LBM Menulis: Hingga Kantor Bupati Ku Tempuh Demi Prestasi by Ebtantia Purnamasari (Cerpen)

tumblr_mda32dg9Jr1r2ur75o1_400
Namanya Farid, salah seorang siswa kelas XII SMA Negeri yang ada di Kota Indramayu. Jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih 20Km, dan itu ia tempuh hanya dengan menggunakan sepeda. Rumahnya memang berada di pedalaman kota, jangankan sinyal handphone, listrik saja belum terjamah di desa ini. Farid merupakan siswa yang cerdas, nilai nya tak pernah kurang dari 8,5 yaa dia adalah seorang juara kelas berturut – turut dari kelas X. Farid tak pernah telat datang kesekolah, dia berangkat dari rumah sejak pukul 03.00 dinihari. Tak pernah malu tentang latar belakang keluarganya, biaya sekolahpun ia dapat dari beasiswa. Nyaris baju seragam serta sepatu belum pernah ganti sejak dia masuk SMA. Kini Farid duduk dibangku kelas XII IPA, kegalauan mulai datang ketika memasuki semester 2. Disetiap doa yang ia panjatkan usai salat, dalam lirih doanya “Yaa Allah hanya kelulusan Ujian Akhir Nasional yang aku minta dan aku ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri favoritku di Kota Bandung agar aku bisa mengajari murid – muridku menjadi pandai”. Hanya doa itu yang selalu ia baca berulang – ulang. Hari demi hari ia lalui, setiap pulang sekolah dia selalu membantu orangtuanya berdagang keliling dari kampung ke kampung. Tak pernah ada kata lelah dalam benaknya.
Siang itu di lorong sekolah seseorang memanggil Farid.
“Farid” Suara berat memanggilnya, itu adalah suara Pak Ono guru Matematika sekolahnya.
“Iya Pak” Jawab Farid sembari menoleh dan mencium tangan beliau.
“Mau lanjut kemana kamu nanti setelah UAN ini?” tanya Pak Ono lagi
“Ingin saya ke UPI Pak, menjadi seorang guru seperti Bapak. Tapi….” Obrolan Farid pun terhenti
“Tapi apa?” tanya Pak Ono keheranan
“Saya kan anak kampung Pak, sekolah disini saja saya beasiswa. bagaimana nanti kalau saya masuk kuliah yang biayanya menjual rumah gubug keluarga pun sepertinya tak cukup…” jawab Farid sedih
“Belajar saja kamu yang rajin, setelah UAN nanti akan ada SNMPTN Tulis dan mendaftar bidikmisi, dimana biaya perkuliahan akan gratis bahkan kamu mendapat uang saku untuk biaya hidup” Terang Pak Ono membuat Farid menjadi tenang
Beberapa minggu setelah UAN, Farid mendaftar BidikMisi untuk mengikuti tes SNMPTN, sayangnya tempat tes Farid berada di Kota Bandung di Perguruan Tinggi Negeri itu sendiri. Farid bingung bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk pergi ke Kota Bandung. Akhirnya, Farid mencari kerja kesana – kemari untuk mendapatkan uang supaya bisa ikut tes SNMPTN Tulis. Ya becak lah yang ia dapat. Sebuah becak peninggalan almarhum Bapak nya yang sudah hampir 2tahun tak terpakai kini ia pakai untuk mencari uang. Pagi – Siang – Sore – Malam Farid mengayuh becak tanpa henti demi mengumpulkan pundi – pundi rupiah. Ada yang unik dengan cara kerja Farid yaitu setiap hari Jumat Farid selalu menggratiskan ongkos becaknya pada semua penumpang. Karena hanya doa lah yang Farid mau. Satu per satu Farid mengantar penumpang sampai tujuan dan ketika sang penumpang turun lalu bertanya,
“Berapa Mas?” tanya penumpang itu
“Gratis Bu, tapi saya hanya minta doa supaya saya bisa mengikuti tes SNMPTN dan lolos SNMPTN nanti” Jawab Farid
“Oh yasudah, Aamiin ” Kemudian mulut penumpang itupun komat kamit.
Dan begitulah seterusnya ketika Farid menjumpai penumpang setiap hari jumat. Sampai di suatu hari jumat yang cuacanya amat sangat panas, didepan stasiun kereta api Farid mendapati seorang penumpang pria paruh baya. Pria itupun meminta diantarkan ke suatu alamat. Namun setelah sekian jam mengayuh becak alamat yang dicari tak kunjung ketemu. Akhirnya pria itupun minta diantar ke stasiun kereta saja seperti tempatnya semula. Dikayuhlah becak itu hingga sampai di stasiun.
“Berapa Mas?” tanya pria paruh baya itu
“Gratis Pak” Jawab Farid singkat.
“Loh kenapa? Anda kan sudah membantu saya mencari alamat yang tak kunjung ketemu. Sudah berjam – jam loh anda mengayuh becak” Tanya penumpang pria itu lagi
“Maaf Pak, karena ini hari Jumat saya punya komitmen bahwa setiap hari Jumat saya gratiskan becak saya karena saya hanya minta doa dari penumpang supaya saya bisa mengikuti tes SNMPTN di kota Bandung dan saya lolos” Terang Farid
“Nah berarti Anda orang saya cari” Pria itu pun memberikan 2 lembaran pada Farid.
“Apa ini pak?” tanya Farid keheranan
“Ini adalah tiket travel ke Bandung bolak – balik Mas, mungkin Mas bisa menggunakan ini untuk pergi tes SNMPTN, saya doakan kamu pasti lulus” Tanpa basa – basi lagi pria itupun meninggalkan Farid begitu saja dan masuk ke dalam stasiun. Sementara Farid yang mendengar ucapan pria itu ia langsung bersujud syukur atas tiket yang ia terima.
Dua hari kemudian berangkatlah Farid ke kota Bandung dengan menggunakan travel, doa dari penumpang hari Jumat dan dari keluarga,sahabat, dan kerabat telah ia kantongi. Kini giliran Farid berjuang melawan ratusan ribu pendaftar yang lainnya. Dua hari tes pun berakhir, kini Farid tinggal menunggu hasilnya. Menunggu waktu sebulan memang cukup lama, akhirnya Farid kembali ke kebiasaan lamanya, ya menarik becak dan menggratiskan penumpang pada hari Jumat dengan imbalan doa lolos SNMPTN.
Setelah hampir sebulan lamanya, akhirnya pengumuman hasil SNMPTN Tulis pun tiba. Nama Farid tercantum sebagai siswa yang lolos SNMPTN, namun bidikmisi berkata lain. Yaa Farid tak lolos seleksi bidikmisi. Kini kegalauan datang lagi, kalau Farid mengundurkan diri dia takut sistem blacklist akan menimpa sekolahnya sehingga menyusahkan adik kelasnya tahun depan nanti. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Hanya itu yang Farid bisa lakukan. Mencari suatu solusi bagaimana caranya membayar biaya registrasi dikampus UPI yang menjadi impiannya itu. Di ambilnyalah sepeda yang biasa pakai untuk pergi sekolah, Farid pergi tanpa tujuan yang jelas. Kayuh, kayuh, dan terus kayuh. Tak peduli seberapa kilometer yang ia tempuh. Tak peduli seberapa deras keringat ini membasahi pakaiannya. Tak peduli seberapa kacau pikirannya tentang lambang rupiah yang harus dia bayar. Matanya lurus dengan pandangan yang kosong. Setelah sekian jam mengayuh sepeda, berhentilah Farid didepan alun – alun kota Indramayu. Dilihatnya gedung Bupati yang sangat megah. Tempat dimana banyak orang demo mengadu keadilan. Terpikirkanlah suatu ide dalam benaknya. Farid merasa dia punya hak. Kemudian Farid membawa sepedanya ke depan gerbang kantor Bupati.
“Permisi pak, Pak Bupatinya ada?” Tanya Farid pada satpam yang menjaga gerbang, kepala sembari melirik kesana kemari melihat situasi.
“Ada, didalam. Adek ini siapa yaa?” Tanya satpam itu dengan muka sangar
“Saya Farid pak, saya ada perlu dengan pak Bupati. Saya mau curhat masalah saya pak” minta Farid memelas.
“Siapa kamu, pakaian kucel begini mau ketemu Bupati seenaknya saja. Memangnya kamu sudah buat janji dengan beliau, memangnya kamu pikir Bupati itu buku Diary yang bisa diajak curhat” jawab satpam itu dengan sedikit membentak lalu tangannya mengusir Farid dari depan gerbang.
Farid kecewa dengan jawaban satpam itu. Untuk bertemu orang nomor wahiddi Indramayu saja dipersulit. Dengan siapa dia harus bercerita? Orang yang katanya ‘wakil rakyat’ saja tak bisa ditemui. Kemudian Farid duduk disamping gerbang tanpa ketahuan satpam. Sudah seperti pengemis saja Farid ini, dengan pakaian yang kucel dan sepeda bututnya tanpa uang sepersenpun dikantong dengan perut yang sudah mulai perang melawan rasa lapar, Farid hanya bisa duduk terdiam. Setelah sekian jam duduk tiba – tiba terdengar bunyi suara mobil. Yaa mobil yang bernomor polisi 1 itu keluar gerbang, dengan sigap Farid berdiri dihadapan mobil tersebut, nyaris membuatnya tertabrak. Kemudian seseorang bertubuh tinggi besarpun turun, nampaknya dia sang bodyguard.
“Apa – apaan kamu ini, kamu tidak lihat ini mobil Bupati mau lewat” hentak bodyguard itu sembari mendorong Farid hingga tersungkur. Kemudian bodyguard itu masuk ke mobil. Dengan cepat Farid bangkit dan berteriak sambil menangis menggendor – gendorkan pintu mobil.
“Pak Bupati yang terhormat tolong saya pak tolong… Saya butuh perhatian bapak… Pak tolong saya pak…” Dengan derai air mata yang terus mengalir membanjiri pipinya Farid terus mengucap dan melakukan hal yang sama. Beberapa lama kemudian, Pak Bupati pun turun dari mobil. Langsung dipeluknyalah Bupati itu oleh Farid, namun lagi – lagi sang bodyguard mendorongnya untuk melepas pelukan ke Bupati.
Siapa yang tahu, yaa akhirnya Bupati itu memberikan tangannya supaya Farid bisa berdiri. Diajaklah Farid itu ke gedung Bupati nan megah itu. Melihat kondisi Farid yang cukup mengenaskan diberikanlah Farid makanan, setelah itu Farid bercerita tentang masalahnya.
“Saya Farid Pak. Saya dari kampung yang letaknya 20Km lebih dari sini dan saya tempuh dengan menggunakan sepeda butut saya. Saya anak pertama dari enam bersaudara. Bapak saya sudah meninggal 2 tahun lalu. Ibu saya seorang buruh cuci. Sejak SD biaya sekolah saya gratis karena dapat beasiswa. Sekarang saya berkeinginan untuk kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di UPI Bandung. Dengan prestasi yang saya miliki Alhamdulillah saya diterima, tapi beasiswa BidikMisi saya tidak lolos. Alhasil saya harus membayar biaya registrasi yang sangat mahal. Mungkin kalau saya menjual gubug keluargapun biayanya masih kurang. Saya kesini ingin meminta perhatian Bapak, ingin menagih ‘Janji – Janji’ bapak sewaktu kampanye untuk mensejahterakan orang pinggiran seperti saya.” Curhat Farid panjang lebar. Sepertinya Bupati itu tersentuh hatinya. Matanya mulai berkaca – kaca mendengar cerita Farid. Seorang anak kampung yang mempunyai jiwa pendidikan yang sangat luar biasa.
“Farid putraku, maafkan saya kalau saat saya memimpin kampungmu mungkin tidak terjamah. Tak pernah kusangka di suatu kampung yang terpelosok ada putra mahkota disana. Yang mementingkan pendidikan itu nomor satu. Kalau memang begitu kondisi kamu dan keluargamu, saya siap membiayai uang kuliah dan biaya hidup kamu. Walaupun kamu putra daerah dari kampung yang terdalam, tapi kamu tak pernah malu sampai akhirnya kamu bisa menembus pasar UPI yang dihuni oleh mahasiswa dari sekolah bergengsi dan anak orang berada.” ucap Bupati, setelah itu beliau kemudian memeluk Farid.
Setelah mengobrol panjang lebar dikantor Bupati, akhirnya Farid diantar pulang beserta Bupati dan rombongannya. Sesampainya dirumah memang miris sekali kondisi ekonomi keluarga Farid, belum lagi tempat mereka tempati sepertinya tidak layak disebut rumah. Melainkan gubug kecil berdinding kayu – kayu yang sudah keropos.
Setelah bertemu dengan seluruh keluarga Farid, Bupati pun menepati janjinya yaitu membiayai Farid kuliah hingga saat ini. Bahkan bukan hanya itu saya, tetapi Bupati juga memperbaiki rumah keluarga Farid hingga layak dihuni.
Dengan ketekunan, kegigihan, dan keuletannya akhirnya sekarang Farid bisa membanggakan Kota Indramayu dan keluarganya. Karena Farid adalah mahasiswa berprestasi, seorang aktifis kampus. Bahkan nilai IP nya tak pernah kurang dari 3,8. Sembari kuliah Farid pun sering diundang sebagai motivator – motivator di berbagai tempat. Tak ada kata menyerah selama itu baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s