LBM Menulis: Bidik Misi Harapanku by Andri Wibowo (Cerpen)

harapan

Di sela-sela mau lulus SMK aku bingung untuk menentukan langkah selanjutnya, kerja atau kuliah? Awalnya aku memilih sekolah di SMK karena melihat keadaan orang tuaku yang tidak menjamin aku untuk menempuh pendidikan tinggi. Lulus langsung kerja! Dengan bulat niat aku ingin kerja setelah lulus SMK. Tapi berbeda suasana ketika ada tawaran mendaftar perguruan tinggi negeri dengan bebas biaya sepersenpun ditambah mendapat uang saku untuk biaya hidup ialah beasiswa bidik misi namanya. Diceritakan oleh guruku, tahun sebelumnya dari sekolahku meluluskan beberapa kakak kelas yang diterima di perguruan tinggi negeri dengan menerima beasiswa bidik misi. Tidak dipungkiri lagi nama mereka sering dibicarakan oleh guru-guru ketika memberi secercah motivasi kepada kami dalam menentukan langkah selanjutnya yaitu kerja atau kuliah, terutama oleh guru BK. Begitu dikenal mereka sampai salah seorang guru tahu bagaimana dengan uang saku yang didapatnya dalam pemenuhan kebutuhan kuliah. “Alhamdulillah, dengan uang limaratus ribu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya selama kuliah setiap bulannya Bu. Apa lagi saya kuliah di perguruan tinggi yang yang tempat jurusannya dekat dengan rumah saya” (ungkap Kak Sri Rahayu penerima bidik misi 2010 lulusan SMK N 1 Pemalang  ketika ditanya oleh guru matematika). Kebetulan waktu awal masuk tahun 2010 uang saku bidik misi tiap bulan adalah sebesar limaratus ribu rupiah. Sekarang kak Sri Rahayu kuliah di Universitas Negeri Semarang jurusan PGSD. Sebelumnya, waktu sekolah beliau meraih gelar juara satu Lomba Akuntansi tingkat Kabupaten Pemalang dan juara harapan satu tingkat Propinsi Jawa Tengah.

Aku menjadi penasaran dan antusias terus mencari informasi tentang bidik misi dan bagaimana cara  mendapatkannya. Aku lihat profil penerima bidik misi waktu itu. Tidak salah mereka menerima beasiswa ini karena rata-rata mereka menempati peringkat satu di kelas masing-masing. Jadi ragu melihat diriku yang hanya mendapat peringkat dua di kelas dan tidak mempunyai prestasi akademik lain. Namun untuk mendaftar bidik misi mudah bagiku karena yang dapat mendaftar saat itu adalah maksimal masuk sepuluh besar di kelas dan dari golongan keluarga yang kurang mampu. Hanya saja terkendala dengan orang tua yang menginginkan agar aku kerja setelah lulus sekolah. Begitu sulit melihat keadaan ini karena untuk mendaftarkan diri menempuh pendidikan tinggi ada pada restu orang tua. Alhasil dengan pertimbangan beberapa hari setelahnya mereka mengizinkan untukku mendaftarkan diri melalui jalur SNMPTN Undangan. Sangat senang karena dengan mendaftar dan input nilai rapor secara online saja yang diperlukan untuk diseleksi masuk perguruan tinggi negeri. Namun sayang dirasa ketika tepat tanggal 18 Mei 2011 yaitu pengumuman hasil SNMPTN Undangan aku dinyatakan belum lulus masuk perguruan tinggi dengan bidik misi. Banyak teman dekatku yang merasa kecewa termasuk mereka yang mendaftar karena di kelasku tidak ada yang lolos SNMPTN Undangan Bidik Misi. Hanya satu anak yang lolos di kelasku tapi bukan bidik misi melainkan berbayar, itupun tidak diambil karena dia lebih memilih kerja dibanding kuliah dengan biaya masuk yang mahal. Suasana haru menyelimuti kami untuk menentukan langkah selanjutnya. Ada kesempatan lagi untuk mendapatkan bidik misi pada SNMPTN Ujian Tertulis. Banyak dari mereka ragu mendaftarkan diri lagi karena pesimis dengan kemampuan dan melihat kuota bidik misi lebih sedikit dibandingkan pada SNMPTN Undangan.

Awalnya aku ragu juga untuk mendaftar bidik misi pada SNMPTN Ujian Tertulis ini tapi berkat dorongan orang tua, guru dan teman-temanku dengan modal tekat memberanikan diri aku mendaftar dengan harapan bisa lolos dan menerima beasiswa yang menjadi buah bibir teman-teman seangkatan. Aku mengikuti tes SNMPTN Ujian Tertulis di Semarang karena disanalah tempat yang paling dekat menjalankan tes, tepatnya di Universitas Diponegoro (UNDIP) Fakultas Ekonomi. Awal aku menginjakkan kaki di UNDIP entah kenapa muncul rasa kagum dan bangga jika aku lulus tes dan diterima bidik misi ini melihat tenpat tes suasana gedung kampus yang begitu megah dan elit. Kebanyakan orang-orang dari golongan mampu saja yang bisa kuliah disini. Tetap optimis untuk menjalankan seleksi tertulis. Aku memilih dua program studi pada SNMPTN Ujian Tertulis yaitu PGSD Kampus Serang, Universitas Pendidikan Indonesia dan Ilmu Hukum, Universitas Jenderal Soedirman.

Sebulan lamanya aku menunggu hasil pengumuman. Mengingat tidak sulit tes yang dikerjakan saat itu aku jadi ragu akan diterima pada hasil pengumuman. Sehingga tepat dua hari menjelang pengumuman aku memutuskan mendaftarkan diri untuk melamar kerja pada suatu industri Perseroan Terbatas (PT) di BKK sekolah. Berat bagiku jika hanya menjadi buruh pada suatu industri PT jika aku tidak lolos SNMPTN lagi. Namun apalah daya hanya Allah yang maha mentakdirkan sesuatu yang akan datang termasuk apakah nantinya aku lulus SNMPTN Ujian Tertulis atau tidak. Waktu yang dinanti telah tiba, pengumuman SNMPTN Ujian Tertulis dimajukan satu hari yaitu pada sore hari tanggal 29 Juni 2011 pukul 19.00 WIB. Besar harapan untuk lolos pada salah satu jenis seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan harus pergi ke warnet untuk melihat hasil pengumuman ini. Tiba di warnet gemetar badanku menuliskan nama beserta tanggal lahir untuk melihat hasil yang selama ini diharap-harapkan. SELAMAT, ANDA DITERIMA DI PGSD KAMPUS SERANG, UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. Gambarannya seperti itu terpampang pada layar komputer. Dengan bersyukur aku mengucap takbir dan bergegas cepat pulang memberi tahu kepada kedua orang tuaku. Namun masih ada lagi tahap selanjutnya yaitu pemeriksaan berkas layak tidaknya untuk ditetapkan sebagai mahasiswa bidik misi atau dikenal sebagai verifikasi data. Berkat kejujuran, kemauan, keseriusan, tekat, semangat serta dorongan oleh kedua orang tua aku tercantum pada surat penetapan mahasiswa baru penerima bidik misi di Universitas Pendidikan Indonesia. Merasa sangat senang dan bangga menjadi salah satu dari kurang lebih 30.000 mahasiswa penerima bidik misi tahun 2011 di seluruh perguruan tinggi negeri se-Indonesia, mengingat jauh sebelumnya aku tidak pernah berniat untuk menempuh pendidikan tinggi.

Begitulah hidup, butuh perjuangan yang keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak hanya modal kemauan akan tetapi butuh usaha untuk meraihnya. Mungkin cerita pendek di atas adalah gambaran dari sedikit pengalaman pribadiku. Pastinya teman-teman penerima bidik misi yang lain juga mempunyai cerita yang serupa perjuangannya dalam hal bagaimana meraih beasiswa bidik misi ini, atau bahkan mungkin lebih inspiratif. Banyak rintangan dimasa mendatang yang masih perlu kita benahi bagaimana menjalani dan mengatasinya agar kelak kita menjadi manusia yang mampu untuk mendapatkan keinginan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan tanpa mengabaikan selalu mengingat dan berdoa kepada Tuhan yang maha berkehendak agar segala yang diperbuat oleh kita mendapat ridho-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s