LBM Menulis: Uluran Tangan Tuhan by Nia Novita Sari (Cerpen)

uluran-tangan3

“PRRAAK!” Suara pintu kamar memecah keheningan subuh itu. Aku yang baru saja terbangun,melihat kearah pintu kamar. Seseorang berdiri tepat di pintu itu.

Wanita paruh baya,itu Ibu.

“Shalat subuh dulu,lalu segeralah mandi.”

Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu. Kemudian shalat subuh dan segera mandi. Sembari menungguku mempersiapkan diri,Ibu membuatkan sarapan dan secangkir teh hangat. Tak lupa beliau membungkus nasi dan makanan kecil untuk bekalku diperjalanan nanti.

Singkat waktu,aku keluar kamar dalam keadaan rapi dan siap berangkat. Langsung saja menuju meja makan untuk sarapan dan minum the hangat buatan ibu. Sembari aku sarapan,Ibu menuju pintu masuk. Tangan yang mulai tua itu mengangkat satu tas dan satu kardus yang terikat rapi.

“..Sudah tidak ada yang tertinggal? Charger HP? Dompet? Surat surat penting?”

Aku berfikir sejenak.

“Sepertinya tidak Bu. Aku sudah mengecek semuanya sebelum tidur.”

Entah kenapa suasana pagi itu sangat canggung untukku. Ini pertama kali aku pergi jauh dalam waktu yang mungkin lama. Ibu masih sibuk merapikan barang barang bawaanku. Akupun segera menghabiskan sarapan.

“TIN…TIN..!!” Bunyi klakson mobil terdengar dari depan rumah. Ibu langsung membuka pintu dan melambai pada mobil itu. Mendengar klakson itu,kakak sulungku terbangun dan keluar dari kamarnya. Saat aku menuju pintu keluar,kakak menyalamiku beberapa lembar uang.

“Ini sedikit titipan dari abang(suaminya).” Aku hanya tersenyum menatapnya sambil berpamitan. Dengan wajah menahan air mata,aku berjalan menuju travel bersama Ibu. Setelah menaikkan barangku ke bagasi,Ibu menghampiriku di dekat pintu travel. Aku berpamitan pada Ibu sambil menahan air mata.

“Ini sedikit dari Ibu. Pergunakan sebaik baiknya. Jaga dirimu.” Aku mencium tangan Ibu. Tanpa melihat wajahnya,aku naik ke travel. Tak sanggup jika harus menatap wajah sendu ibu. Baru saja travel itu berjalan,air mataku menetes,mengalir tak terhenti setelah tadi menahannya. Aku kembali teringat kejadian akhir akhir ini.

Malam itu tanggal 30 Juni 2011,adalah pengumuman hasil SNMPTN. Temanku,Rafika sudah 15 menit menunggu di rumahku. Kami menunggu Rio yang tak kunjung datang. Setelah menunggu beberapa menit,akhirnya Rio datang. Tanpa menyuruhnya mampir,kami langsung menuju warnet di dekat rumah. Langkah demi langkah terasa berat dan mendebarkan. Inilah penentuan nasib yang sebenarnya.

Dengan menekan tombol enter ini,hasilnya akan keluar dalam beberapa detik. Sambil membaca bismillah,aku pejamkan mata dan menekan tombol itu. Layar itu menunjukkan tulisan yang amat jelas. Betapa kata kata itu membuat aku tak mampu berfikir.

“Selamat. Anda LULUS..”Alhamdulillah,bahagia tak terhingga. Aku lulus di Universitas Pendidikan Indonesia,Bandung. Kota dan Universitas impian sekarang serasa di depan mata. Sampai di rumah,keluargaku sedang berkumpul. Dengan semangat aku sampaikan berita bahagia ini.

“Ibu,aku lulus,UPI Bandung” Aku berteriak.

Ibu dan kakak terdiam,ekpresi wajah mereka benar benar di luar dugaan,tak sesuai harapan. Aku sangat tau apa yang dipikirkan Ibu dan Kakak. Dengan apa akan mereka biayai sekolahku. Ayah yang sudah hampir dua tahun meninggal dunia. Meninggalkan enam anaknya. Ibu sekarang tidak bekerja. Keluargaku menggantungkan hidup pada kakak sulungku,Kak Dewi. Kak Dewi berjuang keras menghidupi lima adiknya. Tepatnya tiga adik adiknya yang masih dibawah umur dan masih sekolah. Sempat terfikir oleh Kak Dewi untuk menunda kuliahku karena tidak ada biaya.

Namun semangat itu masih ada di diriku. Sehari setelah pengumuman,aku kembali ke warnet mencari informasi bantuan bagi mahasiswa tidak mampu. Aku memiliki keyakinan yang kuat tentang itu. Setelah mendapat beberapa informasi,aku pulang untuk memberitahukannya.

“…Bisa. Mereka mengatakan agar aku mengurusnya di kampus UPI. Ada beberapa kebijakan bagi mahasiswa tidak mampu. Aku harus berangkat ke Bandung secepatnya.”

Kak Dewi hanya diam mendengar ceritaku. Berfikir sesaat,dan akhirnya memberi respon.

“Masalahnya sekarang kita tidak punya biaya untuk mengirimmu ke Bandung. Lalu jika gagal bagaimana? Kami tidak mau kau kecewa.”

Ternyata Ibu dan Kak Dewi telah berfikir sejauh itu. Aku menangis dan kesal memikirkan hal itu. Berfikir dan berfikir. Aku juga tidak ingin menambah beban keluarga. Sekarang aku serahkan pada Tuhan. Tuhan lebih tau yang terbaik.

Travel yang kunaiki perlahan lahan berhenti. Sudah sampai di Bandara Internasional Minangkabau,Padang. Setelah menurunkan barang barang,aku langsung masuk ke bandara dan mengurus beberapa hal. Kemudian panggilan untuk masuk pesawatpun terdengar. Aku bergegas menuju pintu pesawat. Lalu aku duduk di tempat yang telah ditentukan. Dengan membaca bismillah,pesawat mulai melesat ke udara. Aku kembali berfikir. Untuk pertama kalinya aku disini,melintasi gumapalan awan putih,memandangi langit biru yang begitu dekat. Subhanallah,sempurnanya ciptaan Yang Maha Kuasa.

Tiga hari setelah pengumuman SNMPTN,belum ada tanda tanda baik. Pasrah,dan rasanya aku sudah berada di ambang keputus asaan. Apa daya,apa yang bisa kulakukan?

“Zzzt…Zzzt..” HP ku berbunyi. Membangunkanku dari lamunan panjang. Buru buru aku bangun dari tempat tidur. Saat ku buka pesan itu…

“Nia,Uda sudah dengarberita tentang kelulusan Nia di UPI Bandung. Kalau tidak keberatan,Uda mau sedikit membantu. Uda akan belikan tiket pesawat. Berangkatlah secepatnya ke Bandung untuk mengurus keperluan itu.”

Jantung ini rasanya berhenti berdetak,terdiam kaku sesaat. Uda Al adalah teman Kakakku. Uda Al adalah bentuk uluran tangan Tuhan kepadaku. Karena beliaulah aku bisa berada di pesawat ini. Tak hanya itu,Allah juga mengetuk hati banyak orang di sekitarku yang ikut membantu. Subhanallah,aku hanya bisa berdoa,Ya Allah murahkan rezeki mereka,mudahkan urusan mereka dunia akhirat,Amiin.

Setelah sampai di Bandara Jakarta,aku naik Bus Primajasa menuju Bandung. Menempuh perjalanan empat jam,akhirnya aku sampi di pemberhentian terakhir. Duduk sambil melihat ke arah sekitar. Seperti sedang mencari seseorang. Tak lama kemudian…

“Kak Wid!”

Wanita mungil yang kulihat di ujung sana,dia adalah kakakku. Kak Wid juga kuliah di Upi dan saat ini sudah semester lima. Kak Wid masuk kuliah saat Almarhum Ayah masih hidup. Setelah ayah meninggal,Ibu dan Kak Dewi tetap membiarkannya kuliah karena prestasinya yang memang baik. Sekarangpun ia mendapat beasiswa PPA dari kampus.

“Sudah lama?”

“Tidak juga. Ayo jalan!” jawabku singkat.

Keesokan harinya tanpa membuang waktu,bersama Kak Wid aku menuju kampus UPI. Mengurus beberapa hal untuk mengajukan keringanan pembayaran biaya masuk. Tentu banyak tantangan dan rintangan. Mulai dari menghadapi pegawai bagian keuangan UPI. Semua pasti tau bagaimana wajah wajah pegawai bagian keuangan. Apalagi yang berhubungan masalah pengajuan keringanan. Seolah kami ini meminta uang dari kantong mereka.

Butuh banyak waktu untuk mengetahui hasilnya. Sering ada pertemuan pertemuan dengan wali murid,sedangkan aku hanya datang dengan Kak Wid yang bahkan terlihat seperti adikku. Benarbenar butuh mental baja. Namun tentu saja ini tidak sia sia. Hasil dari pertemuan itu,bahwa aku tetap bisa masuk UPI dengan syarat membayar 25% dari biaya seharusnya. Kurang lebih saat itu Rp 2.800.000,. Sisanya kurang lebih RP 8.200.000,.dapat di angsur dalam waktu yang ditentukan.

Aku berfikir. Mana mungkin Kak Dewi punya uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu. Belum lagi memikirkan sisanya yang bahkan hamper empat kali lipat. Parahnya ini adalah keputusan final dari pihak keuangan UPI. Sampai saat besok pembayaran terakhirpun,aku hanya menangis dan putus asa. Sia sia perjuanganku selama ini.

Tiba tiba malam itu ada kabar baik. Istri Pamanku mendengar tentang permasalahan ini. Beliau mengirimkan uang Rp 2.000.000. Entah dari siapa beliau mengetahuinya. Subhanallah,lagi lagi Allah mengulurkan tangan Nya lewat manusia yang terketuk hatinya. Hanya Tuhan yang mampu membalas kebaikan hati beliau.

Meskipun sempat ragu,dengan beberapa pertimbangan Kak Dewi akhirnya mengizinkan aku membayarkannya. Tentu saja beliau memikirkan sisa yang harus dibayarkan. Alhamdulillah,satu langkah sudah terlewati dengan perjuangan luar biasa. Terkadang aku sempat berfikir,begitu banyak orang orang baik datang saat aku terpuruk. Mungkin karena almarhum Ayah,semasa hidupnya beliau orang yang baik dan suka menolong. Aku rasa ini buah dari kebaikan Ayah,balasan dari Allah SWT.

Saat sibuk mengurus keperluan masuk UPI,kami di bantu oleh kakak kakak dari BEM REMA UPI. Mereka menawarkan aku mengisi formulir untuk mengajukan beasiswa Bidik Misi tambahan. Tentu saja aku meu,karena sebelumnya aku sempat mencari informasi mengenai beasiswa ini. Aku berharap Bidik Misi jadi jalan terakhir untuk menyelamatkan hidupku.

Satu bulan berlalu,pengumuman BM pun belum kunjung ada kabar. Aku terus menunggu sambil memikirkan jalan lain. Setiap hari aku menanyakan hasilnya. Jawabannya selalu sama dan mungkin aku adalah orang yang paling sering menanyakannya.

“Ass,teteh.. bagaimana? Hasil Bidik Misi kuota tambahan apa sudah ada kabar?”

“Belum dek,InsyaAllah dalam waktu dekat. Tetap sabar dan berdoa.” Jawaban yang selalu sama.

Dua bulan berlalu,hasil itu tak kunjung keluar. Untuk terakhir kalinya aku menghubungi BEM REMA UPI. Kali ini bukan pesan singkat, Aku langsung menelfon beliau.

“Hasilnya sudah keluar seminggu yang lalu. Penerima sudah kami hubungi melalui pesan singkat. Kalau tidak menerima SMS,berarti belum rejeki. ”

Pupus sudah semuanya. Penantian yang sungguh sia sia.

Sampai di saat Kak Dewi dan Ibu menyatakan sudah tidak mampu lagi. Kak Dewi menghubungi Kak Wid tanpa sepengetahuanku. Beliau menyuruh kami untuk segera pulang dan berhenti kuliah. Saat pulang kuliah aku kaget,Kak Wid sudah membereskan semua barang barang kami.

“Ada apa?”

“Dalam minggu ini kita harus pulang. Kak Dewi sudah tidak punya biaya. Belum lagi untuk uang sewa kamar.”

Aku sudah cukup paham dengan jawaban itu. Tanpa banyak tanya,aku ikut mengemasi barangku. Kak Wid menemui Ibu kos untuk menjelaskan bahwa kami akan pulang ke Bukittinggi. Mendengar hal itu,Ibu itu pun terharu dan ikut menangis. Beliau melarang kami pulang hanya karena uang sewa. Kami di izinkan untuk mengangsur uang sewa jika nanti sudah punya uang,dan anak beliaupun bersedia mencarikan pekerjaan paruh waktu.

Tapi ini hanya bertahan dua minggu. Tetap saja kami butuh biaya untuk kehidupan sehari hari dan biaya kuliah. Hari itu terakhir kali aku minta dikirimi uang oleh Ibusejumlah RP 200.000. Biasanya Ibu mengirim ke rekening Kak Wid. Namun saat itu aku meminta agar dikirimkan ke rekeningku saja. Saat akan mengambil uang tersebut,aku kaget melihat…

“..Rp 2.600.000,-”

“Uang siapa sebanyak ini?”

Aku bingung dari mana uang sebanyak itu. Tidak ada yang tahu nomor rekeningku selain Ibu. Semalaman aku tidak tidur memikirkannya. Sibuk bertanya pada teman dan kakak senior. Mereka menyarankan agar memeriksa ke bagian BAUK UPI. Ternyata benar,aku menerima Bidik Misi.

AllahuAkbar,sungguh pertolongan Allah selalu ada untuk hamba Nya. Bidik Misi benar benar uluran tangan Tuhan untukku. Allah menyayangi anak yatim sepertiku dengan segala bentuk uluran tangan Nya.

Bidik Misi mengubah hidupku dan hidup teman teman lain yang seperjuangan denganku. Semoga Allah membalas dengan nikmat tak terhingga,berkah dunia akhirat. Sekarang aku dapat melanjutkan kuliah dengan hati yang tenang. Tidak menyusahkan orang tua dan keluarga. Tak akan ku sia siakan kesempatan ini. Akan kubuat keluargaku,bangsa dan negaraku bangga dengan prestasiku.

Maka disaat kita punya keyakinan kuat,perjuangkanlah hingga akhir. Keyakinan yang kuat,doa yang tak terputus,serta uluran tangan Tuhan,apapun akan kau raih kawan. Percayalah. Salam Bidik Misi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s