LBM Menulis: Tersesat di Jalan yang Benar by Desinta Islamiawati (Cerpen)

2655_harapan_yang_optimis

 

Pagi itu cuaca begitu cerah, langit di kota Bandung begitu biru, gumpalan awan putih menghiasi birunya langit, di temani suhu yang hangat menyentuh kulit  seorang anak perempuan  yang baru lulus SMP dengan begitu percaya dirinya berangkat menuju SMA favorit di Kota Bandung untuk mendaftarkan diri sebagai calon peserta didik baru di sekolah tersebut. Tanpa rasa takut tidak akan lulus, ia mendaptarkan dirinya dengan penuh percaya diri. Perempuan itu bernama Andytia Pradita. Anak dari seorang pedagang gorengan keliling di kota Bandung. Keluarga Dytia termasuk keluarga kurang mampu, ayahnya bekerja sebagai tukang gorengan keliling dan ibunya hanya membuka kios kecil di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya, Andytia adalah anak tunggal, tak heran jika orang tuanya begitu sangat menyayanginya. Walau penghasilan keluarga nya selalu saja tak cukup untuk biaya hidup mereka bertiga, tapi orang tua Dytia selalu berusaha memberikan kehidupan yang terbaik untuk Dytia.  Sejak SD Andytia selalu menjadi bintang kelas, dan sejak SMP Andytia selalu mendapatkan beasiswa. Orang tua Dytia begitu bangga kepadanya, terlebih karena mereka tidak pelu mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan Dytia.

Dan tiba waktunya, hasil seleksi pun di umumkan, ternyata benar, Anditya lulus dengan nilai terbaik. Ini membuat Dytia sangat bahagia.. Masuk SMA favorit adalah salah satu dari sekian banyak cita-cita yang di impikan Dytia. Namun ada satu cita-cita yang membuat Dytia ragu apakah dia bisa mencapai nya atau tidak. “Menjadi dokter spesialis kulit” jawaban yang selalu Dytia lontarkan  saat ada seseorang yang menanyakan cita-citanya. Dytia ragu apakah dia bisa menjadi dokter atau tidak, karena dia sadar orang tuanya hanyalah seorang pedagang kecil yang tak mungkin dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi terlebih lagi sekolah kedokteran yang kata orang biaya masuknya pun begitu mahal. Tapi keraguannnya itu tidak menyurutkan semangat Dytia untuk menjadi yang terbaik.

Satu bulan sudah Dytia sekolah sebagai murid kelas X, seperti biasanya siswa-siswi baru diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler. Ada begitu banyak ekstrakulikuler yang dapat Dytia pilih, namun Dytia  tertarik dengan satu ekstrakulikuler yakni KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) suatu organisasi yang mewadahi siswa siswi yang memiliki minat lebih terhadap ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dytia pun memutuskan untuk bergabung dengan KIR.

Setiap minggu KIR selalu mengadakan kumpulan, entah itu untuk membahas program kerja KIR, melaksanakan program kerja atau hanya sekedar berkumpul untuk mempererat hubungan antar anggota. Ketika itu Dytia sedang berbincang-bincang dengan sesama anggota  KIR yang sedang duduk di kelas 12, kak Tian namanya.

“kak Tian sekarang kelas 12 nih, sebentar lagi lulus, mau di lanjutin kemana ka?”,”iya de, insyaalloh rencananya kakak mau ngambil jurusan Fisika di UPI”, “oh, iya semoga bisa masuk kesana ya ka, amin”, “ kalau kamu de, nanti mau dilanjutin kemana?” ” entahlah ka, de masih ragu, tapi de sih inginnya, masuk Fakultas kedokteran UNPAD ka, tapi de gak yakin bisa kuliah, kakak tau sendirikan biaya kuliah kan mahal, orang tua de mana bisa biayain de kuliah”, “ tenang de, masalah biaya jangan terlau di pikirkan sekarang kan ada beasiswa BIDIK MISI”, “ Bdik Misi itu apa ka?” “ Bidik misi itu beasiswa untuk siswa-siswi yang kurang mampu namun berprestasi de, kalau kita dapat beasiswa itu kuliah kita sampai S-1 akan di biayai oleh pemerintah, kalau mau de ikut itu aja”, “ oh, begitu ka, Alhamdulilah berarti de masih ada kesempatan untuk bisa kuliah ya ka, terimakasih atas infonya ya ka” “ Iya, sama-sama de, oh iya, de coba ikutan SNMPTN Undangan juga”, “ SNMPTN Undangan itu apa ka?” “SNMPTN Undangan itu suatu jalur untuk masuk PTN tanpa tes de, namun syaratnya, nilai kita harus baik dan cenderung meningkat, terus kita harus mempunyai prestasi de”, “Oh, begitu ka. Iya deh. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk berprestasi lebih baik lagi ka”.

Sejak Dytia berbincang-bincang dengan Tian waktu itu, semangat berprestasi Dytia semakin menggebu-gebu. Dytia semakin rajin lagi belajar, setiap ulangan dia selalu mendapatkan nilai yang terbaik. Guru-gurunya pun begitu bangga dengan prestasi Dytia.

Suatu hari, Dytia menghadiri kumpulan rutin minggun KIR, ketika berbincang-bincang bersama anggota KIR yang lain Dytia di hampiri oleh pak. Ega, guru Kimia sekaligus pembina KIR di SMA Dytia. “Dytia, bisa ke ruangan bapak sekarang, ada yang bapak ingin bicara dengan kamu” tutur pak Ega tanpa basa basi. “oh, iya bisa pak” Dytia membalasnya.

Mereka berdua berjalan menuju ruangan pak Ega. Setiba di ruanagan pak ega, mereka duduk dan terjadi perbincanggan. Dytia merasa bingung karena tidak tau apa yang akan di bicarkan pak.Ega. “Begini Dytia, bulan depan sekolah kita akan mengikuti Olimpiade Sains tingkat nasional, namun sekolah kita kekurangan peserta dibidang Biologi, bersedia kah Dytia mewakili sekolah kita mengikuti olimpiade Biologi??”, “emmh, saya tidak yakin bisa pak, apalagi dengan persiapan yang begitu singkat, saya takut mengecewakan sekolah pak”, “ tidak Dytia, bapak yakin kamu bisa, bapak telah mempertimbangkan keputusan ini dengan guru-guru yang lain,  dan mereka setuju. Nilai mata pelajaran biologi mu pun sangat bagus, jadi bapak yakin kamu bisa menjuarai olimpiade ini”. Dytia terdiam sambil berkata dalam hatinya, “mungkin ini jalan yang Alloh berikan, agar aku dapat berprestasi, seandainya aku juara peluang ku untuk bisa masuk FK UNPAD semakin besar, apa salahnya kalau aku coba dulu”, “bagaimana dytia kamu mau?” suara pak Ega menyadarkan dytia dari lamunannya. “oh, iya saya mau pak, saya akan berusaha untuk menjadi juara dan mengharumkan nama sekolah kita” “ oke, kalau begitu, mulai besok kamu  boleh ikut pembinaan bersama tim olimpiade biologi sekolah kita” “ iya pak, terimakasih. kalau begitu saya permisi ke kelas kembali pak, Asalamualaikum” “iya , waalaikumsalam”

Persiapan olimpiade pun di mulai, Dytia semakin rajin belajar, karena dytia ingin sekali memenangkan olimpiade tersebut, empat jam dalam sehari Dytia meluangkan waktunya di rumah untuk belajar, tak ada nonton TV tak ada bermain, Dytia fokus pada belajarnya.

Sebulan pun telah berlalau, tiba saatnya hari perlombaan, Dytia dan tim olimpiade sekolahnya di dampingi para Pembina, berangkat menuju lokasi perlombaan. Dengan begitu percaya dirinya Dytia masuk ruangan tidak lama kemudian mulai mengerjakan soal-soal olimpiade. Kerja keras Dytia selama sebulan pun terbayar sudah, tidak disangka-sangka Dytia mejuarai Olimpiade Biologi tingkat nasional. Perasaan Dytia pun sangat bahagia apa lagi orang tuanya sangat begitu bangga pada Andytia, putri satu-satunya itu. Sejak kemenagannya itu, semangat berprestasi Dytia semakin menjadi-jadi, guru-gurunya di sekolah pun semakin percaya pada Dytia, sering sekali Dytia mengikuti berbagai perlombaan dan selalu juara, seperti juara 1 lomba cerdas cermat biologi anatar SMA se bandung raya, juara 1 lomba alat peraga biologi tingkat nasional, menjadi peserta Lomba cepat tepat biologi tingkat nansional dan masih banyak lagi prestasinya. Selama SMA Andytia banyak sekali mengantongi penghargaan. Dan itu sangat mempengaruhi kepercayaaan dirinya untuk kuliah di FK UNPAD.

Singkat cerita, Andytia pun sekarang telah menjadi siswi kelas XII, tak lama lagi dia akan mengikuti Ujian Nasional, Dytia pun mulai sibuk dengan daftar perguruan tingginya. Berhubung nilai-nilai raport Dytia begitu baik, dan banyak sekali prestasi yang diraihnya, guru BP nya mendaftarkan Dytia sebagai peserta SNMPTN Undangan sekaligus Bidik Misi. Bermodalkan nilai-nilai raport yang baik dan setumpuk sertipikat bukti prestasinya, dengan begitu percaya diri Dytia memilih jurusan Fakultas Kedokteran UNPAD sebagai pilihan pertamanya, Dytia yakin bahwa dirinya akan lolos dan bisa kuliah di FK UNPAD sesuai dengan apa yang di cita-citakannya. UN pun telah berlalau, tinggal saatnya menunggu kelulusan dan hasil SNMPTN Undangan

Namun, rencana tinggallah rencana, impian hanyalah sebuah impian, Alloh SWT lah yang menentukan nasib seseorang, Andytia Pradita lulus SMA dengan nilai yang memuaskan namun tidak lolos SNMPTN undangan. Semangat yang menggunung pun seketika lenyap, kini hanyalah sebuah cekungan dalam yang kosong tak bersisi. Impian yang dia gantungkan pun  berjatuhan tak berdaya. Serdadu kekecewaan menyerbu hati nya, menghancurkan kepercayaan, membakar kebahagiaan dan meneggelamkan harapannya. Dytia begitu terpuruk dengan kenyataan itu. Berhari-hari wajahnya murung, orang tuanaya pun bingung harus berbuat apa.

Namun Dytia adalah anak yang cerdas, sesegera mungkin dia bangkit dari keterpurukannya, menguatkan dirinya, dan mulai mengumpulkan kembali semangat suksesnya. Dytia mendaftrkan dirinya di SNMPTN tulis menggunakan no PIN Bidik Misi yang di gunakannya saat SNMPTN undangan, karena  Dytia berpikir inilah satu-satunya jalan agar dia bisa kuliah, jadi dia tidak mau gagal lagi, akhirnya Dytia memilih jurusan yang lebih rendah passing gradenya. Entah apa yang Dytia pikirkan saat itu, Dytia memilih jurusan Pendidikan Guru PAUD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Cibiru, yang sama sekali tidak terpikirkan sedikit pun sebelumnya, Dytia pun tidak tahu prospek kedepannya seperti apa, mata kuliahnya bagai mana, kampusnya pun Dytia tidak tahu.

Kembali lagi kepada Alloh SWT pemilik segala rasa. Andytia Pradita pun lolos SNMPTN tulis, Dytia  masuk di  Pendidikan guru PAUD UPI  kampus Cibiru. Saat itu Dytia merasa senang karena dapat lolos SNMPTN undangan dan dapat kuliah tanpa membebani orang tuanya, karena sampai lulus sarjana biaya kuliah di tanggung pemerintah lewat Beasiswa bidik misi, namun di celah kebahagiaannya itu tak disadari menyelinap rasa kecewa yang tiada kentara, Dytia bergumam dalam hatinya. “ya Alloh, kenapa harus PGPAUD, yang sedikit pun tak pernah ku pikirkan untuk kuliah disana, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan atas hidupku, apa ini yang terbaik untukku menurut mu?” “ ya Rahman, berikanlah rasa syukur Mu, agar ku dapat mensyukuri nikmat yang enggkau berikan padaku, berikan ku keiklasan mu agar ku dapat menerima kenyataan yang telah kau takdirkan untukku. Maafkan aku jika selama ini aku telah mengkufuri nikmatmu dan kasih sayang mu, astagfirullohaladim”

Tiga bulan perkuliahan pun telah berlalau, perlahan tapi pasti Dytia mulai enjoy kuliah di jurusan PGPAUD, prestasinya perlahan mulai terlihat, dan semangat berprestasinya telah kembali. Mungkin ini bisa di sebut tersesat di jalan yang benar, meski tak sesuai dengan apa yang diharapkan dan direncanakan Andytia, namun ini semua adalah yang benar untuk Andytia. Apa pun hasilnya, tetap syukuri dan ikhlas menerimanaya, karena itu semua mungkin yang terbaik untukmu menurut Alloh SWT.

 

~The End~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s