LBM Menulis: Mimpi Sulastri Jadi Mahasiswi By Gun Gun Ginanjar (Cerpen)

_Golden_Dream_Wallpaper__by_moroka323

Mimpi Sulastri Jadi Mahasiswi

Oleh : Gun Gun Ginanjar

“Ia masih selalu percaya bahwa keterbatasan bukanlah masalah yang harus terus menerus dipersoalkan. Tapi yang lebih penting adalah kemauan yang kuat, maka pasti ada jalan yang terbaik untuk bisa mencapainya.”

 

Betapa semua orang di Desa dibuat terperangah tak percaya atas nasib yang menimpa Sulastri. Anak tunggal Pak Cahyo seorang tukang becak. Sulastri yang dulu sering menjadi olok-olok warga desa, mimpi-mimpinya yang terlalu tinggi ingin menjadi mahasiswi, merasakan sekolah di perguruan tinggi dianggapnya hanya sebuah khayalan yang tak mungkin menjadi nyata. Jangankan untuk kuliah, bisa makan dan sekolah sampai SMA pun sudah alhamdulillah.

Pak cahyo ayahnya sulastri hanyalah seorang tukang becak yang hidupnya pas-pasan. Hidup menjadi orang tua tunggal semenjak sulastri berusia enam tahun. Kala itu sulastri baru duduk di kelas satu SD. Suminah ibunya, meninggal karena sakit asma yang dideritanya. Tinggalah Pak cahyo seorang diri mengurus keluarga, menggantungkan hidupnya dari hasil keringat menarik becak.

Sulastri memang gadis yang berbeda dari gadis-gadis Desa lainnya. Yang kerjaannya setiap hari hanya keluyuran tidak karuan. Sulastri justru banyak menghabiskan waktunya berteman buku, membaca buku memang kegemarannya. Tak heran dibandingkan dengan gadis Desa lainnya, Sulastri lah yang otaknya paling cemerlang.

Ini yang kedua kalinya semua warrga Desa dibuat kagum, terperangah dan seolah tak percaya. Yang iri justru lebih dominan pada nasib Sulastri yang selalu mujur.Sulastri yang berasal dari keluarga tidak mampu bisa melanjutkan sekolahnya sampai ke perguruan tinggi bersandang gelar mahasiswi.

***

Dulu ketika sulastri melanjutkan sekolahnya ke SMA pun banyak orang yang tak percaya, malah dianggapnya Sulastri tak punya rasa iba pada bapak.

Dulu ketika ia mau masuk SMA pernah ditanya seorang warga. Apa pasalnya ia mau melanjutkan sekolah ke SMA.

“sulastri, buat apa kamu ngelanjutin sekolah ke SMA segala, toh paling-paling nanti akhirnya jadi buruh pabrik juga, jadi ibu rumah tangga. mbok, ya mikirin keluarga juga, bapakmu kan cuma tukang becak mana sanggup dia biayain kamu sekolah apalagi ke SMA di kota”.

Sulatri bukannya tak punya rasa iba pada bapaknya. Bukan ingin membebani bapaknya, sibuk untuk memikirkan biaya sekolahnya. Ia hanya ingin merubah nasib keluarga. Tak ingin tetap hidup di bawah garis kemiskinan seperti semua warga di Desanya. Tabiatnya memang kuat, ia hanya punya cita-cita dan keinginan merubah keadaan keluarga. Cemooh dan gunjingan warga pun tak pernah didengarnya, ia tetap teguh pada keinginnya.

Semua orang mungkin mengangap Sulastri nekad. Mau seperti apa jadinya ia. Pergi sekolah ke kota memakan biaya berjuta-juta. Sedangkan ia dari keluarga tak berada. Mau makan saja terkadang minta-minta tetangga. Hanya jadi beban pikiran bapaknya saja.

Dari sekian banyak anak gadis di Desa, dulu memang hanya Sulastri yang punya keinginan melanjutkan sekolahnya ke SMA. Kebanyakan anak gadis di Desa hanya bisa sekolah sampai ke SMP saja, begitu pun dengan pemuda di sana. Masalah biaya jadi kendala. Seperti tak ada perubahan, dari masa ke masa setiap warga Desa pasti tak pernah bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Lagi-lagi terbentur masalah biaya. Sekolah SMA di kota pasti butuh biaya berjuta-juta.

Nasib anak Desa, setelah lulus SMP hanya bisa bekerja di pabrik atau paling tidak untuk gadis Desa langsung menikah atau dinikahkan keluarganya, lantas dibawa suaminya merantau entah kemana.

Sulastri memang tak seperti gadis Desa lainnya, juga tak seperti anggapan warga di Desanya. Sulastri memang selalu punya mimpi dan selalu berbeda dari yang lainnya. Ia selalu percaya pada semua mimpi-mimpinya. Sekolah bukan hanya soal keterbatasan biaya, tapi juga kemauan yang keras. Asalkan punya niat yang kuat, pasti ada jalan untuk mencapainya. Ia selalu percaya hal itu.

Kemauan keras Sulastri akhirnya berbuah manis juga. Sulastri diterima sekolah di SMA, tanpa mengeluarkan biaya pula. Ia dapat beasiswa. Cukup sudah itu semua membuat bungkam mulut-mulut warga Desa yang selama ini tak pernah percaya mimpi-mimpinya. Meski tetap saja cemooh yang yang selalu ia dapat. Untuk apa pula anak gadis tinggi-tinggi sekolahnya. Akhirnya nanti cuma ngurus rumah tangga juga. Dan tak mungkin juga ia bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Bapaknya hanya seorang tukang becak.

“eh sulastri, anak gadis itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya nanti paling cuma jadi ibu rumah tangga juga. Mau melanjutkan kuliah pun gak mungkin juga, biaya dari mana. Gak ada bedanya kamu yang sekolah sampai SMA sama anak gadis lain yang sekolahnya sampai SMP, ujung-ujungnya Cuma ngurus keluarga”. Cemooh seorang ibu-ibu desa.

Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Dasar Sulastri anak yang bebal. Cemoohan itu tak membuatnya menghapus semua mimipi-mimpinya. Ingin jadi mahasiswi dan merubah nasib keluarga. Sekolah SMA pun dijalaninya sampai luluslah dia menjadi siswa paling berprestasi disekolahnya. Siswa dengan lulusan terbaik se-kota.

***

Setelah lulus SMA cemooh dan gunjingan tak pernah berhenti menimpa Sulastri. Pasalnya mimpi-mimpi Sulastri untuk melanjutkan kuliah dan bersandang gelar mahasiswi masih saja dianggap konyol dan tak rasional.

“sulatri, sudahlah jangan membebani bapakmu lagi. Biaya kuliah itu bisa berjuta-juta. Dari manalah bapakmu membayar biaya itu”. Ucap seorang ibu-ibu warga.

“saya bukan mau membebani bapak bu, saya hanya ingin kuliah saja itu cita-cita saya”.

“iya, tapi bapakmu punya uang dari mana?kasihanlah bapakmu”.

“bagi saya sekolah bukan hanya soal uang bu, bukan hanya soal biaya, tapi kemauan juga”.

“yasudahlah sekarepmu. Aku mbok ya nasehatin aja. Anak Desa ko mimpinya kuliah. Mbok ya  kerja saja membantu orang tua”.

Lagi-lagi Sulastri tak pernah peduli semua gunjingan dan cemoohan warga Desa. Satu hal yang selalu ia percaya bahwa dirinya juga punya hak untuk mendapat pendidikan, punya hak untuk sekolah.

Ia juga selalu yakin pada mimpi-mimpinya. Melanjutkan kuliah dan menjadi seorangmahasiswi, ia yakin juga bisa merubah nasib keluarga. Membahagiakan Bapaknya.

***

Hari-hari berlalu. Minggu ke minggu pun bersambut terangkai menjadi bulan. Setelah pengumuman kelulusan SMA kerja Sulastri hanya menunggu. Berbeda dengan teman-teman SMA nya yang lain yang masih sibuk mengurus SPMB ke beberapa perguruan tinggi. Apa daya Sulastri tak kuasa melakukan itu. Melihat biaya SPMB cukup sudah membuatnya merana. Hanya berbekal gelar siswa berprestasi se-kota dan juga rekomendasi dari sekolahnya, kini ia hanya bisa menunggu keputusan bisa melanjutkan sekolah atau tidak. Hanya itu pengharapan satu-satunya.

Hari demi hari topik pembicaraan ibu-ibu di Desa pun tak berganti. Masih hangat membicarakan Sulastri. Masih terheran-heran, akan kerasnya kemauan Sulastri untuk melanjutkan kuliah. Tak sedikitpun ia memikirnya Bapaknya, terbebani karena kemauan keras anaknya untuk melanjutkan kuliah. Biaya dari manalah. Pak Cahyo yang hanya tukang becak.

Dibanding-bandingkanlah ia dengan gadis-gadis Desa lainnya. Yang sebagian sudah hidup berkeluarga. Ada yang sudah menimang anak pula. Meski tak bisa memberi pada orang tua, tapi tak lagi jadi beban penanggungan orang tua. Lihatlah Sulastri kini, setiap hari hanya terlunta-lunta tak jelas juntrungannya. Mau kuliah tapi tak ada biaya. Kasihanlah Bapaknya memikirkannya.

“emangnya sulastri mau melanjutkan sekolah lagi bu sum?” Celetuk salah seorang ibu-ibu desa bertanya pada seorang ibu-ibu bernama sumirah

“iyaa..katanya mau kuliah, mau jadi mahasiswa..” jawab bu sumirah

“halah…biaya dari mana dia mau kuliah segala…” timpal ibu-ibu lainnya.

Kenapa Sulastri tak menikah saja. Bereslah semuanya. Tak lagi jadi pikiran bapaknya.” celetuk ibu-ibu lainnya menimpali.

Sempurna sudah hari-hari Sulastri belakangan jadi topik hangat pembicaraan ibu-ibu di Desa. Dianggapnya Sulastri punya cita-cita yang tak rasional. Tak mengukur, tak menimbang keadaan keluarga.

***

Bukan Sulastri kalau ia tak teguh pada pendiriannya. Cemooh dan gunjingan warga hanya dianggapnya angin lalu saja. Pembicaraan kenapa ia tak menikah saja tak membuatnya goyah pendirian. Cita-citanya tetap teguh, ingin kuliah menjadi mahasiswi dan merubah nasib keluarga. Sesederhana itu saja cita-cita Sulastri.

Keteguhannya akhirnya membuahkan hasil. Mimpinya kuliah menjadi mahasiswi kini sudah di depan mata. Ia diterima perguruan tinggi negeridi Bandung. Tanpa mengeluarkan biaya pula. Ia dapat beasiswa lagi. Beasiswa BIDIK MISI. Program beasiswa KEMENDIKBUD yang diperuntukan untuk anak-anak yang kurang mampu namun berprestasi dan punya keinginan untuk melanjutkan sekolah. Mimpi-mimpi Sulastri memang tak pernah salah. Kini ia bisa tersenyum bahagia bersandang status seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri.

Lain halnya dengan warga Desa yang lagi-lagi mulutnya kini terbungkam dengan kemujuran Sulastri. Mimpinya yang menjadi nyata cukup sudah membuat mereka terdiam. Sulastri anak Desa pergi ke kota, duduk sekolah di perguruan tinggi dengan bersandang gelar mahasiswi.

Tak hanya itu saja. Gratis biaya kuliah di gaji pula ia. Setiap bulan punya tunjangan untuk hidup. Tak lagi jadi beban Bapaknya. Bahkan kini ia yang menjadi tulang punggung keluarga. Pasalnya baru enam bulan ia duduk kuliah sudah bisa mencari penghasilan dari mengajar di Lembaga Bimbingan Belajar. Uang bisa ia sisihkan untuk menghidupi keluarga.

Semakin terbungkam mulu-mulut warga desa yang selama ini mencemoohnya selalu menjadi beban pikiran Bapaknya. Sulastri kini bisa berbahagia. Mimpinya melanjutkan kuliah menjadi seorangMahasiswi dan merubah nasib keluarga bisa terwujud karena beasiswa BIDIK MISI yang diterimanya. Dan Ia masih selalu percaya bahwa untuk bisa sekolah, keterbatasan biaya bukanlah masalah yang harus terus menerus dipersoalkan. Tapi yang lebih penting adalah kemauan yang kuat, maka pasti ada jalan yang terbaik untuk bisa mencapainya.

 

 

Bandung, 21 Desember 2012

Gun Gun Ginanjar “gheenan”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s