisanya dia berucap seperti itu.

“Lalu aku harus bagaimana de?” tanya Aldi sok polos.

“Sepertinya nilai B. Indonesiamu yang 90 itu perlu dipertanyakan kak, kata-kataku saja kau tidak mengerti.”

“Aku kan calon arsitek, bukan sastrawan, maklum dong wlee…” ledeknya.

Alya tersentak, apa katanya? Calon arsitek? Mungkinkah Aldi telah berubah pikiran.

“Jadi?” tanyanya memastikan.

“Aku tidak akan menjadi orang yang rugi itu.” ucapnya. Alya tersenyum tapi kemudian tersentak lagi karena ucapan Aldi.

“Oh ya satu lagi…” ucap Aldi dengan tampang serius.

Alya mengerutkan keningnya, heran.

“Asal kau tahu nilai 90 ku itu murni, mana ada kata menyontek dalam kamus Aldi, hehe”

“Haha aku kira apa,” lantas keduanya pun tertawa bersama. Memang betul bukan, manusia itu memerlukan sandaran, yang mampu mengubah tangis menjadi tawa.

***

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam pun berganti hari, ya…waktu memang akan terus berjalan, tidak ada yang mampu menghalanginya. Kini selesai sudah, Aldi telah menyelesaikan pendaftaran online nya. Dia juga sudah melengkapi semua persyaratan pengajuan bidikmisinya. Banyak dukungan untuk Aldi, terutama dari ibunya dan Alya. Benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. Inikah buah dari keberaniannya mengambil kesempatan? Keadaan berbalik, jika pada awalnya sang ibu menentangnya untuk kuliah, kini justru ia-lah orang yang paling mendukungnya. Bagaimana ini terjadi? Alya lah pahlawannya. Dia yang telah berbicara dengan ibu Aldi sampai beliau berubah pikiran, Aldi pun tidak tahu persisnya apa yang Alya katakan. Setiap kali Aldi tanya, jawaban alya hanya sebatas ini,”Aku cuma bilang, ‘Semuanya berasal dari Allah. Jika Allah menghendaki kak Aldi kuliah, maka siapapun itu tidak akan bisa mengubahnya. Kita akan tahu, kemana takdir membawa kita, caranya dengan tidak pernah melewatkan satu kesempatan pun yang Allah berikan. Percayalah Bidikmisi adalah suatu kesempatan.’ Segitu aja kok ka.”

Ibu Aldi tersadar setelah berbicara dengan Alya, sadar bahwa Allah terlalu kaya dan pemurah untuk menelantarkan keluarganya. Kini ia tak lagi khawatir. Tanpa Aldi bekerja sekarang pun, Allah akan selalu membagikan rezeki pada keluarganya. Mungkin selama ini sang ibu hanya terperangkap dalam satu kata “REALISTIS” sehingga kurang menyadari, kurang menyadari bahwa ada kasih yang paling agung, kasih Tuhannya.

***

Sepoi angin yang membelai tubuh, birunya langit dan pancaran sang surya hari ini cukup menggambarkan suasana hati Aldi yang terang benderang. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengklik tanda “stop” yang tercantum di bill komputer, meninggalkan warnet ini, lantas pergi menerobos keramaian jalan raya, menyingkirkan segala apapun yang menghalanginya di jalan, lalu mendobrak pintu rumah dan berhambur mencari ibu, baru menyampaikan berita gembira ini. Sayangnya hal itu hanya ada di otaknya saja, dia harus sedikit lebih lama berada di warnet ini, mengingat lumayan banyak administrasi yang perlu ia urusi. Terbayang sudah wajah teduh ibunya, senyum ikhlas yang menenangkan, juga tawa riang adiknya, rasanya semakin tidak sabar saja.

Akhirnya Aldi bisa keluar juga dari warnet ini. Sesampainya di rumah, ibu, Alya beserta adik-adiknya telah berkumpul di ruang tamu. Rupanya dia terlambat, ada seseorang yang lebih dulu memberitahu ibunya. Sesaat setelah Aldi membuka pintu, sang ibu langsung memeluknya. Tangis bahagianya sudah tak terbendung lagi. “Alhamdulillah…AllahuAkbar, ibu bangga padamu nak. Ibu yakin ayahmu tersenyum disana.” Ucap sang ibu sambil membelai anaknya. Aldi tidak bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun, bibirnya kelu, hanya air mata yang mewakili segenap ungkapan kebahagiaannya hari ini. Digenggamannya terdapat sebuah kertas bertuliskan

“Aldi Melgian, Universitas Pendidikan Indonesia, Teknik Arsitektur”

Aldi berbisik dalam hatinya, “Pertarungan telah dimulai”

Ibu melepaskan pelukannya secara perlahan, Aldi mulai menyeka air matanya yang sempat jatuh, kemudian perlahan Alya mendekatinya, membisikkan sesuatu “Selamat ya kak, U’re the champion.

Aldi memberikan senyum termanisnya, menyentuh puncak kepala gadis itu, “Thanks dear, darimana kau tahu?” bisiknya pelan.

“Aku selalu tahu tentangmu, karena aku bagian darimu. Aldi adalah Alya, dan Alya adalah Aldi, kita SATU”

***

Banyak orang berlalu lalang, membawa tas dan jinjingan yang entah apa isinya. Penjaga loket terlihat sangat sibuk melayani penumpang yang sedang antre membeli tiket. Disini… di tempat ini, beberapa orang menyambut kedatangan sanak saudara, kawan lama, orang tersayang, atau siapapun itu. Namun disini juga beberapa orang harus melepaskan orang terdekatnya, merelakan perpisahan terjadi dengan harapan akan bertemu kembali disini, dengan keadaan berbeda namun tetap dengan rasa yang sama. Hari ini seorang ibu akan melepas anaknya. Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya, berpisah dengan manusia yang merupakan bagian darinya, terlahir dari rahimnya, yang setiap tangisnya adalah tangisnya juga. Air mata terus mengalir di pipinya, dia mendekap anaknya dengan penuh kasih sayang, mengusap kepalanya, sambil hatinya tidak berhenti melantunkan do’a. Kemudian sang anak mundur satu langkah, menurunkan dekapan ibunya dengan tetap memegang kedua tangan ibunya. Lantas ia mengangkatnya perlahan, menciumnya dengan penuh rasa hormat, memohon restu. Sekali lagi Aldi menatap wajah ibunya dan dengan perlahan melepas genggaman tangannya. Ia lalu pamit dan segera menaiki kereta api yang akan membawanya ke Bandung. Aldi duduk di salah satu kursi, kemudian memandang ibunya dari kaca jendela dan melambaikan tangan sebelum akhirnya kereta itu benar-benar membawanya pergi.

***

Kehidupan barunya telah berlangsung selama satu semester. Semua itu berlalu cepat, terasa seperti beberapa hari saja. Aldi memperoleh IP 4. Dia membuktikan dirinya memang layak memperoleh bidik misi. Dia juga sudah aktif dalam beberapa organisasi walaupun statusnya masih sebagai mahasiswa baru. Aldi benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Mimpinya terasa semakin dekat. Jam belajarnya jauh berbeda bila dibandingkan dengan saat SMA dulu. Dia tidak akan tidur sebelum membaca minimal satu bab setiap malamnya. Tentu saja, semua terjadi karena kekuatan tekadnya. Pada suatu hari, ada seorang dosen yang senang melihat kegigihannya, semangatnya, dan perjuangannya. Dosen tersebut menghampirinya dan menyatakan langsung kekagumannya. Tapi kemudian dia menyinggung hal yang bersifat pribadi. Dosen tersebut bertanya tentang cinta. Dia tahu, masa-masa remaja seperti Aldi memang masa-masanya jatuh cinta. Tapi menjalin cinta bukanlah hal yang mudah. Walau memang manis tapi ada saatnya percintaan menemui masalah yang kemudian mengubahnya menjadi kepahitan. Dan sayang sekali bila persoalan cinta itu sampai mengganggu konsentrasi belajar. Melihat semangat Aldi yang menggebu-gebu dalam belajar, dan pencapaiannya yang luar biasa sejauh ini, dosen tersebut menyarankan Aldi agar tidak mengurusi percintaan dahulu sebelum cita-citanya tercapai. Berhari-hari Aldi memikirkan kata-kata dosen itu. Bagaimana ini? Apakah dia harus melepaskan Alya? Selama ini Alya banyak membantunya, menemaninya disaat-saat terpuruk dan selalu menyemangatinya. Kalau dia melepas Alya, apa yang akan terjadi pada Alya? Gadis itu pasti sakit hati. Tapi bila tetap bertahan percuma saja, Aldi pasti akan banyak mengacuhkan Alya karena dia sudah memutuskan untuk berkonsentrasi penuh pada kuliahnya. Dia ingin lulus cepat dengan nilai yang memuaskan. Setelah menimbang ulang puluhan kali akhirnya Aldi memantapkan keputusannya. Dia merogoh ponsel dalam saku jeansnya, mulai mengetik beberapa kalimat lalu mengirimkan pada kontak favoritnya.

To: Alya_boo

Mungkin kamu akan kaget setelah membaca pesan ini, mungkin juga kamu marah, tapi aku mohon jangan menangis –walaupun kedengarannya memang sulit. Pesan ini pesan terakhir yang aku kirim sebelum aku benar-benar lulus nanti. Dan aku telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Maaf…

Kau tunggu ataupun tidak, setalah lulus nanti aku akan menemuimu lagi. “My heart is always by your side”

***

Tiga setengah tahun telah berlalu. Kini Aldi telah lulus cumlaude dan bekerja di salah satu perusahaan. Dia dipercaya untuk memegang proyek pembangunan hotel di Bandung, pencapaian yang luar biasa. Pekerjaannya banyak sekali, Aldi sangat sibuk, baru kali ini dia memperoleh jatah libur selama empat hari. Kesempatan ini digunakannya untuk pulang ke rumahnya di Yogyakarta. Setalah melepas rindu dengan ibu dan adik-adiknya, dia langsung menuju suatu rumah, hendak menemui orang yang sangat ia sayangi, oh tidak, bukan sayang tetapi cinta.

Sesuatu terjadi diluar dugaannya, bagaikan dihantam seribu baja, dada Aldi sesak, sakit. Aldi hanya bisa menatap nanar sebongkah batu dihadapannya. Yang membuatnya tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan penglihatannya yang berkali-kali ia coba tolak namun tulisan di batu tersebut tidak pernah berubah. Di batu itu terukir nama Alya. Tubuh Aldi kaku, dingin, semua harapannya akan gadis ini gugur, salju turun di hatinya, sungguh dingin…dingin…sampai Aldi merasa hatinya sudah membeku. Kemudian seseorang menyerahkan sepucuk surat kepada Aldi. Dengan tatapan sendu Aldi membuka surat itu dan mulai membacanya.

Dear Tuan Cicak ku…

Hai bapak arsitek… aku sangat yakin sekarang kau sudah menjadi arsitek yang hebat kak.

Saat kau membaca surat ini, aku yakin kau sudah tidak bisa melihatku lagi di dunia ini. Jangan menangis –walaupun kedengarannya memang sulit. Pasti kau akan langsung berpikir aku tidak kreatif karena aku mengutip kata-katamu. Ah sudah kuduga kau memang suka meledekku.

Jujur, setelah menerima pesan terakhirmu itu, aku memang menangis, maafkan aku. Tapi aku lega ka, aku sangat lega, Aku tidak perlu mengatakan itu kepadamu, karena kau telah memintanya terlebih dahulu, mengakhiri hubungan kita.

Saat itu aku baru saja menerima kenyataan yang sulit. Aku menderita penyakit yang mematikn. Penyakit ini mengerogotiku, membuatku menjadi orang paling lemah, tidak bisa melakukan apapun selain berbaring dan membuat susah orang-orang disekitarku. Aku berpikir untuk mengakhiri hubungan kita, karena sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu selain berdo’a. Sekali lagi aku lega, karena kau sendiri yang memutuskannya. Aku tidak tahu ka, berapa lama lagi Tuhan memberiku waktu untuk menikmati dunia ini. Tapi aku selalu berharap bisa bertahan sampai kau kembali. Aku ingin melihatmu lagi, bertemu dengan arsitek terhebat.

Harapanku itu memang kecil, aku tahu. Aku sangat merindukanmu, karena itu tak satu haripun kulewatkan tanpa memandang wajahmu, walau hanya dari selembar foto. Kak, tapi mungkin Tuhan juga sangat menyayangiku sehingga akan memanggilku lebih cepat. Jaga dirimu baik-baik, pulanglah kak, jaga ibu, jaga adik-adikmu, jaga karirmu, tebarlah kebaikan di setiap harimu. Jangan lupa selalu tersenyum, dan selamatkan mimpi anak-anak bangsa yang bernasib sama sepertimu dulu.

Aku tak pernah bosan mengatakan ini, kuharap kakak juga tidak akan bosan mendengarnya. “Anggap kesempatan kedua itu tidak pernah ada, supaya kamu selalu memaksimalkan kesempatan pertama, sehingga satu kali kesempatan saja sudah cukup bagimu.”

Aku harap hubungan kita tidak pernah benar-benar berakhir…

Karena aku  selalu menunggumu…

Kini aku menunggumu di keabadian…

Tersenyumlah… maka aku akan tenang…

Salam,

Alya_boo

 

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa tidak menangis. Aku janji ini yang terakhir.” Aldi ingin Alya tahu dia tidak pernah bosan mendengar pesannya. Perlahan-lahan dia mendekatkan tangannya pada nisan itu, mengusapnya, kemudian dia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Dia mendengarnya…dia bisa merasakanya…Aldi mendengar suara lembut gadis itu, “tersenyumlah…” katanya. Aldi membuka matanya kembali lalu tersenyum, bangkit dan dengan langkah berat meninggalkan tempat itu.

***

“Hei Aldi… apa kabar bro?”

“Baik… semuanya terasa baik, sangat baik.”

“Hebat kamu, selamat ya… hati kamu mulia sekali. Kamu akan banyak pahala dengan menolong orang melalui Yayasan Sosial dan Pendidikan ini.”

“Iya, itu memang harapanku sejak dulu.” Jawabnya “Dan harapan Alya.” Sambungnya dalam hati.

“Apa rahasianya nih?”

Aldi tersenyum dan berkata dengan mantap.

“Seseorang tidak pernah bosan berpesan kepadaku, dan membuatku tidak pernah melewatkan satu kesempatan pun.”

“Siapa? Kekasihmu ya?”

“Menurutmu?”

Pikiran Aldi melayang, mengingat masa-masa awal perjuangannya. Keputusannya mengambil kesempatan Bidik Misi, cinta yang diterimanya dari ibu dan Alya, kekuatan tekad dan cita-cita,  telah membawanya pada semua pencapaian ini.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s