LBM Menulis: Ketika Pegumuman SNMPTN di Depan Mata by Rere Anisah Nur Shabrina (Cerpen)

lilin3

Kini aku sudah duduk dibangku kelas 3 SMA. Aku mulai memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan, sedangkan keadaan kedua orang tuaku tidak mampu membiayai aku untuk melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan.

Setiap hari aku berusaha mencari informasi dan selalu berkonsultasi keguru BK, supaya aku tetap bisa melanjutkan kebangku perkuliahan dengan beasiswa dan tidak membebani kedua orang tuaku lagi. Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku bangga karena anaknya bisa melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan. Aku selalu berdoa kepada Allah agar semua keinginanku bisa terwujud, sehingga aku bisa membuat kedua orang tuaku bangga, amin.

Berbagai tes keperguruan tinggi negeri pun selalu aku ikuti dan aku selalu berharap agar aku tetap bisa melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan dengan beasiswa, dan sampai akhirnya aku diterima di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Tetapi bukan berita gembira yang aku dapat, melainkan bisa di bilang berita itu berita buruk buatku.

Pada awalnya aku mengikuti tes perguruan tinggi itu karena apabila aku lulus dari tes itu, aku akan mendapatkan beasiswa dari awal perkuliahan sampai aku lulus nanti dan mendapatkan uang saku setiap bulannya. Tetapi pada kenyataannya setelah aku lulus tes itu, aku hanya mendapatkan beasiswa sebesar 50%. Dan itu artinya aku harus membayar uang sisanya yaitu sebesar 9juta persemesternya, “ya Allah harus mendapatkan uang 9 juta dari mana? Sedangkan aku tidak mungkin meminta kepada kedua orang tuaku. Aku tidak mau membuat mereka bersedih dan memikirkan untuk mendapatkan uang sebanyak itu?”.

Akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk tidak mengambil beasiswaku di perguruan tinggi swasta itu. Tetapi aku tidak pantang menyerah dan terus berusaha mencari peluang untuk mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi negeri lainnya, agar aku bisa duduk di bangku perkuliahan.

Sampai akhirnya pendaftaran SNMPTN tulis pun dibuka, jalan ku tetap tidak mudah. Karena ada saja salah satu dari temanku tidak mau memberikan informasi kepadaku dan teman-temanku yang lainnya, bahwa ada jalur Bidik Misi dalam SNMPTN tulis itu. Tetapi Allah berkata lain. Disaat aku ingin membayar uang pendaftaran buat SNMPTN tulis, guruku memberitahukanku bahwa ada jalur Bidik Misi dalam pendaftaran SNMPTN tulis itu.

Aku memutuskan untuk mengambil jalur Bidik Misi itu dan berharap aku bisa menerima Bidik Misi itu dan bisa melanjutkan keperguruan tinggi yang aku inginkan, sehingga aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku.

Dalam mendaftarkan pendaftaran SNMPTN tulis melalui jalur Bidik Misi itu pun tidak mudah. Karena pada saat itu aku dan temanku benar-benar diburu waktu, untuk tetap membayar uang pendaftaran SNMPTN tulis agar mendapatkan nomor formulir ke bank. Sedangkan saat itu bank sudah tutup, tetapi akhirnya aku dan temanku diperbolehkan masuk sehigga aku bisa membayarkan uang pendaftaran SNMPTN tulis itu.

Keesokan harinya perjuanganku terus berlanjut, karena dalam mendaftarkan SNMPTN tulis itu harus dikoordinasi melalui sekolah. Dan aku harus mengantri, agar mendapat giliran supaya aku bisa mendaftarkan SNMPTN tulis melalui jalur Bidik Misi.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, dimana tes SNMPTN tulis dilaksanakan. Saat mengerjakan soal-soal SNMPTN tulis itu jujur aku sangat gugup dan panik, karena aku takut apabila aku salah mengerjakan kesempatanku untuk melanjutkan keperguruan tinggi tahun ini akan gagal.

Dalam mengerjakan soal-soal aku hanya meminta kepada Allah agar dipermudah semuanya dan aku bisa lulus dalam tes ini, sehingga aku bisa melanjutkan keperguruan tinggi.

Setelah tes SNMPTN tulis selesai, setiap hari aku selalu memikirkan gimana hasilnya dan apakah aku akan lulus atau tidak dalam tes itu. Tetapi ke gelisahaku tidak pernah aku perlihatkan didepan kedua orang tuaku, karena aku tau mereka juga akan panik dan gelisah kalau merlihat aku lebih panik lagi dalam menunggu pengumuman tes SNMPTN tulis itu. Maka dari itu aku selalu terlihat tenang didepan mereka, tetapi sebenarnya aku merasakan kepanikan yang sama seperti yang mereka rasakan.

Keputusanku untuk melanjutkan keperguruan tinggi tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan, karena saudara-saudara dari papaku menganggap aku hanya memaksakan diri sendiri dan tidak memikirkan keadaan keuangan keluargaku. Mereka juga mulai takut ketika aku dan kedua orang tuaku main kerumah mereka, karena mereka beranggapan kedua orang tuaku akan meminjam uang kepada mereka untuk biaya aku kuliah nanti. Dan tatapan mata mereka selalu memandang sebelah mata keadaan keluargaku .

Setelah apa yang aku alami, aku semakin ingin menunjukkan kesaudara-saudara dari papaku kalau aku bisa duduk dibangku perkuliahan dengan beasiswa dan tanpa membebani siapapun. Walaupun papaku hanya seorang supir di perusahaan air dan mamaku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi aku yakin dengan dukungan dan doa mereka selama ini mereka bisa membawa aku berhasil nantinya.

Hari yang selalu aku tunggu-tunggu pun tiba dimana hari itu adalah hari pengumuman lulus SNMPTN tulis. Saat itu hatiku benar-benar tidak karuan apakah aku lulus atau tidak dalam tes SNMPTN tulis kemarin. Aku benar-benar panik, akhirnya aku dan mama pergi ke warnet untuk melihat pengumuman itu. Setelah aku membuka hasil SNMPTN tulis itu, Alhamdullilah aku lulus dan keterima di UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU JURUSAN PGPAUD. Aku sangat senang dan bersyukur kepada Allah karena telah mewujudkan semua doa-doaku selama ini.

Keesokan harinya aku mendapakan kabar yang membuat aku binggung, karena ternyata pengumuman untuk yang menerima Bidik Misi belum keluar. Dan apabila aku tidak menerima Bidik Misi itu maka aku harus membayar uang masuk sebesarRP. 10.565.000,-. “Ya Allah semahal itukah biaya masuk untuk aku bisa melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan??”. Saat itu aku benar-benar putus asa dan satu-satunya harapanku hanya dengan pengumuman Bidik Misi itu.

Aku terus berdoa kepada Allah agar aku bisa menerima Bidik Misi itu,”Ya Allah aku harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana? Aku enggk mau bikin mama sama papa pusing lagi. Ya Allah bantu aku supaya aku bisa menerima Bidik Misi itu sehingga aku tetap bisa kuliah dan tidak ngerepotin mama papa lagi, aku mohon ya Allah kabulkan permohonanku ini. Amin ”

Hari pengumuman penerimaan Bidik Misi pun akhirnya datang juga, saat itu aku benar-benar panik karena hari ini hari penentuan aku keterima bidik misi atau tidak. Hari ini juga hari penentuan buatku, aku akan bisa melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan atau tidak ??

Detik-detik pengumuman penerimaan Bidik Misi pun tiba, dan ternyata alhamdullilah aku lolos verifikasi data Beasiswa BIDIK MISI di UPI dengan jurusan PGPAUD KAMPUS CIBIRU. Berita itu benar-benar berita yang mengembirakan buat aku dan kedua orang tuaku, karena akhirnya aku bisa melanjutkan kebangku perkuliahan tanpa biaya apapun dan setiap bulannya aku mendapatkan uang saku.

Aku benar-benar senang dan tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT, karena telah mengabulkan semua doa-doa aku dan kedua orang tuaku selama ini. Akhirnya aku bisa kuliah dan aku bisa menunjukkan kesaudara-saudara papa kalau aku bisa kuliah tanpa bantuan mereka. Dan itu semua berkat doa dan dukungan dari kedua orang tuaku, sampai-sampai aku bisa kuliah tanpa biaya apapun dan aku mendapatkan uang saku setiap bulannya.

 

“Kejarlah mimpimu setinggi langit, karena jika kita mempunyai kemauan dan kerja keras kita akan meraih Impian kita”.

 

Catatan:

Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati teman-teman, karena saya hanya ingin mencurahkan pengalaman pribadi saya dan mudah-mudahan teman-teman terinspirasi degan cerita diatas.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s