LBM Menulis: Penyemangat Baru by Hani Nurhasanah (Cerpen)

semangat_back_to_college_by_rockability_dsg-d4azayq
Harta dan materi bukan segalanya, tapi persahabatan yang tulus memiliki arti yang luar biasa bagi ketiga sahabat ini. Mereka bertiga selalu bercanda dan belajar bersama, seolah-olah tak ada beban pikiran dalam benak mereka. Reki, satu-satunya laki-laki yang menjadi seorang pemimpin, cerdas dan tangkas diantara mereka bertiga. Hani, salah satu gadis cantik, berhati lembut dan dermawan. Dan yang terakhir, Arini, gadis cerewet, cerdas namun tak kalah baik hatinya seperti Hani.
Siang itu, ketiga sahabat ini berdiskusi mengenai rencana untuk melanjutkan kuliah mereka di tempat biasa mereka belajar dan berkumpul yaitu di taman dekat SMA 1 Banjar.
“Aku pesimis untuk melanjutkan kuliah nih. Kalian tahu sendiri kan, bagaimana keadaan keluargaku?”, curhat Reki.
“Reki, kamu bicara apa sih? Kita kan sudah berjanji akan terus melanjutkan kuliah, meskipun begitu sulit untuk kita berdua. Kamu dan aku menjadi calon guru termuda, sedangkan kau Hani, jadi calon dokter yang profesional. Hehehhe”, celoteh Arini.
“Iya nih, meskipun ayahku dokter, tapi aku ingin menjadi dokter atas usahaku sendiri, bukan hasil titipan. Bener engga? Hehehe ”, tambah Hani.
“Betul, lagi pula Ibu Imas kan pernah menjelaskan bahwa ada beasiswa bidik misi bagi siswa berprestasi yang tidak mampu. Insya Allah kamu dan aku pasti bisa mendapatkannya”, jelas Arini.
“Oke sahabat-sahabatku yang cantik. Aku akan berjuang untuk tetap melanjutkan kuliah”, kata Reki.
“Nah, ini baru Reki sahabat kita”, jawab Arini dan Hani dengan kompak.
Mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa sejuta mimpi. Begitu mudah bagi Hani untuk mencapai cita-citanya, tapi bagi Arini dan Reki, sungguh menguras keringat dan kesabaran yang dirasakan mereka. Itu semua sebagai awal dari bentuk perjuangan mereka.
Sesampainya di rumah, Reki menceritakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah kepada kedua orangtuanya. Ayahnya terdiam sejenak dan menghembuskan napas panjang seraya berkata untuk menyuruh Reki bekerja setelah selesai SMA untuk membiayai ketiga adiknya yang masih kecil. Wajar saja, ayah Reki hanya seorang petani sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Reki mencoba menjelaskan dengan semangat bahwa ada beasiswa yang dapat meringankan biaya kuliahnya dan bahkan mendapat uang saku tiap bulan.
“Nanti, siapa yang akan mengurusi adik-adikmu Reki, jika kamu sekolah jauh-jauh ke Bandung”, jelas ayahnya.
“Aku juga akan bekerja sambil kuliah Ayah nanti di Bandung, mudah-mudahan saja”, jawab Reki.
“Baiklah itu pilihan kamu, mudah-mudahan itu jalan yang terbaik”, ucap ayahnya.
“Doa kami selalu menyertaimu, anakku”, kata ibunya.
Arini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan ekonomi Reki berlain cerita. Orangtua Arini sangat mendukung keinginan Arini. Mereka sadar bahwa dengan menuntut ilmu dapat mendatangkan rezeki yang dapat mengubah keadaan sekarang. Arini sangat berterimakasih kepada kedua orangtuanya yang dengan ikhlas juga turut membantu menyelesaikan persyaratan-persyaratan pengajuan beasiswa bidik misinya. Sedangkan Hani, ia tak mengalami masalah apa-apa. Orangtuanya mampu untuk menyekolahkan Hani masuk jurusan kedokteran. Hani hanya berdoa semoga kedua sahabatnya bisa melanjutkan kuliah seperti dirinya.
Setelah bekas-berkas pengajuan beasiswa selesai dilengkapi, Arini, Reki, dan teman-teman lainnya yang tidak mampu namun berprestasi segera mengirimkan berkas-berkas tersebut di ruang BK secara online. Dan selanjutnya melakukan pendaftaran SNMPTN Undangan. Reki dan Arini sama-sama daftar ke UPI.
“Anak-anak, semoga pengajuan beasiswa kalian dapat diterima”, doa Ibu Imas guru BK di sekolah.
Setelah satu bulan pengiriman pengajuan beasiswa dan pendaftaran SNMPTN Undangan, pengumuman siswa yang diterima SNMPTN Undangan pun serempak di umumkan secara online. Reki, Arini dan Hani diterima di jurusan masing-masing. Namun, pengumuman beasiwa bidik misi belum diumumkan. Reki dan Arini masih menjadi calon penerima beasiswa bidik misi.
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pengumuman siswa-siswi yang diterima beasiswa bidik misi di tempel di BAAK UPI Bandung. Pada saat itu, kebetulan Reki sedang berada di Bandung, ia sedang bekerja membantu bibinya berjualan. Ia langsung pergi ke UPI dan melihat kertas-kertas yang berisi pengumuman tersebut. Satu demi satu dibacanya dengan teliti, ia mencari namanya serta nama teman-temannya. Ternyata tidak ada namanya, begitu pula nama teman-temannya dari SMA 1 Banjar. Air mata mulai mengalir, meskipun ia laki-laki tapi ia bisa merasakan hatinya yang tergores sangat perih menerima informasi seperti ini. Apa yang harus dikatakan kepada kedua orangtuanya? Padahal semua tetangga di kampungnya mengetahui bahwa Reki telah diterima di UPI Bandung dengan biaya gratis, padahal hanya sebatas calon penerima beasiswa bidik misi saat itu.
Reki pulang dengan hati kecewa, pupus harapannya untuk melanjutkan kuliah. Ia menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dan kedua orangtuanya.
“Tuh kan ayah bilang apa, seharusnya kamu mendengar kata-kata ayah untuk langsung bekerja tidak usah melanjutkan kuliah”, kata ayah Reki.
“Sudahlah, Reki kan telah berusaha. Allah telah menggoreskan takdirya”, tambah ibunya sambil mengusap air mata.
Mendengar informasi bahwa tidak ada satupun yang diterima beasiswanya, Arini dan ibunya langsung pergi ke UPI Bandung dengan membawa tekad dan sifat optimis. Mereka tidak memikirkan apa-apa, mau tidur dimana, biaya transportasi darimana, mau ke siapa nanti di UPI tentang informasi beasiswanya, bagaimana jika tidak ada respon dari pihak UPI. Mereka hanya berpikir, yang terpenting Arini harus melanjutkan kuliahnya.
Secara kebetulan, Tyas temannya Arini akan pergi ke Bandung untuk mencari rumah kontrakan karena ia juga diterima di UPI Bandung lewat jalur SNMPTN Tulis. Akhirnya Arini dan ibunya menumpang di kendaraannya Tyas. Mereka bersyukur dan mengucapkan terimakasih kepada keluarga Tyas yang dengan ikhlas membantu mereka di keadaan yang terjepit ini. Allah SWT selalu memberikan kemudahan bagi hamba-hambanya yang bersabar dan bertawakal hanya kepada diri-Nya.
Esok paginya, Arini dan ibunya berangkat ke BAAK pukul 7 pagi. Dan ternyata kepala yang mengurusi beasiswa sedang tidak ada di tempat. Mereka terus menunggu dengan sabar dengan perut kosong belum diisi makanan. Akhirnya, pada pukul 1 siang kepala yang mengurusi mengenai beasiswa datang. Setelah berdiskusi ternyata ada hal yang mengganjal. Arini ditanya mengenai uang bangunan di sekolahnya yang pada saat itu biayanya sangat mahal karena sekolah RSBI. Arini menjelaskan bahwa sebenarnya ia tidak membayar sepeserpun di SMA nya dulu, namun ia dibiayai oleh beasiswa pemerintah kota. Begitu pula iuran perbulannya yang begitu mahal dibiayai oleh beasiswa pemerintah kota. Karena Arini merupakan siswa yang berprestasi di bidang akademik.
Setelah penjelasan secara rinci mengenai beasiswa, Arini dan ibunya merasa bahagia. Karena sekarang mereka telah mengetahui bahwa banyak sekali peluang mendapatkan beasiswa di UPI ini selain beasiswa bidik misi. Tapi mereka berharap, Arini bisa mendapatkan beasiswa bidik misi ini, karena beasiswa inilah yang memang benar-benar sangat membantu keluarganya. Karena dari sejak awal perkuliahan sampai kuliahnya selesai tidak dikenakan biaya, bahkan diberi uang perbulan Rp 600.000,00 yang memang benar-benar cukup untuk kehidupan sehari-hari Arini nantinya. Pengumuman penerimaan beasiswa bidik misi belum berakhir. Masih ada 1 gelombang lagi yaitu sekitar 600 orang yang masih diproses.
Sesampainya di Banjar, Arini menjelaskan kembali kepada teman-temannya tentang pengetahuan yang di dapat dari perjalannanya ke Bandung. Mereka juga ikut gembira mendengar informasi tersebut karena banyak peluang untuk melanjutkan kuliah. Namun wajah Reki tidak menunjukan rasa gembira seperti teman yang lainnya. Karena ia telah melamar pekerjaan menggantikan keinginannya untuk kuliah. Namun, ia juga masih berharap agar pada saat pengumuman gelombang 2 nanti namanya bisa tertulis pada siswa yang diterima.
Sampailah kepada hari pengumuman penerimaan beasiswa bidik misi gelombang 2. Arini memang tidak berangkat ke Bandung, tapi Arini hanya menerima informasi siapa-siapa saja yang diterima dari temannya yaitu Nina, teman barunya Arini yang tinggal di Bandung. Alhamdulillah, Arini dan teman-temannya diterima. Tapi hanya satu nama yang tidak tercantum di papan pengumuman tersebut. Hanya nama Reki yang tidak ada. Kenapa? Kenapa namanya tidak ada? Apa salahnya? Bagaimana nasib sahabatku ini? Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dalam pikiran Arini. Ia berlari menuju taman dekat sekolahnya, tempat ketiga sahabat ini selalu berkumpul bersama dengan air mata yang bercucuran. Ia menangis sendiri, terdiam termenung. Ia pernah berjanji kepada Reki untuk kuliah bersama-sama di UPI, menjadi guru termuda dan kini impiannya sirna brgitu saja.
Dari arah taman belakang, datanglah Hani dan Reki menghampiri Arini yang duduk sendiri ditemani suara kicauan burung. Mereka terkejut melihat Arini sedang menangis. Arini pun menceritakan alasan mengapa ia menangis.
“Sudahlah, tidak apa-apa sahabatku. Mungkin ini jalan takdirku”, jelas Reki.
“Tapi Reki, kita kan selalu bersama, selalu sehati”, jawab Arini sambil terisak-isak.
“Tenang Arini, tenang”, sela Hani sambil mengusap lembut punggung Arini.
“Aku akan tetap menjadi sahabat kalian berdua. Meskipun aku tak melanjutkan sekolah, tapi aku akan tetap belajar dari pengalaman. Bukan hanya belajar duduk di bangku perkuliahan kan?”, ucap Reki.
“Tapi, masih ada penerimaan gelombang 3 kok Reki, pasti kamu akan diterima di gelombang 3 nanti. Iya kan?”, kata Arini yang mulai terhenti isak tangisnya.
“Percuma Arini, aku tak akan berharap banyak dari pengumuman selanjutnya. Meskipun aku diterima nanti, aku tak akan mengambilnya. Aku mulai berpikir, siapa nanti yang akan merawat adik-adiku yang masih kecil ini? Ayahku sudah beranjak tua. Pastilah aku yang akan menanggung semuanya. Aku akan berjanji, aku akan berusaha dengan usahaku sendiri nantinya”, jelas Reki mencoba bersikap sabar.
Sungguh bijak kata-kata yang diucapkan oleh Reki. Ucapannya masih terniang di telinga Arini. Ia berhenti menagis dan memeluk kedua sahabatnya ini. Reki berbisik kepada Arini dan Hani agar mereka terus belajar dengan sungguh-sungguh.
“Aku ingin adik-adikku yang melanjutkan cita-citaku untuk terus bersekolah. Maka dari itu, doakan ya sahabat-sahabatku yang cantik…. hehhehe”, ucap Reki dengan selingan candaannya.
Sekarang Arini tersadar, Reki memiliki jiwa dan hati yang tegar. Arini mengingat bahwa dulu di SMA ia tidak seaktif Reki baik di kelas ataupun di organisasi sekolahnya. Reki tak seberuntung Arini yang memang sangat didukung oleh kedua orangtuanya untuk terus melanjutkan kuliahnya. Berbeda dengan reki yang sejak awal, orangtuanya berharap agar Reki langsung bekerja.
Arini berjanji, bahwa ia akan belajar sungguh-sungguh mengukir prestasi baik akademik maupun non-akademik seperti Reki dulu di SMA. Memang nasib ketiga sahabat ini sangat berbeda. Allah SWT memberikan jalan takdir yang berbeda bagi tiap manusia. Meskipun satu ibu dan satu ayah, kembar sekalipun pasti memiliki takdir yang berbeda. Namun, bukan karena Allah SWT pilih kasih kepada hambanya yang memberikan takdir yang berbeda. Bukan karena itu, bukan. Karena semakin sulit untuk bertahan hidup, semakin banyak rintangan di dunia ini, semakin lelah untuk berjalan di jalan yang benar, maka semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah SWT. Kebahagiaan dan kesuksesan hanya dapat diukur oleh ikhtiar dan doa dari masing-masing insan.
“Semoga Reki bisa berhasil dan sukses dijalan yang ia pilih Ya Rabbi. Aamiin. Aku juga semakin bersemangat untuk bisa berprestasi disini. Semoga saja.  ”, doa Arini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s