LBM Menulis: PRIORITAS by Adi Hasdian (Cerpen)

priority1

Beberapa bulan lagi, Andi akan segera pergi ke Malaysia. Ia adalah seorang mahasiswa kurang mampu. Untuk bisa kuliah saja, Alhamdulillah, Ia mendapatkan beasiswa Bidik Misi, yaitu beasiswa yang diberikan oleh pemerintah bagi anak kurang mampu, yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Semasa SMA, kuliah adalah salah satu impian terbesarnya saat itu. Sekarang, impian itu telah terwujud. Dia merasa sangat bersyukur.
Malaysia? Ya, impiannya saat ini adalah ingin keliling dunia. Ia akan memulainya dari Negara terdekat saja, Malaysia. Baiklah, mungkin terlalu berlebihan kalau mengistilahkannya keliling dunia. Sebenarnya, ia hanya ingin mengunjungi beberapa Negara saja. Tujuan utamanya, ia ingin pergi haji bersama keluarga ke Baitullah, impian hampir semua anak kepada orang tuanya. Ia sadar, tidak semua hal besar dapat ditempuh dengan satu langkah saja, ada kalanya kita mesti berlari, menghampiri segala kemungkinan dan kesempatan tak terduga, atau melangkah biasa dengan penuh keyakinan, menaiki satu persatu tangga, menuju lantai yang menjadi tujuan kita. Andi akan memulainya dengan tangga pertama, itulah Malaysia. Baginya, memulai dengan hal kecil, ia akan mendapatkan pengalaman lebih banyak. Walaupun, ia tak akan menolak bila memang ia menerima impian utamanya dengan cepat. Rezeki tidak boleh ditolak, begitu pikirnya.
***
Uang bulanan Bidik Misi, cukuplah untuk membiayai kebutuhan Andi setiap bulannya. Untuk pergi ke Malaysia?, ia harus bekerja keras mencari uang tambahan, untuk ditabungkan. Setiap pagi, ia berjualan makanan kecil di kampus, sambil menunggu waktu kuliah. Sedikit memang penghasilan yang ia peroleh, tapi, ia percaya dengan pepatah yang mengatakan “sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Asal ia giat dalam pekerjaan sampingannya, ia akan menuai hasil.
Usai berjualan, seperti mahasiswa lain, ia belajar. Ia senantiasa berusaha tidak ketinggalan satu perkuliahan pun. Tanggung jawabnya terhadap Pemerintah sangat besar. Ia berpikir, ia tak boleh lalai dalam belajar, kesempatan untuk dapat kuliah, tak boleh ia sia-siakan. Ia harus amanah atas do’a akan impiannya semasa SMA, yang telah dikabulkanNya melalui program pemerintah dengan beasiswa Bidik Misi itu.
Ketika itu, ia sedang berkuliah di ruang kelas. Ia masih semester dua. Semua fokus memperhatikan dosen yang menguraikan materi perkuliahan dengan gamblangnya. Tiba-tiba suara terdengar dibalik pintu ruang kelas itu. Ceklek,suara pintu terbuka.
“Assalamualaikum,” ucap Ketua Prodi memasuki ruangan.
“Wa’alaikumsallam,” jawab para mahasiswa dan dosen di ruangan itu.
“maaf pak, saya mengganggu perkuliahannya dulu. Ada yang mau diinformasikan ke anak-anak,” Ketua Prodi memohon waktu kepada dosen yang sedang mengajar.
“baiklah bu, silakan!” balas dosen tersebut.
Semua di kelas itu tidak bersuara. Semua mata terpusat pada sosok di depan kelas. Memperhatikan benar apa yang hendak disampaikannya.
“mohon perhatiannya dulu semua!” Bu Hani, nama Ketua Prodi itu mulai berbicara. “bagi semua mahasiswa yang ibu cintai. Ada hal yang ingin ibu sampaikan. Bagi semua, yang ingin ikut beasiswa pertukaran pelajar ke Malaysia, silakan daftarkan segera diri anda ke ruang Prodi. Pesertanya terbatas. Jadi nanti akan diadakan tes untuk menyeleksi siapa yang berhak pergi ke Malaysia.”
Beberapa mahasiswa di ruangan itu tampak antusias. Tidak terkecuali dengan Andi, ia merasa mendapatkan peluangnya, peluang untuk memulai langkah keliling dunia.
Andi benar-benar tidak melepaskan kesempatan itu begitu saja. Ia mulai menyiapkan semuanya, semakin giat saja ia belajar. Tak sehari pun ia lewatkan dengan percuma. Bahkan, sampai waktu tes pun tiba.
Di salah satu ruangan kelas kosong, tes dilaksanakan. Tidak hanya tes tulis yang diujikan, ada juga tes lisan dan beberapa tes lain. Cukup panjang memang prosedurnya. Tentu saja, Prodi juga tidak bisa memilih dengan asal, banyak pertimbangan yang harus diperhatikan.
Waktu terus berjalan. Petang itu, mereka baru menyelesaikan tes. Sampai petang bahkan, padahal dari pagi mereka melakukan tes. Benar-benar panjang prosedurnya. Beberapa diantara mahasiswa itu, tampak lelah ketika hendak meninggalkan ruangan tes untuk kemudian pulang ke kediamannya masing-masing.
***
Tidak terasa, setelah menunggu beberapa minggu. Akhirnya, hari pengumuman hasil tes pun tiba. Pengumuman dilakukan di ruangan yang sama dengan ketika tes dilakukan. Semua terlihat pasrah akan segala keputusan, sebagian lagi terlihat begitu yakin. Ketua Prodi mulai memasuki ruangan. Ia membuka map yang dibawanya, dikeluarkannya lembaran-lembaran penuh pertanyaan bagi para mahasiswa. Dan, ya, ia mulai membacakan lembaran itu. Pengumuman pun dimulai.
“maaf sebelumnya, ibu yakin semuanya telah melakukan yang terbaik. Bagi ibu, kalian semua adalah mahasiswa terbaik. Tapi, kami hanya membutuhkan tiga orang yang akan kami berangkatkan ke Malaysia. Menurut hasil tes, yang terbaik diantara yang terbaik yang akan pergi ke Malaysia adalah…”
Hening sekali ruangan itu. Hanya suara Bu Hani saja yang terdengar jelas. Aneh benar tingkah para mahasiswa mahasiswa. Ada yang terlihat mulutnya berkomat-kamit, berdo’a, ada yang terlihat fokus memperhatikan Bu Hani, sebagian lagi terlihat santai dengan optimisnya.
“Ria Ernesta, Johan Dirgantara dan Andi Setiadi. Selamat, kalian berkesempatan pergi ke Malaysia. Besok diharapkan bertemu ibu di ruangan untuk konfirmasi kesiapannya!” Bu Hani menutup kembali mapnya.
“Alhamdulillah..” riang sekali Andi kala mendengar pengumuman itu.
***
Ternyata, Andi harus tetap mengeluarkan modal sendiri untuk mengurusi segala administrasi, sebelum mendapatkan beasiswa ke Malaysia. Dari mulai passport, visa, harus diurusi sendiri. Ia juga harus menyiapkan bekal untuk berjaga-jaga sebelum ia berangkat. Ongkos pesawat memang sudah ditanggung, tapi yang lainnya harus diurusi sendiri. Begitulah yang disampaikan Bu Hani pada saat pertemuan antara Bu Hani, Andi bersama kedua rekannya yang terpilih. sekitar satu juta rupiah harus ia persiapkan.
Udara dingin menyelubungi malam. Ia kemudian membuka celengan. Hasil dari jualan makanan kecil, selalu ia tabungkan di celengan yang disimpan di kamarnya. Ia membuka dan Alhamdulillah uang yang telah dikumpulkan beberapa bulan ini telah sampai pada nominal satu juta lebih seratus lima puluh ribu rupiah. Syukurlah, pikirnya. Ia benar-benar seperti mendapatkan hujan di padang tandus terus-menerus. Hal yang sepertinya tak mungkin, menjadi fakta yang dapat digenggamnya, nyata.
Ia menyimpan uang hasil tabungan itu di tas kuliah. Sehabis itu, segera ia mematikan lampu dan menuju tempat tidur. Kring kring kring suara handphone keras berbunyi. Rupanya, ibu Andi menelpon. Sekalian saja ia mengabarkan kabar bahagia itu kepada orang tuanya. Ia mengangkat telpon dengan wajah sumringah.
“halo bu, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsallam. Andi, kamu besok bisa pulang kan ke kampung?” suaranya sedikit parau, seperti habis menangis.
“iya bu, ada apa?” Andi bingung.
“Andi, bapak kamu sakit keras, besok harus dibawa ke Rumah Sakit. Ia harus menjalani perawatan di Rumah Sakit.” Sekarang, tangisnya benar-benar pecah.
Belum sempat Andi membagi kabar bahagianya, ia harus mendapat kabar buruk mengenai bapaknya.
“ibu membutuhkan uang satu juta untuk biaya Rumah Sakit. Tapi kamu jangan pikirin masalah itu! Ibu akan mencoba mencari pinjaman. Walaupun resikonya, bapak kamu harus bertahan dulu menahan sakitnya sebelum ibu mendapatkan uang itu.” Ia tak sanggup lagi membendung tangisnya, sampai terdengar keras di telinga Andi.
“iya bu.” Andi menyimpan handphonenya, setelah beberapa saat ibu menutup telpon.
Andi kembali kebingungan. Ia dihadapkan pada dua pilihan. Apa yang akan lebih diprioritaskan Andi?.
***
Pagi ini, ia harus mantap dengan prioritasnya. Ia bersiap melangkahkan kaki. Dengan uang satu juta yang ia simpan di tas kuliah, ia bergerak menuju kampus, menuju ruangan Bu Hani. Dengan sangat yakin ia mulai berbincang dengan Bu Hani.
“Bu, apa kalau saya telah sampai di Malaysia, saya akan benar-benar mendapatkan beasiswa dengan lancar ?”
“Tentu saja. tapi, kamu berjaga-jaga saja dahulu, dengan uang kamu sekarang. Takutnya turun beasiswanya telat!”
“baiklah bu,” ia mengatakannya, sekali lagi dengan sangat yakin. “Bu, boleh saya mengatakan sesuatu?” lanjut Andi.
“silakan saja!” Bu Hani tersenyum, khas memang senyumannya itu.
Andi mulai menceritakan semua perbincangan dengan ibunya semalam. Ia menceritakan secara rinci tanpa ada yang dikurangi. Semua tentang pilihan itu. Bapaknya sakit, uang satu juta rupiah, kebutuhan pergi ke Malaysia, semuanya. Ia berusaha meyakinkan Bu Hani.
“dan, sekarang sepertinya saya mengundurkan diri. Maaf bu, dan terima kasih sebelumnya. Mungkin kali ini bukan rezeki saya untuk pergi ke Malaysia.”
“baiklah, kalau memang itu sudah jadi keputusan kamu. Ibu akan mencari pengganti kamu. Maafin ibu juga tidak bisa banyak membantu kamu.”
Andi segera pamit meninggalkan ruangan Bu Hani. Ia melanjutkan perjalanan, menuju terminal, memasuki bis yang akan membawanya pulang ke kampung halaman, masih dengan uang satu juta di dalam tas. Keluarganya lebih membutuhkan uang itu.
Andi yakin akan keputusannya. Baginya, keluarga adalah prioritas penting dibanding impian kecilnya itu. Tujuan utamanya adalah naik haji bersama keluarga. Kalau saja ia harus kehilangan salah satu bagian keluarganya karena memaksakan pergi ke Malaysia, ia telah mendustai impian utamanya. Ia hanya akan berjalan di tangga yang putus, jauh dari tujuan utama langkahnya. Ia percaya bahwa kalau waktunya tiba, ia akan mencapai impiannya, bersama orang-orang tercinta, keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s