LBM Menulis: Untitled by Vicky Taniady (Cerpen)

think

Punggung dan bahu ini kembali terbungkuk. Setelah aku kembali melihat jumlah pundi-pundi pada kartu ATM itu. Nampaknya perlu waktu lebih panjang dan tempo lebih lambat untuk mengarungi alur kisah kali ini.

“Huffftttt..”, hela nafasku sembari kurebahkan tubuh lusuhku ini. Lelah rasanya setelah seharian ini tereksploitasi oleh tugas yang menumpuk. Dalam hati aku bergumam, bagaimana mungkin aku bisa bertahan dengan kondisi seperti ini ? Rasanya ingin aku kembali ke masa sekolah dulu. Saat aku dapat bermain dengan mudahnya tanpa harus terbeban dengan tugas mandiri seperti ini. Namun hati kecil ini tetap menguatkan, bagaimana seharusnya aku bersyukur bahwasanya aku bisa melewati tahap pendidikan hingga saat ini. Walaupun memang hanya bermodal nekat dan keinginan yang keras. Tanpa kemampuan financial yang begitu kembung nampaknya sulit untuk seseorang dapat berdiri di dunia perkuliahan. Ah! Itu kan hanya pemikiran orang-orang yang tidak pernah bersyukur dan berusaha. Semoga aku bukan termasuk golongan itu.

Setiap hari aku melangkahkan kaki ini untuk menuju kampus, walaupun sesekali terkesan diseret.  Seringkali  aku takut dengan setiap tantangan yang sudah siap menghadang bak tentara yang siap menembak. Terkadang kaki ini pun enggan untuk mengikuti setiap rencana masa depan yang telah aku rancang.

Aku akui, aku miskin. Miskin akan hal yang yang selama ini dibanggakan banyak kaum elite, HARTA. Namun di dalam kemiskinan ini aku masih merasa kaya, kaya akan visi dan misi untuk memutar kemiskinan ini menjadi motivasi, bukan senjata. Aku seringkali menyayangkan pada mereka yang dengan mudah menjadikan kemiskinannya sebagai senjata. Seperti tameng yang siap menghadang gempuran dan serangan yang seharusnya dihadapi.

Mengasingkan diri, menarik diri, merasa tidak percaya diri atau apapun itu seringkali dilakukan oleh teman-temanku yang juga penerima beasiswa ini. Satu yang aku bingung, sebenarnya apa alasan bagi mereka untuk tidak berani show up dan merasa sama dengan yang lain?

“Sudahlah, kamu tidak usah kuliah kalau memang tidak mampu lagi, kasian umi dan abi.”, ucap kakakku.

“Loh, aku kan tidak meminta uang pada mereka kak?”, balasku kesal.

“Memang tidak secara keuangan, tapi apakah kamu sempat berfikir seberapa besar mereka memikirkanmu? Atau menanggung beban karna membiarkanmu berjuang sendiri?, kakakku memotong ucapanku.

Aku tidak dapat menjawab pertanyaan dari kakakku yang terus menyudutkanku walaupun apa yang dikatakannya adalah benar. Memang akhir-akhir ini aku sudah 4 kali bolak-balik pada umi untuk mengadu dan meminta uang. Print tugas, membeli buku, membayar keperluan lainnya sudah siap menungguku untuk segera dibayar. Aku memang sedikit kecewa terhadap birokrasi beasiswa ini, tetapi apa mau dikata. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk berhenti melangkah, bahkan seorang yang lumpuh pun akan melakukan berbagai cara untuk ia dapat tetap berjalan walaupun menggunakan kursi dengan 2 roda di kedua sisinya.

Kembali aku harus membungkukan tubuhku, perlambang aku sudah pesimis dengan perkuliahanku ini, mengingat apa yang dikatakan kakakku dan keadaanku yang memang cukup keteteran. Terlebih saat aku mendengar bahwa sebagian temanku yang juga termasuk penerima beasiswa ini sudah menerima jatahnya untuk bulan keempat. Aku lagi-lagi bergumam dalam hati, “Untuk bulan pertama saja aku belum menerimanya, kok mereka sudah bulan keempat?” Aku semakin geram.

Saat aku mendengar bahwa akan ada demo jika beasiswa itu tak kunjung cair, aku sangat antusias untuk ikut. Tetapi aku kembali teringat akan pepatah kaka tingkatku untuk tidak memakan bulat-bulat konsep kritis yang selama ini diajarkan di perkuliahan. Demo adalah jalan terkahir jika musyawarah tidak mencapai mufakat. Aku berfikir.

“Saat seseorang miskin hanya mampu untuk bergumam dan mengeluhkan keadaannya tanpa diimbangi dengan sikap dan alternative secara solutif, sesungguhnya ia merupakan seorang yang hanya bisa menjual kemiskinanya. Namun tatkala seorang mampu menjadikan kemiskinan itu sebagai acuan untuk lebih baik lagi dan terus berusaha tanpa bergantung pada suatu hal maka proses itulah yang akan membuatnya tidak layak untuk direndahkan sekalipun ia miskin. Kita memang harus menuntut apa yang seharusnya menjadi hak kita. Namun akan lebih baik jika kesabaran dan usaha untuk tidak bergantung itu dilakukan sejalan dengannya.”

I’m confused to say that it’s short story or essai

but obviously I just wanna motivate my friends who get Bidik Misi too.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s