LBM Menulis: BEASISWA ‘TUK GELAR SARJANA By Lina Agustina (Cerpen)

sarjana

Setelah lulus SMA aku tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi negeri. Seperti pepatah “jauh panggang dari api” sangat jauh harapan itu terwujud. Melihat latar belakang pendidikan keluargaku belum pernah ada yang sampai melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lalu ku ceritakan tentang masalah ini ke guru tersdekat ku di sekolah yaitu bu Lilis Rosmanah.

“ Bu,apakah saya tetap harus melanjutkan studi ke perguruan tinggi?” Tanya ku. Kemudian bu Lilis dengan penuh kasih sayang memberikan nasihat yang tak terlupakan hingga saat ini. “ Jika kamu ingin berhasil maka pendidikanlah yang terlebih dahulu kamu raih.” Kata-kata itu telah memberikan tantangan besar bagi ku.

Memang pada zaman sekarang ini hampir semua orang berkata “Uang-uang”. Semua hal tak bisa dilakukan tanpa uang begitu juga dengan sekolah. Sore itu,jam empat sore aku pulang ke rumah. Seperti biasa setelah sampai ke rumah aku solat dan setelah itu membereskan pekerjaan dirumah yang belum sempat ibu kerjakan.

Tak seperti biasanya ibu memanggilku tuk bincang-bincang. “Bagaimana dengan sekolah mu Neng?” Tanya ibu. “Ya baik-baik aja bu. Tapi bagaimana dengan rencananya untuk berkuliah bu?”. Lalu ibu terdiam tak bersuara atau tanpa memberikan respon sedikitpun. Aku langsung berpaling dan mengakhiri pembicaraan itu.

Seminggu yang lalu telah diumumkanya hasil UN. Alhamdulillah dengan hasil yang memuaskan. Kemudian dengan gembira ku kabarkan hal bahagia ini ke ibu. “Bu aku lulus dengan nilai terbaik disekolah.” Dengan wajah yang tanpa ekspresi ibu hanya menjawab,” ya syukurlah”. Hal itu yang membuatku semakin putus asa untuk melanjutkan sekolah.

Padahal impianku adalah ingin melanjutkan sekolah ke UPI jurusan pendidikan kewarganegaraan. Aku sangat yakin dengan pilihanku itu. Tapi hanya impian belaka. Bisa ku bayangkan betapa mahalnya biaya hidup sehari-hari di Bandung dengan biaya kuliah yang melambung.

Kuliah-kuliah!!! Itulah yang ada di benakku. Hingga larut malam ku hanya memikirkan itu. Tiba pukul 2 malam,akhirnya aku solat malam dengan harapan semoga Alloh memberikan petunjuk yang terbaik.

Esok harinya,pagi gulita sekitar jam 5 subuh bu Erat guru BK di sekolah ku menelpon. “Lina,nanti jam 7 kamu kesekolah. Ada informasi mengenai beasiswa bidik misi ke UPI. Subhanalloh dengan bahagianya sampai-sampai aku menjerit. Betapa senangnya impian yang selama ini ku damba-dambakan ada jalan untuk menujunya.

Singkat cerita aku mengikuti penjaringan beasiswa itu dan dengan hasil yang baik pula aku diterima di Universitas Pendidikan Indonesia. Tanpa pikir panjang,aku langsung mendesak ibu agar memberikan izinnya.

“ Bu,tolong ijinkan Neng ya untuk kuliah di Bandung. Ini kesempatan emas bu. Selain nantinya dapat pengalaman juga dapat uang bulanan dari beasiswa.” Seperti biasa ibu hanya terdiam. Aku heran,kenapa ibu selalu berubah sikapnya ketika mendengan kata “kuliah”. Apakah memang ibu tidak mendukungku? Atau rasa khawatir yang berlebihan? Entahlah,ku tak tahu.

Ku coba meyakinkan ibu, “Bu tenang saja mudah-mudahan aku di terima di UPI dengan mendapatkan beasiswa bidik misi.” Namun, ibu tetap saja diam. Ku tahu mungkin pendidikan itu mahal demi mendapatkan sebuah gelar sarjana dan mendapatkan pendidikan. Orang kampung seperti saya ini tipis harapan dapat berkuliah. Uang beasiswa yang di janjikan 600 ribu/bulan itulah salah satu yang ku andalkan. Melihat kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan membuat aku pesimis. Itulah yang ada di pikiran benakku.

Satu jam kemudian,Ibu angkat bicara. “Ya ibu mengijinkan,tapi jaga baik-baik ya nanti diasana dan jangan lupa Shalat.” Dengan rasa bahagia aku langsung merangkul ibu dan menangis karna bahagia. Momen-momen yang terindah selama hidupku ini adalah memeluk ibu.

Akhirnya ku langkahkan kaki ini untuk pergi ke Bandung. Setelah sampai dikampus harapan yaitu UPI ku pijakkan kaki ku diikuti dengan ucapan bismillah. Semoga dengan diterimanya aku di UPI ini sebagai pembuka gerbang kesuksesan dalam meraih cita-cita. Jalan menuju impianku memang sudah ditakdirkan oleh Alloh. Mudah-mudahan ini menjadi jalan yang terbaik bagi hidupku.

Insya alloh sekuat tenaga dan kemampuannku,akan ku banggakan orang tua . Doa ibu akan selalu tercurahkan demi terwujudnya cita-cita ku. Menjadi dosen PKn adalah impianku. Doa dan ikhtiar adalah kunci kesuksesan.

Tiga bulan telah berlalu. Aku mengikuti kegiatan belajar di kampus. Uang beasiswa bidik misi yang dijanjikan per bulan 600 ribu sampai saat itu belum kunjung turun. Betapa sulitnya hidup bertahan di kota besar seperti Bandung. Himpitan ekonomi yang begitu sarat. Sejenak ku berpikir “Apakah aku harus meminta uang dari ibu?”. Tak mungkin.

Akhirnya sekian lama perjalanan di UPI aku bersama rekan-rekan mengunjungi BAAK untuk mempertanyakan kapan uang beasiswa itu ada. Namun, hasilnya nihil, “Lagi di proses”,katanya. Hal itu membuatku sedih. Kritikan dan komentarpun aku utarakan di jejaring sosial Facebook. Seperti sebuah puisi ini.

Assalammualaikum,

Puisi yang saya buat ini ku persembahkan bagi rekan-rekan saya yang khususnya belum mendapatkan uang beasiswa sebagai haknya “Semoga diberikan ketabahan”. Ini hanyalah sebuah apresiasi dengan tidak mengurangi rasa hormat.

TANDA TANYA ???

Kutinggalkan perkampungan

Dengan sertaan doa dari orang tua

Hanya untuk menggapai asa di kampus tercinta ku ini

 

Modal akal

Itulah yang ku andalkan

Demi mendapatkan secarik uang kertas

Demi mendapatkan uluran tangan dari sang penguasa

 

 

Janji kini hanyalah janji

Harapan yang tak kunjung padam

Penantian yang tiada akhir

Jeritan hati hanya ku utarakan kepadaMu ya Rabb

 

Kata orang adil itu indah

Sejahtera adalah tujuannya

Tapi aku bertanya-tanya???

Apakah adil itu memang ada

Atau hanya Simbol Belaka?

 

Hidup di itu penuh tantangan

Bak ombak menabrak karang yang begitu keras

Biaya hidup yang tak bisa terbendung lagi

Kini kuliahpun jadi pertaruhan

 

Mungkin itu hanya sedikit apresiasi puisi yang aku buat. Dan hasilnya puisi itu banyak mendapatkan repon. Memang secarik uang kertas itu bagi saya sangat di butuhkan. Sabar itulah yang mungkin bisa saya lakukan dan doa. Hingga pada akhirnya tanggal 20 Desember 2012 uang bidik misi pun ada. Terimakasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s